14 - And it still hurt

6.6K 575 32
                                        

And i will give up this fight,
cause i can't make you love me,
if you don't.

****

Aku memasuki cafe dan netraku langsung bertubrukan dengan netra cokelat milik Bintang. Bintang pun reflek tersenyum melihat kedatanganku. Tangan Bintang naik ke atas memberi tanda padaku untuk mendekat ke arahnya. Tanpa sadar aku menahan napasku sejak netra kami bertubrukan. Mencoba mencari kekuatan, aku kembali menghirup dan mengembuskan napas pelan. Aku berusaha keras menampilkan senyum terbaik kepada Bintang.

"Nau... Kenalin ini Dyandra, dia....," belum sempat Bintang menyelesaikan kalimatnya, ia sudah disela oleh Dyandra yang sudah berbalik dan melihat sosokku.

"Mbak Chyntia..." Sapa Dyandra dengan raut wajah terkejutnya namun segera ia tepis dengan senyuman yang selalu terlihat cantik dan menawan tersebut. Aku pun balas tersenyum pada Dyandra. Sedang Bintang sendiri terlihat kaget karena ternyata kami sudah saling mengenal.

"Kalian sudah saling kenal?"

"Iya Bi, kita sudah saling kenal. Sebelum aku kenal kamu malah." jawabku yang kemudian beralih menatap Dyandra. "Hai Dy. Kamu apa kabar?"

"Baik, Mbak. Mbak apa kabar? Menghilang ditelan bumi ih." ucap Dyandra dengan nada seceria mungkin. Dia mungkin bisa membohongi Bintang, tapi aku dapat merasakan kecanggungan yang dirasakannya.

"Aku baik juga kabarnya Dy," aku menatap Dyandra dan Bintang bergantian, "kamu sama Bintang...."

"Dyandra ini adikku, Nau. Dek, ini Naura, cewek yang aku ceritakan tadi." Terlihat raut wajah terkejut dari Dyandra namun ia segera menepisnya. Apa yang diceritakan Bintang padanya?

Aku sendiri tidak kalah terkejut, benar-benar tidak menyangka hubungan mereka berdua adalah adik kakak. Sempat hening sejenak karena baik aku maupun Dyandra masih harus memulihkan kekagetan kami.

"Aku kenalnya Mbak Chyntia, Mas. Dan wow, dunia ini sempit banget ya? Gimana bisa kalian kenal?"

"Chyntia?" tanya Bintang yang merasa asing dengan nama tersebut.

"Namaku Naura Chyntia Armilda, Bi. Coba dicek CV aku, pasti dibaca pun nggak." ucapku sambil memicingkan mata ke arah Bintang yang dibalas dengan cengiran. Dasar!

"Ehehehe. Nggak perlu juga aku baca CV kamu, udah jelas kinerja kamu."

Aku mengalihkan pandanganku menuju perut Dyandra yang membesar. Ada rasa perih di hati namun juga ada rasa bahagia melihat ibu hamil di depanku ini. Jelas terlihat raut bahagia di paras cantiknya. Seolah segala rasa sakit yang kurasa selama ini tidak berarti apapun setelah melihat kebahagiaan wanita di hadapanku ini. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana wajah bahagia Rava. Namun, nyeri itu kembali hadir.

Aku menampilkan senyum terbaikku untuk mengurangi rasa sakit ini. Kembali menatap perut besar Dyandra.

"Kamu udah hamil Dy? Selamat ya... cowok apa cewek nih?"

"Iya mbak.. Insya Allah cowok sama cewek mbak." jawab Dyandra singkat yang membuatku seketika bingung dengan jawabannya.

"Hah? gimana?"

"Insya Allah anak kami kembar mbak. Hasil usgnya cowok dan cewek." Netraku makin berbinar mendengarnya.

"Kembar? Waaahhh selamat ya Dy. Happy for you both. Semoga sehat selalu ibu dan debay dalam perut." ucapku antusias sambil bergerak menuju Dyandra dan memeluknya. Dyandra sendiri pun segera membalas pelukanku.

Love You, Latte! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang