2 - Special Latte

10.5K 769 45
                                        

Balaslah kejahatan dengan kebaikan,
maka kebaikan juga yang akan kamu dapat.

***

"Haaah!!" Aku terbangun dengan keringat membanjiri wajahku. Tidak, aku tidak bermimpi buruk. Aku bahkan tidak bermimpi. Namun, dadaku terara sesak, seperti ada sebuah batu besar yang menghantamnya. Sakit.

Inhale. Exhale.

Aku mengambil obat pereda sakit yang selalu ku simpan di dalam tas, meminumnya dalam sekali teguk. Aku menghembuskan nafas kasar. Frustasi dengan keadaan dimana aku harus selalu bergantung dengan obat sialan itu.

***

"Ini keycard-nya. Ada dua dan lo bisa bawa semua." Aldric mengangsurkan keycard ke tanganku. Aku menerima tanpa menoleh ke arahnya. Sibuk memperhatikan apartemen mungil ini. Sedikit kaget Aldric mempunyai apartemen semungil ini. Untuk apa?

"Gue beli apartemen ini pakai duit gue sendiri. Setelah menabung selama beberapa tahun kerja sambil kuliah dulu. Wajar kalo gue cuma bisa beli apartemen mungil ini, Chynt," jelas Aldric seolah tahu aku akan sangat mempertanyakan alasan ia membeli apartemen mungil ini. Nada suara itu, nada sendu penuh luka. Dan aku sangat membenci jika nada itu keluar dari mulutnya.

"Seenggaknya lo punya sesuatu yang lo beli dari jerih payah lo sendiri," ucapku sambil membalik badanku menghadapnya. "and i'm proud of you, Al," lanjutku sambil tersenyum dan mengerling menggodanya. Menularkan senyum jenaka ke wajah Aldric. Dalam hati aku bersyukur karena tidak sulit membuat Aldric keluar dari kemurungannya.

"Yaudah, gue tinggal dulu. Gue janji jemput Dinda di Thamrin," ucap Aldric sambil mengacak rambutku. Always! Dan menyebalkan! Aku hanya bisa mendengus sebal. Ku lihat Aldric sudah berjalan menuju pintu apartemennya. Namun sebelum membuka pintu, Aldric kembali menoleh ke arahku.

"Ah ya! Di deket sini ada coffe shop, cukup rame. They have a great barista. Lo mesti cobain. Buon Coffe." Aldric memang sangat tahu kegemaranku akan kopi. Aku pun mengacungkan jempol menyukai idenya. Sedikit mengernyit mendengar nama yang terbilang aneh di telingaku tersebut.

Setelahnya Aldric sudah menghilang di balik pintu. Aku kembali melihat ke sekeliling apartemen. Ukuran studio yang memang cukup kecil tapi pas untuk seseorang yang hanya tinggal sendiri sepertiku.

Dari pintu masuk apartemen, aku bisa langsung melihat pintu kamar mandi di sisi kiri dan dapur mini di sisi kanan. Masuk lebih jauh terdapat ruang kecil yang sudah terisi sofa panjang serta meja dan di dinding bagian kanan telah menempel sebuah TV LED ukuran 40 inch.

Di belakang sofa terdapat rak lemari yang juga berfungsi sebagai sekat antara ruang tengah dengan kamar tidur. Tidak ada tembok pemisah, hanya sekat pembatas. Seolah sejatinya ruangan ini seharusnya menyatu. Tentu saja, ini adalah apartemen tipe studio. Di ujung ruang tengah terdapat jendela kaca besar serta pintu yang menghubungkan dengan balkon. Aku bersyukur dalam hati karena ternyata terdapat balkon di apartemen ini.

Apartemen ini masihlah standart. Terlihat jelas tidak ada yang dilakukan Aldric pada apartemen ini selain mengisinya dengan perabotan. Ya, buat apa juga? Dia bahkan tidak tinggal di sini.

Selesai mengamati apartemen, aku segera menata beberapa barangku. Aku juga membersihkan apartemen yang sepertinya sudah berbulan-bulan tidak dibersihkan. Pasti Aldric lupa untuk menyuruh orang membersihkan tempat ini.

Love You, Latte! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang