(Bab 10/Part 28) Menjauh

43 8 9
                                        

Kamu tak perlu tahu masalah apa yang harus aku hadapi saat ini. Yang terpenting adalah kamu baik-baik saja.

------------------------------------------------------

Lona memilih duduk bersantai di taman sekolah untuk menghabiskan waktu istirahat.

Diteguknya air mineral dari sebuah botol bergambar panda miliknya.

"Hei. Kok diam?" Lona tersentak saat tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dirinya. Ia menoleh ke belakang. Matanya menemukan sosok laki-laki bermata coklat. Ia sangat mengenali mata itu. Mata indah yang selalu dirindukannya.

"Eh, Alva. Ngapain kesini?" Alva tak mau berdiri lama. Ia langsung duduk tepat di samping Lona. Menatap mata Lona yang terlihat sendu. Menatap wajah Lona yang terlihat Lesu.

"Seharusnya aku yang nanya. Ngapain kamu disini?" Alva merapikan rambut Lona yang terlihat sedikit berantakan.

Lona menggeleng lemah. Tak ada senyum sedikit pun terlihat di wajah Lona.

Jujur saja, Alva rindu senyum Lona. Senyum yang tulus. Senyum keceriaan. Senyum kebahagiaan. Kini senyuman itu seolah musnah.

"Lona." Alva dan Lona menoleh serempak ke arah belakang setelah mendengar suara yang berasal dari belakang mereka.

"Aby." Lona tersenyum memandang wajah Aby.

Aby mengeluarkan sebuah kotak berwarna ungu dari dalam tasnya, "Nih, buat kamu. Itu didalamnya ada coklat. Katanya coklat bisa menciptakan kebahagiaan. Aku mau kamu selalu bahagia."

Lona mengambil alih kotak tersebut dari tangan Aby, "Terima kasih."

Aby pun duduk di samping Lona. "Kamu cantik kalau senyum." Ucap Aby sambil mencubit pipi Lona.

"Gombal." Lona tertawa.

Kini Lona dan Aby larut dalam perbincangan mereka. Bahkan Alva seolah tak ada di sekitar mereka.

Alva hanya terdiam memandang gadis yang disayangnya tertawa karena orang lain.

Alva menghembuskan nafas lelah. Kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Lona bersama dengan Aby.

Alva berjalan menjauh. Perlahan namun pasti.

"Alva...." Langkah Alva terhenti. Ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya di peluk oleh seorang perempuan.

Alva melepaskan pelukan itu. Memutar tubuhnya agar bisa melihat sosok yang memeluknya beberapa detik yang lalu. Alva tersenyum memandang perempuan itu. "Izza. Yuk ke kelas kamu."

Izza mengangguk. Kemudian menggandeng lengan Alva.

Alva melepaskan gandengan tangan Izza. Namun kini Alva merangkul Izza dan mereka berjalan meninggalkan taman sekolah.

SEVERANDAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang