6 - This Cool Barista

8.3K 744 24
                                        

Dan yang saya butuhkan cuma latte,
agar kondisi saya kembali seperti semula

***

"Hahhhh!"

Aku bangun dan terduduk merasakan sensasi hebat di tubuhku. Nafasku tersengal dan aku merasakan sesak di dada. Lagi-lagi, tidak ada mimpi buruk tetapi dadaku bagi dihimpit batu besar, rasanya sesak. Kenapa kehilangan Rava bisa sebegini besar efeknya bagiku. Aaarrgggh. Aku menepuk pelan dadaku dan memejamkan mata berharap mampu meredakan rasa sakit yang selalu menyiksa ini.

Aku terdiam beberapa saat. Setelah merasa sedikit baikan, aku bangkit dari dudukku. Melirik sekilas ke arah nakas di samping tempat tidur. Mengecek ponsel dan melihat jam berapa saat ini. Tidak ada notifikasi penting selain teman-temanku yang mengkhawatirkan kondisiku. Sekarang jam 1 siang, dan perutku pun merasa lapar. Dan jelas tidak akan ada makanan yang bisa kumakan di sini.

Akupun bergegas ke kamar mandi, mencuci muka dan mengganti baju. Aku perlu mencari makan di luar, sambil minum latte di tempat Gara. Saat ini latte yang kubutuhkan untuk menenangkan pikiran dan gemuruh di dada.

Ketika hendak keluar, aku sempat melirik ke arah meja makan dan melihat sticky notes yang ditinggalkan Bintang serta bungkusan obat milikku. Aku menghampiri meja, menyimpan nomor telfon Bintang dan menyambar obat kemudian segera bergegas pergi. Perutku sudah protes gila-gilaan.

Tidak perlu waktu lama bagiku sampai ke Boun Coffe. Karena memang jarak apartemen dengan caffe tersebut dekat. Aku segera memasuki cafe dan melirik ke arah tempat dimana aku biasa duduk. Menghampiri tempat tersebut saat kupastikan kosong dan....

"Sepertinya saya sudah cukup jelas waktu bilang kamu butuh istirahat dan seharusnya kamu nggak ada di sini sekarang, Naura."

Deg.

Aku menolehkan kepala perlahan, memastikan pendengaranku. Mataku membola melihat sosok itu. Bagaimana...

"Ka.. kamu? Kok ada di sini?" tanyaku
spontan.

"Harusnya saya yang tanya seperti itu. Kamu sudah janji untuk istirahat, bukan? Apa perlu saya seret kamu kembali ke rumah sakit?" Well, aura laki-laki ini sangat menyeramkan. Tapi aku rasa dia tidak perlu sebegitu marah padaku.

"Saya bukan sakit parah yang harus dikurung di kamar. Saya bahkan bisa berjalan kaki dengan selamat sampai ke sini. Saya sudah cukup sehat. Lagipula.. saya butuh makan." jawabku  tak kalah ketusnya. Aku tidak perduli kalaupun laki-laki ini yang sudah menyelamatkanku bahkan memberiku makanan pagi tadi. Aku benar-benar merasa dongkol dengan sikap laki-laki ini yang terlalu mencampuri urusanku.

"You can call a delivery food. Or at least you can call me! Saya bahkan belum yakin kalau kamu benar-benar sehat." Suara Bintang terdengar meninggi. Terlihat jelas kemarahan namun juga kekhawatiran di matanya. Tunggu, dia khawatir?

Aku dapat mendengar helaan napasnya dan bagaimana dia memejamkan mata untuk meredam emosinya.

"Maaf. Maafkan emosi saya yang tidak terkendali. Saya hanya khawatir dengan kondisi kamu."

"It's oke. Saya juga minta maaf karena sudah ingkar janji. Saya hanya terlalu lapar dan bosan berada di kamar seharian." jawabku dingin. Jujur, aku masih kesal dengan sikap berlebihan laki-laki di hadapanku ini.

Kami terdiam sesaat sebelum sebuah suara memecah keheningan. "Lo berdua.... udah kayak sepasang kekasih yang lagi cekcok. Kecuali cara kalian memanggil satu sama lain. It's akward." Itu Gara. Yang berjalan mendekat ke arah kami. Terlihat jelas senyum seringai menggoda di wajahnya.

Love You, Latte! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang