"Loh ... Nau," ucap Bintang masih dengan keterkejutannya. Dibandingkan diriku, sepertinya dia jauh lebih terkejut.
Aku tersenyum canggunh. Sedang Bintang terlihat mengulum senyumnya.
"Hai, Bi."
Kami saling memandang dalam canggung kemudian terkekeh kecil menyadari tingkah konyol kami.
"Sepertinya aku harus kasih Dion hadiah spesial."
"Hah?" Aku menoleh dan mengernyit mendengar ucapan Bintang yang cukup absurd.
"Sudah baca DM-ku kan? Aku ada di sini karena menggantikan Dion yang harus menunggui Ibunya operasi. Awalnya aku protes dan meminta dia membelikanku sesuatu sebagai ganti, tapi setelah melihatmu, aku merasa akulah yang harus memberinya hadiah. Spesial." Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Bintang.
"Kamu apa kabar, Nau? You look much happier."
"Aku baik. Bekerja di sini, bertemu banyak orang baru dan berada dalam suasana pantai yang paling kusuka, setidaknya bisa membuat hati dan pikiranku manjadi jauh lebih ringan."
"Alhamdulillah ..., apa ...." Ucapan Bintang terhenti oleh bunyi ponselku. Bang Arsa meneleponku.
"Ya, Bang?"
"How's the preparation? Gue balik senin pagi nggak apa kan? Meski rapatnya terakhir besok." Aku berdecak mendengarnya.
"Everything's going well. But i object. Lo mesti balik jumat pagi, enak aja! Siapa yang selalu bilang kalau nggak boleh korupsi waktu kerja."
"Ck ..., sekali ini doang, Ra."
"Gue butuh lo, Bang. Hari Jumat ada rombongan dari Kementrian Pariwisata, lo lupa?"
"Right! Gue lupa, Ra. Hahaha. Ah ya! Jangan lupa Bastian hari ini ke Bali. Lo bisa konsul ke dia beberapa hari ke depan."
Aku menepuk dahiku. Aku nyaris melupakan kalau minggu ini adalah jadwal Bastian datang ke Bali yang artinya jadwalku konsultasi.
Aku belum memperkenalkan Bastian ya? Dia adalah Psikolog rekan dokter Jihan. Dia banyak membantuku selama aku ada di Bali. Ia tinggal di Jakarta namun selalu ada jadwal dua minggu sekali ke Bali untuk melakukan konsultasi kepada beberapa pasiennya di Bali. Cukup banyak pasiennya di kota ini, termasuk aku.
Aku suka cara dia membawa obrolan yang secara tidak sadar membawa alam bawah sadarku untuk lebih terbuka. Dia memberiku beberapa terapi untuk mengurangi depresiku. Dan aku lebih menyukai metodenya ketimbang harus bergantung pada obat-obatan. Dia juga yang selalu mendorongku untuk memperbaiki hubungan dengan kedua orang tuaku. Well, He's a talented psychologist.
"Ah ya! Gue nyaris lupa, Bang. Nanti gue telepon Bastian deh. Thanks for reminding me."
"Ya udah, gue cuma mau mastiin semua berjalan sesuai rencana. Jum'at pagi gue balik. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Pintu lift terbuka ketika sampai di lobi. Aku pun melangkah keluar. Dan ternyata Bintang mengekor di belakangku.
"Itu tadi siapa, Nau?" Aku mengernyit mendengar pertanyaan Bintang, "yang tadi telepon kamu siapa? Atasan kamu yang tempo hari bareng kamu ke rumah sakit?"
"Oooh, iya. Itu tadi Bang Arsa, atasanku." Entah mengapa aku merasa raut wajah Bintang berubah. Mungkinkah dia marah? Untuk apa coba?
"Kalian sedekat itu?"
"Tentu saja, kami sudah lama kenal, Bi. Jauh sebelum aku kenal kamu." Terdengar helaan napas dari mulut Bintang.
"Jadi, benar-benar nggak ada harapan?" Dahiku mengerut dalam mendengar pertanyaan Bintang, "sudah ada laki-laki lain penggantiku?" Aku sontak tertawa mendengar ucapannya. Bintang justru terlihat bingung mendengar tawaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
