Everyone wants happiness,
No one wants pain,
But you can't have rainbow,
Without a little rain.
* * *
Aku reflek menyunggingkan senyum membaca chat di Whatsapp grup bersama 40th level Centurion. Ya, grup itu menjadi grup tetap kami, meski penghuni sebenarnya telah berubah. Sudah tidak ada lagi diriku yang sudah resign serta Sandra yang dipindah tugas.
"Auw!" Lemparan bolpoin yang tepat mengenai kepalaku membuatku mengaduh. Aku segera menatap nyalang ke arah si pelempar. Iissh, dasar pengganggu kenikmatan orang!
"Lo di sini kerja. Belajar proses bisnis. Belajar seluk beluk perhotelan. Bukannya sibuk chattingab, Ra." Suara bariton dengan nada tegas dan tatapan menusuk terdengar sangat mencekam namun sedikitpun tak membuatku takut. Aku pun mendengus karenanya.
Ah ya perkenalkan, pemilik suara bariton yang menggangguku itu adalah Arsa, aku biasa memanggilnya Bang Arsa. Dia adalah atasanku di hotel ini.
"Ck. Sedikit ini. Capek gue Bang belajar mulu. Biarin gue refreshing mata sebentar."
"Jangan banyak alasan. Lo tiap hari minta refreshing mata mulu. Yang ke pantai lah, yang ke mall lah, sekarang chattingan. Belajar Ra. Belajar. Mau gue potong gaji lo?"
"Gila! Tega banget sih lo, Bang. Kasih gue longgar napa? Gue nyaris paham dengan semua proses bisnis hotel ini bahkan sampai ke hal yang terkecil," ucapku sedikit merajuk.
Memang sudah hampir dua bulan aku berada di Bali mempelajari tentang perhotelan. Dan aku tidak mengada-ada ketika mengatakan bahwa aku sudah nyaris menguasai semua hal bahkan sampai ke hal kecil sekalipun. Bang Arsa sendiri bahkan ku uat tercengang karena melihat kemampuanku. Benar kata Rava, cukup satu bulan bagiku mempelajari seluk beluk hotel ini.
"Kalau gue bisa bawa balik lo ke jakarta dalam waktu dua bulan, kenapa nggak? Jadi gue nggak bakal kasih longgar buat lo." Aku mencebik mendengar jawaban Bang Arsa.
"Eeeeh nggak ada ya. Perjanjiannya empat bulan ya empat bulan. Jangan main potong-potong dong, Bang. Gue masih pengen nikmatin saat-saat di Bali, Bang. Nikmatin hidup dikit napa? Jangan lempeng begitu."
"Lo yang kelewatan menikmati hidup, Ra. Gue nggak betah tinggal di sini. Enakan juga di Jakarta. Udahan deh sesi melarikan dirinya. Buruan balik ke Jakarta. Belom tentu juga dia bakal notice sama kembalinya lo." Ucapan Bang Arsa yang to the point tanpa sedikitpun merasa bersalah membuat wajahku berubah sendu.
Semenjak tinggal di Bali, hanya Bang Arsa satu-satunya rekan kerjaku. Meski Bang Arsa orang yang cukup dingin dan membosankan, tapi hanya Bang Arsa yang bisa kumintai bantuan ketika tiba-tiba sakitku kambuh. Meski memang ada Sandra, tetapi Bang Arsa lah yang lebih banyak bersamaku. Oleh karena itu, sedikit banyak Bang Arsa tahu mengenai kisahku.
Ah ya, Sandra dipindah tugaskan oleh Aldric di salah satu cabang perusahaannya di Bali. Ia dipromosikan menjadi general manajer di cabang Bali.
"Bang, bisa nggak ngomongnya nggak nyelekit gitu. Nyebelin banget." Aku menggerutu sebal dengan ucapan Bang Arsa barusan. Aku melempar kembali bolpoin ke arah Bang Arsa. Bukan tanpa alasan, Aku memang terlihat bahagia dan baik-baik saja di luar. Tapi Bang Arsa tahu betul bahwa aku masih menderita. Hatiku masih sakit meski di mulut aku berkata merelakan, namun jauh di lubuk hatiku aku belum merelakannya. Hal tersebut terbukti dari sakitnya yang kambuh beberapa kali.
"Gue cuma bicara jujur, Ra. Jujur tapi menyakitkan lebih baik dari pada membahagiakan tapi hanya kebohongan," jawab Bang Arsa penuh arti. Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Sekali Arsa berbicara serius ucapannya selalu benar dan masuk akal. Naura hanya menghembuskan nafas kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
