Lona mempercepat langkahnya. Sudah pukul 06.50 WIB, ini artinya ia sudah terlambat karena ia belum mengerjakan PR matematika yang harus dikumpulkan saat jam pelajaran pertama. Tubuhnya masih sedikit merasa lelah.
Bruk!!!
Buku yang tadinya dipegang kini berceceran.
"Eh, maaf kak." Ucap seorang perempuan yang ikut berjongkok membantunya menyusun kembali buku-buku yang Lona bawa.
Perempuan itu membetulkan kacamatanya. "Maaf kak. Aku enggak sengaja."
Lona memperhatikan perempuan dihadapannya. Dilihatnya noda saos mengenai seragam perempuan tersebut. "Eh, enggak apa-apa kok. Aku yang salah enggak hati-hati." Lona mengambil beberapa helai tisu dari dalam tasnya. "Tuh baju kamu jadi ketumpahan saos. Lap dulu gih." Lona memberikan beberapa helai tisu tersebut kepada perempuan itu.
"Enggak apa-apa kok,kak. Nanti di lap pakai air juga hilang." Lona ingat bahwa ia membawa seragam cadangan di dalam tasnya. Ia pun mengeluarkan baju tersebut dan memberikannya kepada perempuan di hadapannya yang sedang berusaha membersihkan noda saos di baju miliknya.
"Nih, pakai baju aku aja." Perempuan itu menatap Lona. Ia berusaha menolak. "Udah, gak usah nolak. Pakai baju aku aja dulu. Oh iya namaku Halona. Panggil aja Lona." Lona mengulurkan tangannya.
Perempuan itu pun menyambut uluran tangan Lona. "Devira."
Lona tersenyum memandang perempuan itu, "yaudah, aku mau ke kelas dulu ya."
Lona pun berjalan menuju kelasnya. Ia merasa heran kenapa bisa kelasnya seramai ini. Padahal sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
"Terima...terima...." terdengar jelas seorak-sorai dari dalam kelas.
Lona mendekat. Dilihatnya seseorang laki-laki sedang berlutut membawa bunga di depan seorang perempuan.
"Yes, I do." Ucap perempuan tersebut yang disambut oleh sorak-sorai dan siulan.
"Izza. Alva." Ucap Lona lirih.
Lona berlari menuju UKS. Berharap saat ini UKS sedang tidak dalam keadaan terkunci.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Historia Corta#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
