(Bab 7/Part 19) Insiden Getir

51 10 1
                                        

Pagi yang indah untuk Lona yang sudah pulih. Lona merasa sangat senang karena ia telah diperbolehkan sekolah lagi.

Telah lama ia vakum dari masa-masa indahnya. Masa-masa ia bisa bermain bersama teman-temannya. Kebahagiaan kecil yang selalu muncul disaat ia bersama teman-temannya. Kecil namun terkenang.

Semua itu direnggut oleh suatu kecelakaan yang menyebabkan dirinya harus terus beristirahat.

Ia sangat rindu teman-temannya. Terutama sahabatnya, Izza. Lona ingin berangkat lebih awal. Ia ingin menberi kejutan kepada sahabatnya. Namun apa daya, saat ini ia harus menunggu papanya yang akan mengantar dirinya kesekolah.

Lona melirik jam dinding di ruang tamu. Sudah pukul 06.30 WIB. "Pa, udah siap belum? Udah siang nih." Lona yang memang terbiasa berangkat sekolah pukul 06.00 WIB merasa ia sudah benar-benar terlambat.

"Iya nak. Sebentar lagi." Jawab papa dari kejauhan.

"Pa, cepat dong. Lona rindu sama teman-teman nih. Ingin cepat bertemu." Lona tersenyum manja di depan papanya. Ia berusaha merayu papanya agar papanya bisa lebih cepat lagi.

Akhirnya Lona berhasil membujuk papanya.Papanya yang terbiasa pergi ke kantor pukul 06.50 WIB kini harus pergi pukul 06.35 WIB. Papanya pun mengantar Lona menggunakan mobilnya.

                           ###

Lona berjalan menuju halaman sekolah dengan penuh semangat. Ia rindu. Bukan, ia benar-benar rindu semua kenangan yang tercipta di sekolah ini. Sudah hampir 3 tahun ia mengukir kenangan indah bersama teman-temannya.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat menyisakan dua tahun lagi untuknya menambah potret-potret kenangan yang akan berubah menjadi puing-puing rindu di masa mendatang.

Ia berjalan dengan penuh rasa bahagia. Ia tersenyun kepada semua orang yang dikenalnya. Namun, senyum itu memudar di saat ia sampai di depan kelasnya. Ada sesosok laki-laki yang menduduki kursinya. Ia juga melihat Izza yang duduk di sebelah laki-laki tersebut

Ia berjalan perlahan memasuki ruang kelasnya. Langkahnya terhenti tepat di depan tempat duduk Izza. Lona memberikan senyum kepada Izza. Namun kali ini bukan senyum kebahagiaan seperti biasanya.

Izza yang merasa ada seseorang yang berdiri dihadapannya kemudian mendongak. "Hai Lon." Lona membalas dengan senyum samar. "Eh, sorry. Kemarin ada murid pindahan. Jadi Bu Sum nyuruh dia duduk di bangku lo."

Merasa ada yang aneh dari pembicaraan Izza, laki-laki itu menoleh ke arah Izza. Kemudian ia menoleh ke arah Lona sebentar dan melanjutkan memutar-mutar rubik miliknya.

Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya akhirnya ia duduk di bangku kosong yang terletak di belakang laki-laki tersebut. Laki-laki yang menempati bangku miliknya dulu.

Lona hanya diam. Namun ia dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Sampai akhirnya jam istirahat tiba.

Lona tak berminat untuk keluar kelas. Hatinya dipenuhi dengan kekecewaan. Izza dan siswa pindahan pun memilih tetap berada di kelas. Mereka bertiga tak saling berbicara.

Tiba-tiba saja datang sosok laki-laki yang sangat dikenali Lona. Namun hal itu tak merubah suasana hatinya.

Laki-laki itu berjalan ke arah Lona. Ia mengerutkan keningnya dan menunjuk-nunjuk Lona, Izza, dan murid pindahan tersebut. Entah apa yang dimaksud olehnya.

Alva pun kemudian duduk di bangku sebelah Lona. Ia berbisik pelan "Bukannya bangku lo disitu?" Alva menujuk bangku yang diduduki murid pindahan tersebut.

Tak ada jawaban dari Lona. Alva memperhatikan setiap inci raut wajah Lona. "Kok nggak di jawab? Kok cemberut terus? Ntar jadi jelek loh."

Mendengar perkataan Alva rasanya Lona ingin mencekik Alva saat ini juga. Namun Lona masih ingin sekolah. Ia hanya melirik tajam Alva.

Alva menepuk bahu Izza. "Ada apa sih kalian berdua?" Izza mengerutkan keningnya. Ia berusaha mencerna pertanyaan Alva.

"Kok bangku Lona ditempati dia? Kok kalian berdua nggak duduk sebelahan lagi?" Alva memang begitu saat bertanya. Ia selalu menanyakan beberapa pertanyaan dalam waktu yang sama.

"Oh. Enggak ada apa-apa kok. Kemarin ada murid pindahan. Kebetulan bangku Lona kosong. Jadi Ibu Sum nyuruh dia duduk di bangku Lona. Gue kan gak berani bilang ke Ibu Sum kalau itu bangku Lona. Jadi ya gini." Lona mencoba menjelaskannya kepada Alva. Namun lagi-lagi anak pindahan tersebut menoleh ke arah Izza dan Alva sebentar dan kembali sibuk dengan rubiknya.

Setelah mendengarkan penjelasan Izza, tak lama kemudian Alva pergi. Namun sebelum pergi ia mengacak-acak rambut Lona. Hampir saja Lona menancapkan sebuah jangka di tangan Alva. Namun Alva bisa menghindar dengan cara berlari keluar kelas Lona, kelas XII IPA 3.

SEVERANDAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang