Sometimes,
two people have to fall apart,
to realize how much
they need to fall back together
***
Bintang masih terpaku ketika Naura meninggalkan cafe. Interaksi singkat keduanya pun tak luput dari pengamatan Gara. Gara pun menghampirinya.
"Terkadang merelakan itu lebih melegakan, Bi. Percaya Takdir Allah. Kalau kalian memang berjodoh, kalian pasti bakal bertemu lagi. Tanpa perlu memaksakan keadaan," ucap Gara sambil menepuk satu bahu Bintang. Helaan napas terdengar dari mulut Bintang.
"Mestinya gue nggak nyia-nyiain dia, Ga. Gue cuma teralihkan oleh Kirana sesaat. Dan sekarang gue harus nerima akibatnya."
"Setidaknya lo udah dapat pelajaran kan. Jangan pernah terlalu melihat ke belakang padahal ada seseorang menanti di hadapanmu."
Keduanya terdiam setelah kalimat terakhir Gara. Entah bagaimana, Gara yang biasanya slengek'an kini bisa berucap hal bijak yang sialnya benar adanya. Keheningan terinterupsi oleh dering ponsel Bintang.
"Mas Bi kemana? Kok nggak ke kamar Dydy sih?"
"Astagfirullah! Aku lupa, Ra. Tadi aku ketemu Naura dan aku ...,"
"Kak Chyntia? Seriusan Mas? Dimana Kak Chyntia sekarang Mas?" Ucapan Bintang terpotong oleh teriakan Kirana di seberang sana begitu mendengar Bintang bertemu Naura. Dan seketika itu pula Bintang merasa bersalah karena ia bahkan melupakan fakta bahwa Kirana membutuhkan Naura untuk menemukan Haviz.
"Udah balik. Sorry, Ra. Aku lupa menanyakan soal Haviz ke Naura." Terdengar helaan napas kecewa di seberang.
"Oh ya udah, nggak apa-apa Mas. Nanti aku coba cari tahu soal Kak Chyntia. Mas Bi sekarang dimana?" Terdengar jelas nada kecewa di ucapan Kirana.
"Aku di cafe, Ra. Kamu balik naik taksi aja ya? Sekali lagi, maaf."
"It's ok, Mas. Ntar aku balik sama Bang Rava aja."
Setelahnya mereka memutuskan sambungan telepon. Bintang pun segera mencoba menghubungi Naura lewat direct message di Instagramnya. Satu-satunya media yang bisa ia hubungi, meskipun tak pernah ada jawaban dari Naura.
Nau, aku akan menerima keputusanmu untuk berpisah. Tapi bisakah aku meminta bantuanmu sekali lagi? Tidak bisakah kamu memberitahukan keberadaan Haviz kepada Kirana. Kondisi Kirana saat ini sangat menyedihkan, dia jauh lebih buruk dariku. Aku mohon kamu bisa mempertimbangnnya. Terima kasih.
Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Kirana. Naura bahkan tidak mau terlalu lama bertemu dengannya.
* * *
Naura menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu. Membaca pesan dari Bintang bukanlah hal yang aneh. Hampir setiap saat Bintang mengirim pesan melalui Instagramnya. Namun baru kali ini Bintang membahas Kirana.
Naura sendiri bukannya tidak berusaha membujuk Haviz. Ia masih terus berusaha. Hanya saja Haviz terlalu keras kepala. Ia sendiri nyaris putus asa. Bahkan Aldric pun menyerah untuk membujuk Haviz.
Naura C Armilda : Kak Haviz, tidak bisakah kakak merubah keputusan Kakak untuk tetap menyembunyikan kondisi Kakak? Sungguh keputusan Kakak ini tidak hanya menyakiti Kirana dan orang tua Kakak, ini juga menyakiti Kak Haviz, Aldric bahkan Chyntia yang hanya melihat semua orang bersedih. Sungguh Kirana semakin terpuruk, Kak. Ia butuh berada di samping Kak Haviz untuk bisa tetap waras. Jangan sampai Kak Haviz menyesali keputusan Kakak. Aku mohon, Kak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
