Bahagia itu, ketika aku yakin
sesulit apapun hidup,
aku punya kamu
yang selalu bisa kuandalkan
***
"Gue butuh bantuan lo, Al," ucapku langsung ketika teleponku diangkat oleh lelaki di seberang sana. Senyumku semakin lebar ketika mendengar dengusan dari ujung sana.
"Lo apaan sih, pagi-pagi ganggu aja! Kenapa Chyn?" jawab Aldric dengan suara masih serak namun masih tetap terdengar ketus. Ia pasti baru bangun tidur. Suara serak dan penuh kejengkelan tersebut menguatkan dugaanku.
"Gue mau pinjem apartemen lo. Dan gue juga butuh kerjaan. Di perusahaan lo ada posisi yang pas buat gue nggak?" tanyaku langsung tanpa basa basi sedikitpun. Ini masih sangat pagi dan berbelit-belit hanya akan membuat mood Aldric semakin berantakan. I need his help, afterall.
"Gile! Kesambet apa lo, pagi-pagi minta kerjaan, minjem apartemen lagi." Suara Aldric masih terdengar ketus namun samar terdengar nada khawatir. Dia memang sahabat terbaikku.
"Gue lagi kabur dari rumah. Perang dingin sama bokap. Semua card gue diblokir dan gue mendadak miskin—" jelasku yang terpotong karena Aldric yang tertawa dengan lantang. Suara tawa yang mampu membuat telingaku sakit. Membuatku mencebik. "Ih malah ketawa dia! Lo temen gue bukan? Bantuin kek."
"Nah sekarang lo ada dimana?"
"Di Sheraton. Dan gue nggak mungkin lama-lama di sini. Duit cash gue makin menipis."
"Kancuut, kere tapi nginep masih di Sheraton." Aldric mengumpat dan berdecak sebal. "Lo bisa pake apartemen gue yang di Senen. Kecil Chynt, cuma ukuran studio, that's my first apartment. Dan kalau lo mau kerja di perusahaan gue, posisi yang lagi kosong cuma jadi sekretaris gue. Kebetulan gue abis pecat sekretaris gue karena kerjanya nggak becus," lanjut Aldric cepat, nyaris tak terdengar saking cepatnya ia berujar. Namun aku cukup menangkap poin bahwa ia menemukan solusi untuk masalahku. Jangan kaget. Aldric ini sahabatku sejak TK. Dia pasti selalu bisa diandalkan.
"Seriusan nih? Oke gue mau! Thanks banget ya. Love you, Al. Mmmuaaacchh!" Mungkin ponselku berubah basah karena ciuman lebayku untuk Aldric. Peduli amat.
"Jijik gue Chynt! Lo dateng ke kantor pagi ini ya. Pake baju kantoran, jangan kayak mau fashion show. Gue usir bener ntar!" ucap Aldric memerintah yang juga memperingatkanku. Tentu saja dengan segera kusanggupi. Padahal, entah aku punya baju formal atau tidak.
Aku segera mempersiapkan diri. Beruntung aku membawa serta satu koper berisi barang-barangku. Di antara tumpukan baju tersebut masih ada beberapa baju formal yang layak kupakai untuk bekerja. Dan setelah siap, aku segera berangkat menuju kantor Aldric.
Kenapa bisa aku tiba-tiba miskin dan lari dari orang tuaku? Panjang ceritanya. Akan ku jelaskan nanti, seiring dengan berjalannya kisah ini. Yang jelas, saat ini aku ternyata harus bernasib sama dengan Rana. Lari dari keluargaku. Ya walaupun, technically, aku nggak bisa disebut benar-benar lari ketika aku masih jelas-jelas berada di kota yang sama dengan mereka.
***
"Wow! what a kinda Naura Chyntia Armilda Bhaskara. Yakin ini Tuan Putrinya keluarga Bhaskara?" ucap Aldric sambil mengulum senyumnya. Hanya sesaat karena kemudian ia tersenyum. Senyum itu senyum mengejek. Jelas sekali. Ingin rasanya mencabik mulutnya yang tersenyum menyebalkan tersebut. Tanpa dipersilahkan, aku duduk di sofa yang berada di ruang kerja Aldric.
Aku memandangi sekitar ruangan. Jendela kaca besar persis di belakang meja kerja Aldric bisa menjadi penghilang penat kala beban kerja menumpuk. Nuansa warna hitam, putih dan abu sangat mendominasi. Manly, jelas persis seperti selera Aldric. Aku sendiri memang nyaris tidak pernah memasuki ruangan kerja Aldric ini. Aku tidak terlalu suka bertemu di suasana formal semacam kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
Storie d'amoreDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
