Sasuke mengelap peluh yang sejak tadi membanjiri tubuhnya. Cuaca siang ini terasa lebih panas disbanding biasanya dan ia merasa tenaganya seolah tersedot. Bahkan mayoritas pengikut Yashamaru yang merupakan penduduk asli wilayah kerajaan Suna juga tampak merasa kepanasan. Mereka bakan bergerak lebih lambat dibandingkan biasanya.
Tatapan Sasuke tertuju pada Yashamaru yang juga mengelap peluh yang mengalir di dahinya. Beberapa pengawal yang berada di sampingnya seketika mengeluarkan kipas dan berusaha mengipasi Yashamaru, sedangkan Sasuke hanya diam saja, membuat dirinya menjadi sasaran dari tatapan tajam pengawal-pengawal itu.
Seakan mampu membaca situasi, Yashamaru segera berkata, "Tidak perlu mengipasiku. Simpanlah tenaga kalian."
Para pengawal yang mengipasi Yashamaru itu menatap dengan ragu untuk sesaat. Namun ketika bertemu pandang dengan pemimpin mereka yang menganggukan kepala, mereka segera memasukkan kembali kipas yang mereka bawa kedalam kantung kulit yang dipasang pada kuda mereka.
Yashamaru menoleh pada lelaki berambut panjang terikat yang berada tepat di sampingnya. Setiap kali menatap lelaki itu membuat Yashamaru bertanya-tanya mengenai wajah Sasuke dibalik topeng yang menutupi setengah wajahnya.
"Bagaimana kondisi di sekitar, Itachi-san?"
Tak ada jawaban. Seketika iris hitam Itachi berubah menjadi semerah darah dan membuat Yashamaru menundukkan kepala secara refleks. Mata itu terlihat indah dan menakjubkan, namun sekaligus membuatnya takut entah kenapa.
Sasuke yang berada tak jauh dari Itachi seketika menatap kearah lelaki itu begitu mendengar permintaan Yashamaru. Dalam hati ia merasa heran dengan tingkah lelaki itu yang aneh.
Berkat sharingan yang dimiliki Sasuke dan Itachi, Yashamaru menjadikan mereka sebagai penunjuk jalan sekaligus pemandu Yashamaru untuk menentukan strategi. Sebetulnya Yashamaru meminta Sasuke dan Itachi bergantian menggunakan kemampuan mata mereka, namun entah kenapa Itachi malah dengan sukarela melakukan pengecekan akan kondisi sekitar dengan sharingan setiap dua puluh menit sekali atau paling lama tiga puluh menit sekali tanpa diminta Yashamaru.
Sasuke merasa heran dengan alasan Itachi yang seolah membuang-buang energy dengan melakukan hal yang sebetulnya tidak perlu dilakukannya sendirian. Apakah lelaki itu sedang berusaha melakukan hal konyol? Atau memang memiliki chakra yang sangat besar atau bahkan tak terbatas sehingga bisa dengan santai menggunakan sharingan terus menerus.
Kini Sasuke merasa agak takut meski sejak tadi raut wajahnya tak berubah sama sekali. Bagaimana jika Itachi benar-benar memiliki chakra yang sangat besar atau bahkan tak terbatas? Meski terdengar mustahil, faktanya hal itu mungkin saja terjadi.
Itachi tak kunjung menjawab, membuat Sasuke pada akhirnya merasa penasaran dan mau tak mau menatap wajah bajingan itu. Wajah Itachi tampak berbeda dibadingkan biasanya. Sasuke menyadari jika lelaki itu tampak terkejut.
Tanpa menunggu ucapan bajingan itu, Sasuke segera mengaktifkan sharingan nya dan mendapati pemandangan di kejauhan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tidak merasa ketakutan. Selama ini ia tak pernah merasakan ketakutan dalam peperangan. Ia bahkan tak peduli sekalipun pedang menembus tubuhnya. Namun kali ini ia merasa takut jika sesuatu terjadi pada Naruto, sang kekasih yang dicintainya.
"Itachi-san, Taiko-san, ada apa?" ucap Yashamaru dengan tenang meskipun sebetulnya ia merasa khawatir.
Sasuke masih terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar ketakutan hingga tubuhnya agak bergetar tanpa ia sadari. Ia merasa ngeri dan takut jika seandainya ia tak bisa melindungi Naruto.
Menyadari Sasuke yang tak kunjung bicara, Itachi segera berkata, "Puluhan pasukan infnteri dan berkuda yang memakai atribut kerajaan akan tiba dalam tiga puluh menit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kill The Assassin
FanfictionUzumaki Naruto adalah putra seorang daimyo yang harus menyaksikan pembantaian keluarga nya sendiri di suatu sore. Pertemuan nya dengan Uchiha Sasuke yang merupakan pembunuh keluarga nya membuatnya hendak membunuh pria itu dan berakhir dengan mengiku...
