Love comes with the most unexpected person,
In the most unexpected place,
At the most unexpected time.
****
"Happy bday, Chyn." ucap Aldric ketika aku membukakan pintu pagi ini. Aku menatapnya malas, karena Aldric datang terlalu pagi. Ini benar-benar masih terlalu pagi untuk pengangguran sepertiku bangun!
"Telat. but thanks anyway. Mana kadonya?"
"lo udah bukan anak kecil lagi yang minta kado tiap ultah, Chyn." jawab Aldric sambil ngeloyor masuk ke dalam apartemen, "tapi gue bawa ini." lanjutnya sambil mengangkat tangannya yang membawa paperbag brand terkenal favoritku. Melihat ukuran paperbag-nya aku yakin itu adalah tas. Netraku seketika berbinar cerah melihatnya. It's been a long time since the last time i brought a brand new bag!
"Wah thanks ya Al. You're the best deh." ucapku antusias sambil menerima paperbag tersebut, "lo abis dari jengukin Dinda?"
"Iya, kangen gue ma Dinda. Udah dua bulan nggak ketemu. Dia sibuk banget." Nada suara itu datar namun jelas terpancar kekecewaan dan kesedihan. Penolakan lamaran oleh Dinda beberapa bulan lalu benar-benar membuat Aldric kecewa. Meski hubungan mereka tetap berlanjut, tapi kini hubungan mereka semakin renggang. Aku menepuk bahu Aldric pelan.
"Kasih Dinda kesempatan buat mewujudkan impian dia, Al. Dia udah nungguin lo selama 6 tahun ini. Nggak ada salahnya kalau lo nungguin dia beberapa lama lagi kan?"
"I don't mind waiting for her, tapi nyokap bokap udah desak gue buat buru-buru nikah. Gimana mau nikah? Calonnya aja sekarang pergi jauh begini."
"Paling nggak lo tau keberadaannya kan." Jawabku datar membuat satu alisnya menukik tajam
"Itu kenapa responnya begitu?"
"Rana telepon gue kemarin. Masih gigih dia cari keberadaan Kak Haviz. Dan gue nggak tega tahu kondisi dia begitu." Aldric terdengar kaget dengan penjelasanku. Aneh jika dia kaget, aku yakin Aldric tahu selama ini Rana mencari Kak Haviz. Dan aku tahu pasti, Aldriclah yang menutup segala akses informasi Kak Haviz.
"Mau gimana lagi? Ini permintaan Mas Haviz."
Tidak ada pembicaraan lagi setelah jawaban Aldric yang terakhir. Aku sedang tidak ingin berdebat masalah ini. Sedang Aldric sendiri mungkiin sedang merasa bersalah kepada Kirana, atau mungkin semua orang, karena menyembunyikan keberadaan Kak Haviz tersebut. Keheningan di antara kami terhenti karena bunyi bel apartemen.
"Siapa yang dateng pagi-pagi gini Chyn?"
"Palingan Bintang." jawabku sambil bangkit menuju pintu untuk membukakan pintu apartemen.
"Loh ada Aldric? Sorry gue cuma bawa sarapan buat gue sama Naura, Al." ucap Bintang kepada Aldric begitu ia masuk dan melihat sosok Aldric.
"Eh nggak apa kok Mas. Gue ke sini cuma mau kasih ucapan ultah ke Naura. Gue mau langsung balik." ucap Aldric sambil berdiri dan mengambil tas punggungnya. "Abis ini ada meeting. Thanks to my new secretary, jadi gue mesti ngerjakan semua persiapan sendiri." Aku reflek tertawa mendengar lanjutan kalimat Aldric tersebut.
"Hahaha.. Sapa suruh lo mecat gue?"
"Ck.. Sapa suruh lo punya ortu serem gitu?" Dan aku tertawa makin keras mendengar jawaban Aldric.
"Andai gue bisa milih Al." Tawaku terdengar makin sumbang. Miris terhadap kondisi keluargaku sendiri.
"Udah ah! Disyukuri, Chyn." ucap Aldric sambil mengusap pucuk kepala Naura, "ya udah gue balik dulu. Assalamualaikum." setelahnya Aldric juga pamit pada Bintang dan segera meninggalkan apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomansDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
