Lona pergi kesebuah taman rumah sakit. Ia duduk di sebuah kursi sambil memandangi sekitar.
Lona tersenyum. Ia merasa bahagia hari ini.
Ia mengeluarkan sebua buku dari tas miliknya. Ya, buku harian yang disimpan tapi di dalam sebuah box yang hanya bisa dibuka jika kita benar mengetikkan password.
*aku bersyukur. Tuhan telah menciptakanmu disini, di bumi ini. Terima kasih kamu telah menyadarkanku untuk bangkit ketika aku terpuruk. -AAM-*
Lona menutup buku hariannya dan kembali dimasukkan kedalam box. Dari kejauhan ia melihat sosok Alva yang terlihat sedang mencari seseorang.
Alva pun menghentikan langkahnya ketika ia melihat Lona sedang duduk di sebuah kursi taman. Ia pun segera menghampiri Lona.
Lona yang tersadar akan hal itu segera memasukkan buku hariannya ke dalam tas.
"Hei, ngapain disini?" Alva yang tadinya masih berdiri kemudian duduk di sebelah Lona.
"Nyantai aja. Kenapa?" Lona tersenyum menatap Alva.
"Ih, kenapa senyum-senyum?" Alva mulai menggoda Lona. "Oh iya, lo dicariin papa lo tadi?"
Lona mencoba mengabaikan pertanyaan pertama Alva, "serius? Papa nyariin?"
Alva mengangguk.
Kemudian Lona berlari meninggalkan Alva menuju ke ruang rawat mamanya. Ia takut hal buruk terjadi kepada ibunya. Intinya ia harus segera sampai disana.
###
Akhirnya Lona sampai di depan ruang rawat mamanya. Dilihatnya papa sedang duduk di dalam. Entahlah, ia tak mengerti kenapa papa mencarinya.
Lona membuka pintu, "assalamualaikum."
Papa menoleh ke arah Lona. "Waalaikumsalam, kenapa nak?"
Lona tersenyum melihat papanya, "tadi kenapa papa nyariin Lona?"
Tampak sorot ekspresi bingung muncul diwajah papanya. "Enggaak kok, papa enggak nyariin kamu. Siapa yang bilang."
"Alva." Lona mulai curiga. Jangan-jangan Alva membohonginya.
Papa tertawa saat mendengar nama Alva disebut oleh Lona. "Berarti dia bohongin kamu nak."
Lona membulatkan matanya saat mendengar perkataan papanya. "Yaudah pa, Lona pergi dulu ya."
Papa Lona mengerutkan keningnya. "Kemana nak?"
"Mau nyari Alva si kodok jelek, pa. Lona kesal dibohongin dia pa." Lona mengerucutkan bibirnya.
Papanya kembali tertawa. "Dimulut bilangnya kodok jelek, kalau dihati pasti bilangnya pangeran kodok."
Lona terkejut mendengar perkataan papanya. Bagaimana bisa Alva si kodok jelek menjadi pengeran kodok. "Ih papa. Lona ngambek nih. Yaudah, assalamualaikum"
Papa lona tersenyum melihat tingkah anaknya. Ia masih saja tak berubah. Masih saja memendam perasannya. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu perasaannya. "Waalaikumsalam."
Lona segera pergi mencari Alva. Ia ingin mematahkan semua tulang Alva. Ia paling benci dibohongi. Semua orang benci dibohongi. Right?!
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Historia Corta#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
