Pagi ini cuaca terasa dingin. Suasana seperti ini benar-benar membuat semua orang ingin tetap berada di kasur kesayangannya. Begitupun Lona. Ia merasa sangat tidak ingin meninggalkan kasur kesayangannya. Ia masih tertidur di balik selimut ungu dengan motif bunga-bunga.
Sedari tadi ponselnya terus berbunyi. Namun karena rasa malasnya yang begitu besar membuatnya mengabaikan bunyi ponselnya.
Lona tak ingin di ganggu karena baginya hari minggu adalah hari untuknya bersantai dan beristirahat di rumah tanpa dibebani tugas-tugas sekolah yang nauzubillah, tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
"Lon, Lona sayang. " terdengar suara mama Lona dari luar kamar.
Lona pun kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah dengan susah payah menuju pintu. Lona membuka pintu dan menemukan mamanya dan Alva sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Dih, belum mandi." Ucap Alva sambil tertawa kecil. Lona pun kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya.
"Loh kok ditutup lagi nak?" Ucap mama Lona sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.
"Lona mau mandi dulu, ma." Lona pun beranjak dari balik pintu dan segera mengambil ponselnya. Ada 100 panggilan tak terjawab dari Alva.
Lona menghembuskan nafas asal. Ia lupa bahwa hari ini ia memiliki janji dengan Alva.
"Yuk nak Alva, tunggu dibawah saja" ucap mama Lona kepada Alva.
"Yaudah, aku tunggu dibawah ya." Teriak Alva dari luar. Kemudian beranjak pergi bersama mama Lona menuju ruang tamu.
Lona pun segera mandi. Setelah mandi ia pun segera bersiap-siap. Lona memutuskan memakai celana jeans dan kaos berwarna biru dongker serta memakai jaket berwarna hijau tua kesayangannya. Rambutnya dikuncir kuda. Tak lupa ia memasukkan sebuah topi, dompet dan kamera ke dalam tas miliknya.
Tak perlu waktu lama untuk Lona mempersiapkan diri. Lona pun segera turun menemui Alva sambil menggendong tas miliknya.
"Mama, papa, Lona sama Alva pergi sekarang ya." Lona mencium punggung tangan dan mencium kedua pipi mama dab papanya di hadapan Alva."Yuk pergi." Lona menarik tangan Alva mengajaknya segera pergi dengan penuh semangat.
"Eits, aku mau pamitan dulu." Lona menepuk jidatnya. Ia baru menyadari kalau Alva belum berpamitan kepada mamanya. Lona melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alva dan membiarkan Alva berpamitan. Alva pun menghampiri mama Lona, "om, tante, saya dan Lona pamit pergi ya." Alva pun bersalaman dengan papa dan mama Lona.
Alva dan Lona berjalan keluar rumah diiringi oleh kedua orang tua Lona.
Lona menghentikan langkahnya. "Loh, motor lo mana?" Tanya Lona kepada Alva.
Alva menghadapkan wajahnya di depan wajah Lona sambil mengerutkan keningnya. "Yang bilang pakai motor siapa?" Alva menunjuk sebuah mobil berwarna yang terparkir di sisi kanan halaman rumah Lona. "Kita pakai mobil. Yuk"
"Hati-hati ya." Ucap kedua orang tua Lona secara bersamaan. "Jangan ngebut!"
"Iya om,tante" ucap Alva. Sementara Lona melambaikan tangannya.
"Dadah mama. Dadah papa." Teriak Lona dari kejauhan.
Lona masuk ke dalam mobil dan melihat Alva yang duduk di kursi kemudi. Lona memandang Alva dengan tatapan ragu. "Lo bisa nyetir mobil kan?" Tanya Lona memastikan.
Alva tak menjawab dengan kata-kata tetapi dengan tawa kecil yang bahkan Lona sulit mendengarnya. Alva mulai mengendarai mobilnya. "Tenang saja. Aku tak akan mencelakakanmu." Ucapnya sebelum mereka berdua kembali diam.
____________________________________
Hai, cuma sekedar kasih info.
Saya akan update part baru jika cerita ini sudah mencapai 1k viewers.
Regards,
Nita Febriyanti
(nitariyanti)
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVERANDAY
Short Story#800 in Short Story (14 Juni 2017) Setiap individu punya alasan. Alasan lebih memilih untuk mencintai, alasan lebih memilih untuk tetap bersama, alasan lebih memilih untuk diam, bahkan alasan lebih memilih untuk berlalu.
