Lona baru saja keluar dari mobil papanya dan melangkah memasuki gerbang. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang ke arah belakang musholla.
"Alva, apaan sih narik-narik gue?" teriak Lona setelah tau bahwa Alva yang menariknya.
"Kamu kenapa sih? Aku kok ngerasa kamu menjauh dari aku." Lona tertunduk, "tatap mata aku, Lon."
Lona masih saja menunduk. Satu per satu air mata mengalir dipipinya dan jatuh ke tanah.
Alva mengusap air mata yang masih terus mengalir di pipi Lona "Please, jangan nangis. Jawab pertanyaan aku."
Lona meyakinkan dirinya. Dadanya sudah terlalu sesak untuk memendam semuanya. "Lo gak ngerti kan rasanya ketika gue udah bisa ngelupain sosok masa lalu karena perhatian dari lo, lalu seenaknya lo ninggalin gue gitu aja. Bahkan lo ungkapin rasa sayang dan rasa cinta lo ke orang lain. Sakit banget rasanya." Lona mengusap kasar air mata yang terus saja mengalir di pipinya. "Fine, jujur aja. Dulu gue manfaatin lo agar gue bisa ngelupain sosok masa lalu. Sosok yang dulu gue sayang. Sesungguhnya perhatian yang lo berikan hampir saja membuat lo manggantikan posisinya di hati gue. Tapi kenyataannya, lo cuma penipu hati."
Lona berlari meninggalkan Alva yang masih mematung setelah mendengar perkataan Lona. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak tahu saat ini ia harus memilih menjauh atau berpura-pura tegar meski ada rasa sakit dihatinya karena ternyata sebelumnya ia hanya dimanfaatkan.
"Intinya saat ini kita sama-sama tersakiti." Ucap Alva lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Storie brevi#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
