Alva merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya setelah ia melaksanakan sholat. Ada ketenangan dan kenyamanan yang lahir dari dirinya.
Alva berjalan melewati selasar-selasar rumah sakit menuju ruang rawat Lona.
Namun setelah ia sampai di depan ruangan Lona, ia ragu. Ia ingin masuk, namun ia melihat om Adit di sana. Ia tak ingin mengganggu om Adit yang sedang menjaga anak kesayangannya.
Om Adit melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu. Namun orang itu tak kunjung masuk.
Rasa penasarannya membangkitkan dia dari kursinya. Ia membuka pintu dan melihat sosok Alva disana.
"Loh Alva. Kenapa nggak masuk?" Tanya om Adit yang kebingungan melihat alva yang berdiri di luar sedari tadi.
"Itu om." Alva menggaruk kepalanyaa yang tak gatal.
"Itu apa? Dimana?" Tanya om Adit sambil melihat sekitar mencari apa yang dimaksud oleh Alva.
"Eh, maksudnya tadi Alva mau masuk. Tapi Alva takut ganggu om yang lagi menjaga Lona."
Om Adit tertawa mendengar penjelasan Alva. "Kamu bercanda? Saya tidak akan meninggalkan seseorang yang saya sayang sendirian. Sudahlah, ayo masuk!"
Mereka berdua pun masuk kedalam ruangan.
"Lona?" Alva terkejut melihat Loma yang sudah sadar. Alva sangat senang. Ia ingin memeluk Lona. Namun diurungkan niatnya. Kini Alva memeluk om Adit.
"Ih, jangan peluk-peluk saya. Saya masih normal." Ucap om Adit sambil berusaha melepaskan pelukan Alva.
Alva yang tersadar bahwa seharusnya ia tidak malakukan hal itu kini tertunduk malu. "Maaf om, saya terlalu senang."
Lona tersenyum melihat tingkah keduanya. "Alva, gue udah sadar dari tadi kok. Tadi gue cariin lo. Tapi kata papa lo lagi sholat."
Alva mengangguk. "Gue senang lo udah sadar." Alva mengelus rambut Lona, "lo jangan ceroboh lagi ya."
Lona pun kembali tersenyum.
"Lo tahu nggak?" Alva diam sejenak. "Lo itu bagaikan matahari. Sedangkan gue bagaikan bulan."
Lona mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
Alva tersenyum samar, "Lo adalah matahari yang menghangatkan gue. Gue itu seperti bulan. Hidup gue dingin. Tanpa lo, hidup gue akan membeku."
"Gombal." Lona pun mengalihkan pandangannya.
"Dih. Om, kok saya dibilang gombal." Alva pun melihat ke arah om Adit yang tertawa melihat percakapan kedua anak muda tersebut. Alva dan Lona.
Lona menolehkan pandangannya ke arah Alva. Namun, ternyata saat ini Alva sedang membelakanginya, "Dih,lo ngambek?"
Alva tak menjawab.
"Terserah lo deh, Va. Kalau gitu gue mau tidur lagi aja. Jangan bangunin gue ya." Ucap Lona yang masih dibelakangi oleh alva.
Alva masih tak memperdulikan perkataan Lona. Namun tak lama kemudian, tak ada sepatah kata pun suara Lona yang terdengar di telinga Alva.
Alva berbalik badan ingin mencari tahu kenapa Lona tak bersuara. "Yah kok tidur beneran. Kebonya masih tetap ya. Hobi banget lo tidur."
Lona tak sanggup menahan tawanya. Ucapan Alva terlalu lucu bagi Lona. Lona kemudian tertawa. Tawanya begitu renyah. Lona terlihat benar-benar natural.
Alva membulatkan matanya. Ia tak menyangka ternyata Lona menjahilinya.
"Halona Allison Zoran." Ucap Alva yang kesal karena tingkah Lona
"Alvarendra Arthemus Muraco." Ucap Lona menirukan suara Alva.
Sementara om Adit terkejut setelah mendengar nama lengkap Alva.
"Muraco? Kamu berasal dari keluarga Muraco?" Tanya om Adit setelah ia sadar bahwa ia mengenal keluarga Muraco.
Alva mengangguk ragu. Ia ragu untuk memberitahu tentang dirinya kepada om Adit. Namun, Alva memutuskan untuk mengatakannya. "Saya anak dokter Elonio Bhaskar Muraco, om." Alva diam sejenak, "tapi om harus berjanji tidak akan mengatakan ke siapapun tentang saya dan om tidak akan mengatakan kepada ayah saya bahwa om mengetahui semua ini dari saya."
Om Adit mengangguk mantap. "Ya, saya berjanji."
Alva tersenyum. Ia percaya bahwa keluarga om Adit adalah orang yang baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Kısa Hikaye#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
