Sudah berjam-jam Alva menunggu Lona sadar. Namun Lona tak kunjung sadar.
Tiba-tiba Alva mendengar suara pintu terbuka. Alva menoleh, "hei Za."
Izza masuk dan kemudian menutup pintu. "Hei Va. Lo kok bisa lebih tahu kalau Lona kecelakaan daripada gue?"
Alva tersenyum samar, "Eh, iya tadi papa-"
"Papa?" Izza mengerutkan keningnya.
Alva menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eh, iya, eh, bukan, eh tadi kebetulan cepat dapat info sih."
"Oh. Kirain." Izza kemudian mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di sebelah Alva.
"Emh, kirain? Maksudnya?" Alva mengerutkan kedua keningnya.
"Eh, enggak. Bukan apa-apa." Izza kemudian duduk di sebelah Alva. "Sejak kapan lo dekat sama Lona?
"Hah? Maksud lo?" Ucap Alva yang sedikit tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Izza.
"Em, maksud gue, sejak kapan lo akur sama Lona sampai mau jagain dia?" Izza menjelaskan kepada Alva maksud pertanyaannya.
"Oh. gue juga gak tahu." Ucap Alva sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Enggak tahu?" Lona mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh dengan jawaban Alva.
"Iya, enggak tahu." Alva merasa itu adalah jawaban yang tepat karena dia juga tak tahu sejak kapan ia bisa dekat dengan Lona.
Mereka berdua saling diam. Tanpa sepatah kata keluar dari mulut masing-masing.
Tak lama Alva mulai berbicara. "Gue mau minta tolong lo jagain Lona di sini. Gue mau keluar sebentar. Boleh?"
Izza tertawa dan menepuk pundak Alva, "ya boleh lah. Gue tetap jagain Lona disini sampai lo datang lagi kesini kok. Tenang aja. Percaya sama gue."
"Oke kalau gitu." Alva pun berdiri dan meninggalkan Lona bersama dengan Izza di ruangan tersebut.
Alva berjalan, berkeliling rumah sakit. Ia bermaksud mencari udara segar. Namun tiba-tiba ada sosok laki-laki bermasker menarik lengannya. "Woi, jangan culik gue woi."
Sosok laki-laki bermasker itu tetap menarik tangan Alva. Ia membawa Alva ke suatu ruangan. Gudang.
"Woi, lo mau nyekap gue ya. Jangan bercanda dong. Jangan sekap gue. Gue mohon." Alva terus memohon kepada sosok laki-laki bermasker tersebut agar tidak menyekapnya.
Ia berpikir jika ia disekap bagaimana bisa ia menjaga Lona.
Sosok laki-laki yang semula membelakangi Alva kini membalikkan tubuhnya dan menghadap Alva. Ia kemudian membuka maskernya.
Alva kaget melihat sosok laki-laki itu. "Ayah."
Ayah Alva meletakkan satu telunjuk di depan bibirnya untuk memberi isyarat agar Alva mengecilkan volume suaranya. "ngapain kamu disini? Kan sudah ayah bilang, jangan berkeliaran di rumah sakit."
Alva malas mendengar perkataan ayahnya. Papanya selalu berkata begitu karena takut Alva mempermalukannya. "Udah deh. Alva enggak akan bilang ke orang-orang kalau Alva ini anak ayah. Alva enggak akan mempermalukan ayah. Tapi Alva mohon, izinkan Alva berada di rumah sakit ini. Sampai-"
"Sampai kapan?" Ayah Alva memotong perkataan Alva "sampai kamu bisa mempermalukan ayah?"
Alva geleng-geleng kepala mendengar perkataan ayahnya. Ia tak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu. Namun ia sadar, ia harus mengusir jauh-jauh rasa sakit hatinya saat ini.
Alva menghembuskan nafas lelah. "Sampai orang yang Alva sayang sembuh, yah."
Ayah Alva membulatkan matanya. Baru kali ini ia mendengar bahwa Alva menyayangi seseorang. "Siapa dia?"
"Namanya Halona Allison. Di rawat di ruang Lavender nomor 9. Puas? Permisi, Alva mau pergi" Alva pergi meninggalkan ayahnya.
Alva merasakan rasa sakit dihatinya. Inilah alasan Alva tak pernah memberitahu ayahnya ketika ia sedang berada dirumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Nouvelles#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
