Lona berjalan menuju ke arah gerbang sekolah. Dilihatnya Alva yang sedang duduk di atas motor ninja hitam miliknya.
Lona yang berniat menghindar dari Alva mempercepat Langkahnya agar Alva tidak menyadari keberadaannya. Namun ibarat pepatah yang menyatakan sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Seperti itulah Lona saat ini. Sepandai-pandainya Lona melakukan cara untuk menghindar dari Alva, akhirnya ketahuan juga.
Alva yang menyadari Lona baru saja melewati dirinya kini turun dari motor dan mengejar Lona." hei Lona. Mau kemana? Kan pulangnya sama aku."
Lona yang menyadari Alva mengejar dirinya kini membalikkan tubuhnya menghadap Alva. "Gue gak mau pulang sama lo."
"Kenapa? Mau aku bilangin om Adit kalau kamu enggak mau pulang sama aku? Yaudah terserah." Lona membulatkan matanya. Ancaman Alva benar-benar menyudutkan dirinya. "Jadi mau pulang sama aku atau enggak?"
Lona kesal karena Alva yang seakan memberikan pilihan namun sebenarnya tidak. "Yaudah, gue ikut lo pulang." Ucap Lona dengan raut wajah cemberut.
Alva kembali menaiki motornya. "Yaudah, yuk naik." Lona menaiki motor Alva dengan teramat sangat terpaksa. Alva melirik wajah Lona dari kaca spion motornya. "Enggak usah cemberut gitu. Ntar enggak cantik lagi."
Mendengarkan ucapan Alva, Lona refleks memukul pundak Alva. "Bawel banget sih lo."
Alva memegang pundaknya yang beberapa waktu lalu di pukul oleh Lona. "Enggak usah mukul-mukul aku. Kalau kalau cidera kamu mau pulang jalan kaki? Terus di godain om-om di jalan."
Lona semakin kesal mendengar perkataan Alva. Akhirnya Lona mencubit lengan Alva. "Cepetan jalan!"
Alva langsung menggunakan helmnya. "Iya iya, kekerasan dalam ru-"
Belum sampai Alva menyelesaikan kalimatnya, Lona sudah memotong kalimat Alva Lebih dulu. "Ngomong apa lo?"
"Enggak, aku nggak ngomong apa-apa. Cuacanya panas ya. Gerah." Alva pun melajukan motornya.
Mereka saling diam sepanjang perjalanan. Hingga Alva memutuskan untuk memecahkan keheningan. "Lon."
"Hm, kenapa?" Jawab Lona.
"Besok ikut aku yuk. Ke rumah nenekku di desa. Suasananya enak loh. Enggak seperti di kota, banyak polusi" Alva melirik Lona dari kaca spion motor miliknya. Lona tampak sedang berpikir.
"Lo seriusan mau ngajak gue?" Alva mengangguk. "Em, gue pikir-pikir dulu deh."
Mereka pun kembali hening. Hanya suara angin dan mesin motor yang terdengar diantara keduanya.
Motor Alva berhenti tepat di depan rumah Lona. Lona turun dari motor Alva dan berniat langsung masuk meninggalkan Alva sendiri di luar.
"Tunggu Lon." Mendengar ucapan Alva, Lona menoleh. "Gimana? Jadi ikut aku besok?" Tanya Alva
"Iya deh, gue ikut." Jawab Lona.
"Aku jemput besok pukul 8 pagi ya. On time, gak pakai ngaret." Ucap Alva sambil berlalu pergi meninggalkan Lona yang masih di halaman rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Short Story#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
