Seorang lelaki berlutut dengn penuh hormat pada lelaki muda berambut merah yang mengenakan pakaian kebesaran berupa jubah berwarna burgundy dengan motif delapan ekor naga yang dijaht dengan benang emas.
"Yang Mulia, hamba datang membawakan pesan dari keluarga Matsumoto," ujar pengantar itu seraya mengeluarkan sebuah gulungan dari balik yukata yang dikenakannya.
Seorang kasim segera berjalan setelah sang Raja memberikan gesture yang merupakan perintah baginya untuk segera mengambil gulungan itu dan membawanya kepada Raja.
Sang Raja menerima surat itu dan segera membaca isinya. Lagi-lagi surat itu memiliki topik yang sama dengan surat-surat yang sebelumnya ia terima. Surat itu berisi pemberitahuan mengenai penaklukan kota yang dilakukan oleh warga sipil dan tentara yang memberontak. Dan aksi pemberontakan kali ini ditenggarai oleh Yashamaru yang merupakan mantan Jenderal Besar –pangkat tertinggi yang bisa diraih dalam militer- kerajaan Suna.
Menurut surat yang diberikan oleh kepala keluarga Matsumoto, seorang mata-mata yang seharusnya memberikan informasi mengenai pergerakan Yashmaru tidak pernah kembali sehingga ia memutuskan mengirim hampir seluruh tentara di kota untuk pergi ke padang gurun dan menyerang tentara Yashamaru, namun tentara itu juga tidak kembali.
Dan tampaknya ada pula beberapa tentara kerajaan yang berkhianat. Kota Yoroi kini telah dikuasai Yashamaru sehingga kelurga Matsumoto terpaksa melarikan diri ke kota terdekat bersama beberapa tentara kota yang mengawalnya.
Gaara menghembuskan nafas dalam-dalam ketika membaca surat itu. Sebegitu parahkah kepemimpinan sang ayah hingga begitu banyak tentara yang memberontak ataupun berkhianat? Ia sudah menerima begitu banyak laporan mengenai hal yang sama.
Tak hanya itu, Gaara juga menerima begitu banyak petisi dari para pejabat, bangsawan maupun beberapa keluarga berpengaruh yang mendukungnya. Petisi itu berisi kekhawatiran mengenai pemberontakan serta permintaan agar raja segera mengambil langkah yang tegas untuk menghentikan pemberontakan yang semakin luas.
Petisi dan laporan yang diterima Gaara begitu banyak hingga ia tak sanggup membacanya dan meminta kedua kakaknya yang menjadi penasihat pribadi kepercayaannya untuk membacanya dan memberitahukan isinya secara garis besar.
Gaara tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tak begitu berniat mempertahankan kerajaan karena ia memang tak berniat menjadi raja sejak awal. Ia bahkan tak keberatan jika sang paman memang berniat menjadi raja.
"Tolong ambilkan meja tulis dan alat tulis untukku," seru Gaara pada kasim yang berada tak jauh darinya.
Kasim itu segera meninggalkan tempatnya dan bergegas mengambil meja tulis kecil dan alat tulis berupa kuas dan tinta untuk sang Raja serta membawakan meja itu kepada sang Raja dengn tergopoh-gopoh.
Gaara segera mengambil sebuah gulungan yang dipersiapkan baginya dan menggerus tinta sendiri. Sejak dulu ia selalu memilih menggerus tinta sendiri dan menolak bantuan dari para kasim dan dayang yang hendak membantunya menggerus tinta sehingga mereka tak lagi menawarkan diri untuk menggerus tinta.
Setelah selesai, Gaara mulai mengangkat kuas dan berniat menuliskan kata pertama. Namun ia terdiam dan berusaha memikirkan jawaban apa yang sebaiknya ia berikan. Tinta di ujung kuas tanpa sengaja jatuh keatas gulungan dan ia cepat-cepat memindahkan kuas yang dipegangnya, namun tetesan tinta kembali menetes di sisi lain gulungan.
Hitam ialah warna tinta. Dan tinta digunakan untuk membentuk tulisan. Memikirkan hal ini membuat Gaara mendadak teringat dengan isi gulungan-gulungan berupa informasi serta petisi-petisi yang ia baca. Dan sebuah ide mengenai strategi yang seharusnya ia ambil muncul secara tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kill The Assassin
Fiksyen PeminatUzumaki Naruto adalah putra seorang daimyo yang harus menyaksikan pembantaian keluarga nya sendiri di suatu sore. Pertemuan nya dengan Uchiha Sasuke yang merupakan pembunuh keluarga nya membuatnya hendak membunuh pria itu dan berakhir dengan mengiku...
