Season 2 Part 9

1.1K 142 14
                                        

Sasuke memicingkan matanya seraya menatap tebing-tebing yang mengelilingi kota. Cahaya matahari yang terik dan menyilaukan ditambah dengan temperatur yang panas di siang hari serta udara yang kering membuatnya merasa lebih cepat lelah dibandingkan biasanya.

Kerajaan Suna terletak di daerah yang memiliki tanah tandus. Bahkan terdapat gurun-gurun pasir di beberapa bagian. Kondisi ekonomi rakyat di kerajaan Suna sepertinya tidak terlalu bagus, terlihat dari pakaian dan kondisi kota. Cukup banyak rumah penduduk terbuat dari kayu dengan atap jerami yang dibuat dengan sederhana dan tampak tidak terlalu kokoh. Bahkan beberapa anak-anak terlihat sangat kurus.

Sejak tadi Sasuke terus menerus menatap sekeliling, memastikan jika tak ada orang yang mengawasi mereka. Ia merasa perlu ekstra berhati-hati setiap melewati daerah miskin.

Naruto meringis ketika ia melewati jalanan yang dibangun dengan baik, namun para penduduknya hidup dalam kemiskinan. Sudah tak terhitung berapa kali Naruto berpapasan dengan orang berpakaian lusuh atau anak-anak bertubuh sangat kurus hingga menyisakan kulit dan tulang.

"Kota macam apa ini?" bisik Naruto dengan suara pelan.

Sasuke mengendikkan bahunya. Ia benar-benar tak habis pikir, harga emas sangat tinggi di kerajaan lain. Seharusnya kerajaan Suna yang memiliki wilayah penghasil emas akan menjadi kerajaan yang makmur. Namun anehnya rata-rata penduduk yang ditemui Sasuke tampaknya hidup dibawah garis kemiskinan

Yang lebih mengherankan, tampaknya mayoritas penduduk di kota ini adalah anak-anak yang belum melalui masa puber, orang tua dan wanita. Satu-satunya pria dewasa yang ditemui Naruto dan Sasuke di kota ini adalah para prajurit.

Iris onyx Sasuke terbelalak ketika ia mendapati seorang wanita berambut acak-acakan dengan pakaian lusuh berlari menghampirinya dengan membawa sebongkah batu yang dipeluknya bagaikan memeluk bayi.

Sasuke meletakkan tangannya di pegangan pedangnya, bersiap menyerang wanita itu. Namun wanita itu langsung menjerit, "Suamiku! Aku merindukanmu."

"T-teme?" Naruto mengernyitkan dahi dan menatap Sasuke dan wanita itu dengan tatapan bergantian. Mustahil jika Sasuke adalah suami wanita itu.

"A-"

Sasuke membelalakan mata saat wanita itu tiba-tiba memeluknya dengan erat hingga ia hampir terjungkal dan menangis tersedu-sedu di dadanya.

"Aku bukan suamimu," ujar Sasuke pada wanita itu. Bulu kuduknya merinding, ia merasa risih dengan wanita itu.

Namun wanita itu seolah tidak mendengarkan ucapan Sasuke dan kini mulai meracau tidak jelas.

Wanita itu tiba-tiba berlutut dihadapan Sasuke sambil menangis dan menyentuh kaki Sasuke, "Suamiku, maafkan aku. Ketika kau pergi, para tentara bajingan itu mencabuliku. Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi."

Sasuke kembali berpandangan dengan Naruto. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan wanita yang sepertinya kurang waras ini. Namun sepertinya wanita itu kehilangan suaminya dan menjadi korban pemerkosaan hingga menjadi gila.

Seorang petugas yang kebetulan berpatroli di wilayah tempat Sasuke berada kebetulan melintas dan berhenti sejenak dan memperhatikan Sasuke. Ketika menyadari wanita itu kurang waras dan Sasuke tampak terganggu, petugas itu tanpa ragu menghampiri wanita itu dan langsung menusukkan pedang ke punggung wanita itu hingga menembus tubuhnya dan wanita itu menjerit kesakitan.

Kejadian itu terjadi begitu cepat dan Sasuke serta Naruto hanya tercengang. Petugas itu mengumpat kesal, "Sial. Kurasa daerah ini benar-benar terkutuk hingga terdapat begitu banyak sampah masyarakat."

"Apa yang kau lakukan?!" ucap Naruto dengan suara meninggi. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa seseorang membunuh orang lain dengan begitu mudahnya.

Kill The AssassinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang