And you know what hurt the most?
No matter how much time we spend together,
No matter what i say or do,
I'll always be your second choice.
🎵 Celine Dion - To Love you more
* * *
"Lo kenapa di sini, Ra?" tanya Aldric yang sudah beranjak dari kamarnya. Dua hari sudah aku menjaga Aldric di rumahnya. Dua hari ini pula Aldric benar-benar seperti putri tidur yang tidak bangun sama sekali. Tidak juga makan ataupun minim, hanya asupan cairan infus. Terima kasih kepada Dion yang mengirim satu perawatnya untuk membantuku.
Dan pagi ini ia sudah bangun dengan kondisi yang lebih segar. Aku sendiri sedang asik bermain lego yang ada di meja depan televisi. Mainan yang selalu ada di rumah kecil ini. Mainan yang selalu aku mainkan jika sedang berada di rumah Aldric. Karena memang hanya ini hiburan yang bisa dilakukan di tempat tinggal Aldric ini.
"Menurut lo? Ya gue jagain lo lah. Om sama Tante lagi umroh. Dinda juga jauh. Ajaib kalo lo bisa selamat sendirian di rumah, apalagi ternyata Bik Sum lagi cuti selama Om dan Tante umroh."
"Kenapa gue nggak rawat inap aja sih?"
"Gue nggak bisa jagain lo kalo lo rawat inap, Al. Makanya gue putuskan lo rawat jalan dengan gue sebagai jaminan memastikan lo bakal istirahat 24 jam," jelasku sambil tetap membentuk sebuah bangunan abstrak dengan lego milik Aldric.
"Haaahh.. lo dan pelarian ala drama korea lo. Sarapan apa pagi ini?" tanya Aldric sambil mendudukkan dirinya di sofa. Mendengar pertanyaan Aldric, aku pun menoleh dan menaikkan satu alis.
"Ya kali gue masak. Sarapannya delivery aja."
"Gue abis sakit, Ra. Kasih makanan rumah kek," aku mencebik mendengar ucapan Aldric.
"Yakin lo mau makan masakan gue? Gue sih ogah," ucap Naura sambil mengendikkan bahunya. Mereka berdua pun lalu terbahak bersama. Kami memang merupakan perpaduan sempurna. Kami selalu memahami satu sama lain.
"Gue udah go food-in buryam. Ntar lagi juga nyampe," Selanjutnya kami terdiam. Hening. Aku yang masih sibuk dengan lego dan Aldric yang memandang langit-langit rumahnya sambil memikirkan banyak hal.
"Lo nggak kerja dua hari ini?" Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Aldric.
"Lo jagain gue bukan karena sedang menghindari sesuatu kan, Ra?" Aku hanya mengendikkan bahu acuh. Aldric berdecak sebal karenanya.
Aku sangat ingin menceritakan apa yang terjadi padaku belakangan ini kepada Aldric. Tapi mengingat Kirana ada dalam cerita ini juga, yang mana nantinya bisa menimbulkan kepanikan dan juga kesedihan pada Aldric maka aku memilih diam dan tidak menceritakan hal ini.
"Gue cuma lagi ada salah paham sama Bintang. Dan sementara waktu gue pengen nenangin diri, Al," jelasku sesingkat mungkin. Kemudian aku mengalihkan pandangan pada Aldric? "Lo sendiri kenapa? Kecapekan, dehidrasi dan tertekan? Itu bukan lo banget," lanjutku dengan mata memicing ke arah Aldric.
"Mama mendesak gue buat nikah segera. Tapi Dinda seolah lupa dengan apa yang selama ini dia inginkan, ia menolak untuk menikah sekarang. Mama Papa kasih gue waktu sebulan buat bisa mendatangkan Dinda atau siapapun calon istri buat gue. Kalau nggak, gue bakal dijodohin." Penjelasan Aldric membuatku cukup kaget. Terjawab sudah rasa penasaranku dengan sikap linglung Aldric beberapa waktu lalu namun mengetahui perubahan sikap Dinda kepada Aldric membuatku benar-benar bingung.
"Dinda kenapa begitu Al?" Aldric mengendikkan bahu.
"Mungkin dia memang sedang fokus ke kariernya. Mungkin dia sudah lelah menanti lamaranku yang ternyata terlambat. Entahlah, Ra. Kenapa nasib kita nggak jauh beda? Lo dan perjodohan lo. Gue dan desakan menikah segera," ucap Aldric sambil tertawa hambar di akhir kalimat membuatku menatap miris kepada sahabat terbaikku ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
Roman d'amourDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
