Alva POV
Siang itu gue tengah berbaring di atas tempat tidur kesayangan gue. Merebahkan tubuh gue yang sudah benar-benar lelah.
Tiba-tiba ponsel gue berdering. Gue lihat nama Lona tertera pada layar ponsel gue. "Tumben nih anak nelpon gue. Kangen kali ya."
Gue pun menggeser tombol hijau. "Hallo Lona sa-"
Tiba-tiba suara dari seberang telepon memotong perkataan gue. Gue mengerutkan kening.
Bukan suara Lona yang terdengar.
Gue mulai mencerna apa yang orang itu katakannya. "Apa? Lona kecelakaan." Gue panik, "sekarang dibawa ke rumah sakit mana?"
Setelah tahu Lona dibawa ke Rumah Sakit Harapan, tempat dimana mamanya Lona dirawat. Gue segera menelpon om Adit, papanya Lona.
Gue segera mengambil kunci motor dan pergi ke rumah sakit tersebut.
Setelah sampai di rumah sakit gue mengirim pesan kepada Izza.
***
To : Bidadari Izza
Za, Lona kecelakaan. Dia sekarang ada di Rumah Sakit Harapan.
(Pesan Terkirim)
***
Tak lama ada sebuah pesan masuk ke ponsel gua. Gue pun segera membukanya.
***
From : Om Adithya
Lona sudah dipindahkan di ruang rawat. Ruang Lavender No.9.
***
Gue pun segera menuju ke ruang rawat Lona. Tanpa membalas pesan dari om Adit.
Setelah sampai di depan ruang Lavender No. 9, gue melihat om Adit sudah berada di dalam.
"Assalamualaikum." Dengan hati-hati gue membuka pintu.
Om Adit menoleh, "waalaikumsalam."
Gue mendekati om Adit. "Om, kenapa semua ini bisa terjadi?"
Om Adit menggeleng, "om hanya dengar keterangan para saksi yang ikut membawa Lona kesini. Mereka mengatakan bahwa Lona berusaha menghindari tabrakan dengan mobil yang tiba-tiba keluar dari gang. Namun-" om adit tak sanggup menahan kesedihannya. Ia mengusap air mata yang mengalir dari matanya.
"Namun, sayangnya Lona justru menabrak tembok di tepi jalan."
Gue tahu om Adit sangat sedih. Tak ada orang tua yang tak sedih ketika mereka hampir saja kehilangan anaknya.
Apakah itu berlaku juga untuk ayah gue? Dokter Elonio Bhaskar Muraco.
Gue tersadar dari lamunan. Seharusnya saat ini gue harus bisa membantu menenangkan,menjaga, dan merawat. Bukan justru larut dalam kesedihan. "Om, Siapa yang menjaga tante Sera?"
Om Adit menggeleng.
Gue pun memberanikan diri memegang pundak om Adit. "Om, begini saja. Om menjaga tante Sera. Izinkan saya menjaga Lona. Om percaya kan sama saya?"
Om Adit pun mengangguk tanda setuju. Kemudian om Adit pergi meninggalkan gue menjaga Lona.
Gue pun duduk di sebelah Lona yang masih terbaring tak sadarkan diri. "Lona. Cepat sadar ya. Gue khawatir. Hidup gue sepi tanpa lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Cerita Pendek#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
