Dengerin lagu dimulmed dulu sebelum baca atau sambil baca juga boleh. Sumpah lagunya dalem banget. Bikin mewek. Mewakili perasaan Naura di episode ini.
* * *
Don't worry when i fight with you,
Worry when i stop, because it means
There's nothing left for us to fight for.
* * *
"Mas Haviz sakit kanker. Leukimia stadium akhir. Hidupnya tidak lama lagi. Jadi ikhlaskan dia, Ra. Dia hanya ingin pergi dengan tenang." Bukan aku yang menjawab pertanyaan Kirana dengan seketus itu. Aku menoleh ke asal suara dan membelalakan mata melihat Aldric sudah berdiri di belakangku. Wajahnya menatap Kirana datar. Aku berbalik dan mendekati Aldric.
"Al, please...,"
"Lanjutkan hidup kamu, Ra. Jangan hanya stuck dengan Mas Haviz. Dia nggak mau ketemu sama kamu. Tolong hentikan dramamu ini," Lagi Aldric mengucapkan dengan dingin. Tatapan matanya datar. Aku memejamkan mata melihat sikap Aldric yang seolah membenci Kirana. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Yang Aldric ucapkan menyakiti Kirana, dan mungkin juga dirinya sendiri.
"Stop Al!" ucapku setengah berteriak, "lo nggak berhak ngomong gitu. Mas Haviz yang berhak. Jangan memperkeruh keadaan." Aku menatap nyalang ke arah Aldric. Apa yang dia ucapkan itu keterlaluan. Aku bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Kirana karena ucapan Aldric. Aldric pun membalas tatapanku tidak kalah tajam. Tidak ada satupun dari kami yang berniat mengalah. Sampai hal yang terjadi berikutnya membuatku terpaku.
Kirana berjalan mendekati kami, berdiri menghadap Aldric dan sedetik kemudian ia berlutut di hadapan kami. Aku segera mensejajarkan diri untuk menariknya kembali berdiri, namun Kirana bergeming. Ia tetap pada posisinya. Kedua tangannya ia satukan dan dengan gerakan memohon dia mulai berucap.
"Kak Al, tolong Kak. Aku mohon. Aku butuh Mas Haviz. Aku bisa gila kalau harus seperti ini. Paling tidak, biarkan aku berada di sisinya ketika ia mengalami masa sulitnya. Biarkan aku menemaninya sampai saat terakhirnya. Aku mohon, Kak." Jangan tanya bagaimana raut wajah Kirana saat ini. Wajahnya kacau, berurai air mata, ia bahkan tidak perduli seluruh pengunjung dan pegawai cafe memperhatikannya dengan wajah prihatin.
"Ra, please jangan gini. Bangun dulu, Ra." Kirana tetap pada posisinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku akhirnya berdiri menatap tajam ke arah Aldric. Melalui mata aku memohon padanya untuk menghentikan semua ini.
Aldric menghela napas kasar dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Kirana hendak mengejar Aldric namun aku menahannya. Percuma. Aldric terlalu keras mengenai Kak Haviz.
"Nanti dulu, Ra. Kasih aku waktu buat meyakinkan kedua kakak beradik itu." Aku menuntun Kirana untuk duduk di sofa. Memberi isyarat kepada Gara untuk membuatkan minuman untuk Kirana. Kami diam selama beberapa menit, sampai sebuah suara menginterupsi kegiatan kami. Aku sedang mengaduk latte-ku ketika suara terdengar.
"Ra ...," Tanpa perlu menoleh pun aku tahu pasti bahwa itu suara Bintang. Dan panggilan itu jelas untuk Kirana. Oleh karena itu aku tidak berniat mendongakkan kepalaku. Rasa sakit itu kembali muncul. Sial!
"Kamu kenapa Ra?" Suara itu melembut ketika menanyakan keadaan Kirana. Dan hatiku terasa perih mendengar kelembutan itu. Kelembutan yang pernah kurasakan meski sesaat. Kelembutan yang kini menghilang dariku.
"Aku nggak papa, Mas. Hanya sedikit kacau karena belum dapat titik terang mengenai Mas Haviz."
Aku tidak sanggup jika harus berlama-lama ada pada situasi ini. Rasa sesak kembali melingkupiki. Aku harus segera menjauh dari dua manusia di hadapanku ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
