41 - Al's Wedding

8.6K 728 121
                                        

Death keeps the body
God takes the soul
Our mind holds the memorie
Our heart keeps the love

🎵 Afgan - Bunga Terakhir

* * *

Aku bingung harus bagaimana. Langsung pergi ke Singapore? Membangunkan Bintang dan mengajaknya? Ah ya! Mestinya aku bertanya pada Rava. Namun, ini sudah larut malam.

Ya, beberapa jam lalu Sandra memberikan kabar bahwa Aldric akan menikah dengan Kirana. Yang benar saja! Jelas sekali mereka itu tidak saling mencintai. Skenario apa lagi ini? Aaarrgghhh, kepalaku rasanya mau pecah karena memikirkan masalah ini.

"Bi ... bangun Bi." Aku mengguncang tubuh Bintang. "Bi, ayo bangun ... aku butuh diskusi sama kamu." Sekali lagi mengguncang tubuh Bintang. Tubuh Bintang bereaksi, namun hanya bergerak dan menggumam tidak jelas.

"Kenapa, Nau?" gumam Bintang dengan mata masih menutup. Ya Ampun, harus banget Bintang tidur kayak kebo pas lagi genting begini sih!

"Bangun dulu, Bi." Sekali lagi aku mengguncang tubuh Bintang.

"Hmmm." gumamnya tak jelas dan mata masih tertutup

"Iiissshh susah banget sih dibangunin." Aku berjalan mengambil gelas dan air mineral. Kucelupkan tangan ke dalam gelas berisi air dan kemudian menyipratkannya ke muka Bintang. Beberapa kali kulakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Bintang menyerah dan bangun.

"Bi please. Ini ada hal mendesak."

"Kenapa Nau? Ini masih jam 12 malem lho," ucap Bintang kesal sambil melirik jam tangannya di atas nakas.

"Sandra barusan telepon aku. Aldric mau nikah, Bi. Dan dia sembunyiin ini dari aku." Terlihat kerutan di dahi Bintang setelah mendengar ucapanku. Raut wajahnya berubah menjadi ... kesal? Entahlah.

"Bagus dong. Mestinya kamu ikut seneng."

"Iiissshhh, serius Bi. Kita mesti ke Singapore pagi ini juga. Aldric bakal nikah pagi ini."

"Kenapa sih Nau? Kamu cemburu? Nggak rela Aldric nikah?" sewot Bintang. Ya Tuhan, dia sedang cemburu! Ah, how cute! Aku tersenyum geli menyadari sikap cemburu Bintang.

"Diiih yang lagi cemburu. Masak iya cemburu sama Aldric. Dia itu udah kayak saudara buatku, Bi."

"Terus kenapa kamu kayak kebakaran jenggot gitu?" tanya Bintang sambil menatapku curiga. Satu alisnya naik meminta jawaban segera.

"Iiisssh, yakin deh abis ini kamu yang bakal kebakaran jenggot." Bintang masih menatapku tajam dalam diam. Membuatku berdecak. Nggak asik!

"Yang Aldric nikahi besok pagi itu ...," Sesungguhnya aku sedikit merasa ragu untuk mengungkapkanya. Membayangkn jika nanti Bintang lebih mementingkan Kirana daripada diriku, membuatku khawatir. Aku mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya meneruskan, "Rana."

Netra Bintang terbelakak.

"What? Jangan bercanda, Nau."

"Aku nggak bercanda, Bi. Makanya kita harus ke singapore segera. Besok jam 10 pagi akad nikah mereka. Ya Allah, apa sih yang ada di pikiran mereka." Aku meracau semakin frustasi. Ini gila! Keputusan mereka ini tidak bisa kunalar sedikitpun.

"Kita ke tempat Rava dulu aja."

"Udah malem, Bi."

Ini sudah dini hari, rasanya sungguh tidak sopan mengganggu Rava. Bintang terlihat gelisah dan frustasi. Sungguh itu sedikit mencubit hatiku. Namun, aku berusaha menepisnya. Aku masih memperhatikan Bintang yang mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Love You, Latte! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang