(Bab 3/Part 6) Janji Elegi

104 36 12
                                        

Lona bersemangat pulang. Dalam perjalanan ia terus memikirkan sesuatu yang terjadi disekolah yang akan ia ceritakan kepada mamanya. Tanpa mengungkit masalah ulangan matematika.

Halaman rumah sudah terliat jelas. Ia benar-benar bersemangat. Ia berlari agar lebih cepat sampai dirumah. Namun rumah terlihat sepi.

Lona menghembuskan nafas lelah. Saat ia sedang membuka pintu rumah ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci. Lelah menghadapi semua kejadian yang telah menimpa dirinya. Setiap ia membutuhkan mamanya sebagai teman berbagi cerita, mamanya selalu tidak ada. Bahkan mamanya tak tahu bahwa sudah dua kali Lona pingsan disekolah.

Inilah yang paling Lona tidak suka. Ia sendirian. Ketika papanya sibuk bekerja. Ia selalu berpikir 'kenapa mamanya tak pernah ada waktu untuknya?'. Ia lebih sering menghabiskan waktunya sendirian di rumah daripada menghabiskan waktu-waktu bersama kedua orang tuanya.

Lona masuk ke kamarnya. Duduk di sebuah kursi yang terletak di dekat jendela. Lona menatap jauh keluar jendela. Menatap dedaunan yang bergerak terbelai angin. Menimbulkan suara gemerisik yang memecah keheningan.dilihatnya langit semakin murung. Mungkin langit juga menahan kesedihan sepertinya. Air mata mulai jatuh meluncur ke pipi bersamaan dengan langit yang menangis tak sanggup lagi menahan beban.

Yang Lona butuhkan saat ini adalah mama.

Ponselnya tampak berkedap-kedip. Lona mengangkat poselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata yang menelponnya adalah mama. Ditekannya tombol hijau, "hallo."

Mendadak ponsel tersebut jatuh. Lona tak percaya kabar buruk ini 'mama kecelakaan'. Segera ia mengambil kunci mobil dan melaju menuju rumah sakit

###

"Dok, bagaimana keadaan mama saya?" Lona terlihat benar-benar khawatir.

Dokter menggelengkan kepalanya, "mama mu kehabisan banyak darah dan kami memerlukan transfusi darah A. Namun sayangnya persediaan kantong darah A saat ini tidak tersedia. Tapi percayalah kami akan berusaha sebaik mungkin."

Lona merasakan seluruh tubuhnya lemas. Rasanya seluruh engsel ditubuhnya lepas. Ia tak tau bagaimana caranya ia bisa mendapatkan pendonor darah A sekarang juga. Ia rasa saat ini ia adalah seorang anak yang benar-benar tidak berguna. Ia benci saat-saat seperti ini. Saat seorang mama mebutuhkan bantuan anaknya, namun anaknya tak dapat membantu apa-apa.

Lona berusaha menghubungi papa dan teman-temannya. Ia berusaha meminta bantuan.

Ia mendengus kesal. "argh, kemana sih lo za? Kenapa di saat gue butuh lo, hp lo nggak aktif sih. Argh, bahkan temen gue yang lain pun gak ada yang bisa bantu gue." Lona terus menekan-nekan ponselnya, "pa, papa kemana sih? Kenapa telepon lona gak di jawab? Pa, lona butuh papa sekarang." Lona berlari dan memcari tempat sepi,"aaaaaaaaa...." ia berteriak sekencang-kencangnya.

###

Dilihatnya layar ponsel dengan wajah lesu.*papa*

"hallo, pa" suara Lona berubah menjadi serak.

"iya. Hallo, nak. kenapa kamu? Kamu sakit?" Lona merasa sangat sedih. Ia mendengar suara papanya yang terasa begitu dekat. Namun, tubuhnya yang sebenarnya sangan jauh. Ia benar-benar membutuhkan papanya saat ini.

"mama, pa. Mama kecelakaan." Lona menangis tersedu-sedu.

"apa? Sekarang dengarkan perkataan papa. Kamu harus tetap disana. temani mama dan jaga mama. Papa akan berusaha pulang sekarang juga." Suara papa terdengar benar-benar panik.

Tut...tut...tut....

Sambungan telepon terputus.

Lona duduk di kursi yang terletak di depan ruangan mamanya. Ia terus menangis. 'mama sabar ya. Papa pasti akan datang. Lona juga berjanji, Lona gak akan tinggalin mama sendiri disini. Lona akan terus disini menemani mama dan menjaga mama.'

SEVERANDAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang