Alva kembali menuju ruang rawat Lona. Niatnya untuk mencari udara segar telah musnah.
Jantungnya kini berdetak cepat. Bukan karena jatuh cinta, tetapi karena amarahnya yang memuncak.
Seluruh benda disekitarnya seperti menghimpitnya. Udara yang segar kini seperti berubah menjadi racun.
Alva harus berusaha pergi. Sebelum ia mati.
Sampai di depan ruang rawat Lona, ia membuka pintu dan masuk. Tak terlihat seorang pun berada di dalam. "Za, kemana lo Za?"
Alva mencoba mencari Izza di sekitar ruang rawat Lona. Namun, tetap saja ia tak dapat menemukan Izza.
Ia kembali masuk kedalam ruangan untuk menjaga Lona. Tiba-tiba ponsel Alva bergetar. Ada pesan masuk dari Izza.
***
From : Bidadari Izza
Va, sorry tadi mendadak ada urusan. Jadi, gue harus segera pergi.
***
Alva pun membalas pesan dari Izza.
***
To : Bidadari Izza
Oh, nggak apa-apa kok bidadariku.
(Pesan Terkirim)
***
Alva pun meletakkan ponselnya di atas meja.
Ditatapnya Lona penuh arti. "Lon, kapan sih lo sadar. Gue butuh lo." Tiba-tiba air mata Alva menetes. "Gue butuh lo, Lon. Gue yakin cuma lo yang bisa mengerti gue. Cuma lo yang bisa dengarin cerita gue. Gue yakin lo adalah sahabat yang terbaik. Walaupun gue gak tahu sejak kapan kita sahabatan."
Lona masih tetap diam. Namun, ada sedikit air yang keluar di ujung matanya.
Alva tersenyum. Ia benar-benar tak menyangka. Seseorang yang tak sadarkan diri bisa ikut bersedih. Namun, seseorang yang sehat tak pernah peduli dengan keadaannya.
"Lo bisa dengar gue lon? Gue gak nyangka lo mau mendengarkan keluh kesah gue." Alva mengelus kepala Lona dan merapikan rambut Lona. "Tapi tetap aja, gue maunya lo sadar. Gue mau lo seperti dulu. Kita bisa ketawa bareng. Kita bisa saling cerita. Kita bisa saling memberi semangat. Gue rindu."
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Alva menoleh. Ia melihat papa Lona masuk dan mendekatinya. "Kamu kenapa, Va? Kamu nangis?"
"Eh, enggak om. Saya cuma sedih aja." Alva mengusap air matanya.
"Sudahlah, tak usah malu. Laki-laki juga punya perasaan. Laki-laki juga bisa sedih. Walaupun dia ga bakal nunjukin dia sedih dia nangis di depan orang, tapi pas lagi sendiri dia pasti keluarin semua kesedihannya dengan air mata." Om Adit menepuk pundak Alva.
Alva tersenyum samar. Ia membayangkan seandainya ia punya ayah seperti om Adit. Pasti ia tak akan seperti sekarang.
Om Adit pun tersenyum melihat Alva. "Sudahlah, jangan bersedih. Laki-laki itu harus kuat. Jika laki-laki terus bersedih, bagaimana bisa ia membahagiakan istrinya kelak?" Om Adit tertawa, "benar nggak?"
Alva tertawa dan kemudian mengangguk.
"Kamu sudah sholat?" Tanya om Adit kepada Alva.
Alva menggeleng.
Om Adit melipat kedua tangannya di depan dada. "Aduh kamu ini. Cepat sana sholat, terus jangan lupa berdo'a untuk pacar kamu"
Alva mengerutkan keningnya, "pacar?"
Om Adit tertawa melihat Alva yang kebingungan. " Lona kan pacar kamu. Ya berdo'a agar Lona segera sadar dong." Om Adit kembali tertawa sambil geleng-geleng kepala, "begini nih kalau baru jadian."
Alva pun ikut tertawa. Kemudian ia segera berpamitan untuk melaksanakan sholat di musholla rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Short Story#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
