Season 2 : Part 10

1K 125 9
                                        

Malam di kota perbatasan antara kerajaan Suna dan Hyuuga terasa begitu dingin, bahkan jauh lebih dingin dibandingkan biasanya. Para penjaga yang biasanya berjaga sambil berpatroli berkeliling kota di malam hari kini memilih berada di dalam kediaman masing-masing dan menghangatkan tubuh mereka. Hanya ada beberapa penjaga yang terpaksa berjaga di luar, itupun bergantian setiap dua jam sekali meski seharusnya tidak ada pergantian penjaga selama shift yang ditentukan.

Beberapa orang berjalan di sekitar jalanan menuju kediaman penjaga, membuat beberapa penjaga yang kebetulan melihat mereka mengernyitkan dahi, tak mengerti bagaimana bisa ada beberapa laki-laki dewasa yang tak direkrut untuk menjadi bagian dari militer.

"Mereka ini bangsawan?" bisik salah seorang penjaga pada rekannya yang sedang berjaga.

Melihat kehadiran beberapa orang di jalan, penjaga itu segera mengeluarkan pedangnya, membuat sang rekan yang berbisik padanya terkejut. Belum sempat rekan penjaga itu berkata apapun, sang penjaga itu segera menusuk jantung rekannya hingga darah mengucur membasahi pakaian sang rekan dan rekan penjaga itu segera menyentuh dadanya serta meringis kesakitan.

Penjaga itu segera mencabut pedang yang telah berlumuran darah amis nan lengket dengan cepat dan membuat tubuh sang rekan segera terkulai diatas tanah.

Beberapa penjaga secara serempak menusukkan pedang pada beberapa rekan mereka ketika mereka melihat kedatangan beberapa orang yang merupakan pendukung Yashamaru. Hal yang mereka lakukan saat ini merupakan bagian dari rencana yang telah disusun. Mayoritas pendukung Yashamaru merupakan para penjaga, dan untuk mempermudah pergerakan mereka pada awalnya, mereka akan 'berkhianat' dengan secepat mungkin menghabisi rekan sesama penjaga yang bukan merupakan pendukung Yashamaru serta membakar kediaman mereka untuk menghilangkan bukti.

Menurut rencana, pada tahap awal 'pemberontakan' akan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yaitu dengan menghabisi musuh secara diam-diam. Jika pihak kerajaan sudah merasa curiga, dan mulai meningkatkan kewaspadaan, maka akan diadakan serangan mendadak secara serempak untuk mengacaukan situasi dan membuat raja sementara kesulitan untuk mengatur strategi dengan matang.

Salah satu penjaga berjalan masuk ke dalam kediaman mereka dengan langkah perlahan dan mengerakkan jari-jarinya secara horizontal di depan shoji hingga membentuk siluet bayangan, memberi kode pada rekan yang sedang berada di kamar tidur.

Secara serempak penjaga yang berada di ruang istirahat menghabisi rekan-rekan mereka yang berada di pihak kerajaan dengan cepat sebelum sang rekan sempat melawan, seolah telah kehilangan seluruh nurani mereka hingga tak merasakan keraguan sedetikpun. Salah seorang penjaga yang berada di dalam ruang istirahat segera menyalakan api dan membakar shoji di ruang istirahat setelah seluruh target tewas dengan tujuan menyamarkannya sebagai kebakaran.


.

.


Jantung Sasuke terasa benar-benar sesak. Emosi benar-benar menguasai dirinya dan membuatnya sulit berkonsentrasi. Bayangkan saja, selama beberapa hari ia harus melakukan perjalan bersama lelaki bajingan yang telah menghancurkan hidupnya. Dan kini lelaki itu bahkan berjarak kurang dari dua puluh meter darinya.

Hal itu bahkan diperparah dengan sang lelaki bajingan yang menatap kearahnya setiap beberapa menit sekali, membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Sasuke pun agak kesulitan karena ia harus memalingkan wajah karena setiap ia melihat ke sisi kiri, ia akan melihat sosok lelaki bajingan itu.

Sasuke menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia belum melihat lelaki bajingan itu menggunakan kekuatannya sekalipun. Bahkan lelaki itu belum menarik pedangnya sama sekali dalam dua hari.

Kill The AssassinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang