You'll know how much a person
means to you
when their gone
🎵 Maliq n The Essential - Untitled
* * *
Hai Bi,
Waktu kamu baca surat ini, mungkin aku udah tidak ada di sekitarmu lagi.
Ya, aku memilih merelakanmu. Aku memilih melepasmu. Karena mestinya sedari awal kita memang tidak bersama.
Aku pernah berharap banyak pada hubungan kita. Caramu memperlakukanku dengan istimewa membuat harapanku membumbung tinggi.
Tapi aku lupa satu hal. Kamu bahkan sudah pernah mengatakan padaku dulu, bahwa sulit bagimu menghapus rasa cintamu untuk wanita pertamamu.
Dulu, aku pernah berharap bahwa sosokku bisa menggantikan wanita pertamamu itu. Tetapi jika wanita itu adalah Rana, memang rasanya aku harus menyerah.
Tentu saja, Rana adalah sosok dengan sejuta pesona yang tidak mungkin bisa digantikan begitu saja. Aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan wanita sesempurna Rana.
Terima kasih atas kebahagiaan singkat yang telah kamu berikan untukku. Aku nggak pernah menyesal pernah mengenal sosokmu.
Kamu nggak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Ya, aku sudah lebih baik sekarang. Karena ternyata merelakanmu jauh lebih melegakan hatiku daripada harus mempererat genggamanku kepadamu yang bahkan sudah tidak ingin bersamaku.
Sampai jumpa, Bi. Semoga hidupmu lebih bahagia. Dan aku pun berjanji akan bahagia setelah ini.
With love,
Naura C. Armilda
Tanpa disadari cairan bening itu lolos dari sudut matanya, membasahi surat yang ada di tangannya. Bintang lalu memeluk surat tersebut seolah surat itu adalah Naura. Hatinya semakin terasa sakit setelah membaca surat dari Naura. Benar kata Dyandra, ia sudah melukai Naura terlalu dalam. Sampai pada akhirnya Naura memilih untuk menyerah dan pergi.
Ingin rasanya memaki dan menghajar dirinya sendiri atas kebodohannya beberapa hari ini. Ingin rasanya marah kepada siapapun yang ada dihadapannya. Ingin rasanya menghukum dirinya sendiri karena telah menyakiti Naura.
Bintang mencoba menelepon nomor ponsel Naura, namun hanya ada suara mailbox. Bintang segera beranjak dari tempatnya, kembali menghampiri Gara yang sudah kembali ke balik meja baristanya.
"Ga, dimana Naura?" Wajah Bintang terlihat kusut, matanya memerah dan terlihat memelas. Gara yang awalnya marah pun akhirnya tidak tega. Biar bagaimanapun Bintang adalah sahabatnya.
"Sorry, bro. Gue juga belum tau dimana Naura. Dia emang janji ngabarin gue. Tapi sampai saat ini dia belom ngabarin gue. Hapenya pun off," jawab Gara jujur. Namun terlihat jelas Bintang belum mempercayai Gara.
"Please, Ga. Gue janji gue nggak akan nyakitin Naura lagi. Gue janji Naura akan jadi prioritas utama gue. Gue janji ...," Ucapan Bintang terhenti oleh tepukan di bahu Gara.
"Gue tau lo nyesel. Tapi sorry bro, gue bener-bener nggak tau Naura dimana. Dan lagi, Naura udah ngerelain lo. Jangan bikin semua jadi makin rumit," ucap Gara mencoba memberikan nasehat kepada Bintang. Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan ketidak setujuan atas pernyataan Gara.
"Nggak! Gue harus ketemu Naura. Setidaknya gue perlu menjelaskan semua ke dia. Gue bukannya nggak perduli sama dia, gue cuma ..., gue cuma marah sama dia. Gue tau gue keterlaluan tapi ...." Bintang tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Air mata tiba-tiba meluncur, dan dia tidak sanggup lagi berkata apapun. Rasa bersalah atas sikapnya pada Naura semakin memenuhinya menimbulkan rasa sesak di dadanya. Setidaknya ia ingin mengucapkan maaf kepada Naura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
Roman d'amourDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
