Sometimes,
Forgiveness is for past reconciliation,
not for a future consideration.
🎵 Conrad Sewell - Start Again
* * *
"Naura." Suara bariton itu membuatku menegang. Aku bahkan tidak berani menoleh kan kepalanya. Aku hanya terpaku dengan kedua tangan masih menutupi wajahku.
"Nau, ini bener kamu? Nau, Maaf. Aku ... maaf." Ya, laki-laki itu adalah Bintang.
Entah bagaimana kami bisa berada di tempat dan waktu yang sama denganku. Padahal aku sengaja memilih mengenok Dyandra di jam kerja, agar kemungkinan ini bisa ku hindari. Aku merasakan ada seseorang beberapa langkah di hadapanku. Dan aku yakin itu Bintang.
Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya membuka kedua tanganku dan menengadahkan kepalaku ke arah Bintang dengan senyuman yang kubuat senormal mungkin.
"Hai, Bi."
"Nau," Bintang melangkah mendekatiku, hendak menyentuh tanganku namun terhenti karena gerakanku yang berdiri dan hendak menghindarinya, "aku minta maaf Nau. Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji cuma kamu yang akan jadi prioritasku. Tapi aku mohon jangan pergi dariku, berhenti marah kepadaku. Berhenti menghukumku," lanjut Bintang dengan raut muka penuh permohonan. Jujur, aku merasa iba melihat Bintang. Akan menjadi hal yang sangat mudah untuk memaafkan Bintang dan kembali padanya jika terus melihat Bintang seperti itu. Namun aku segera menepisnya dan tersenyum penuh arti.
"Aku nggak pernah marah sama kamu, Bi. Apalagi menghukummu. Aku hanya menyadari satu hal. Kita memang tidak tercipta bersama. Well, seharusnya sudah sejak dulu aku memahami ini, namun entah mengapa aku kembali mencoba berusaha. Namun ternyata usaha keras saja tidak cukup. Jadi aku memilih melepasmu, Bi. Aku bukan marah sama kamu, aku hanya merelakanmu untuk bahagia," ucapku yang membuat Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ucapanku.
"Bahagiaku sama kamu, Nau. Bahagiaku kalau ada kamu." Aku masih bergeming mendengar ucapan Bintang. Bintang mendekatiki, berlutut dihadapan Naura dan menundukkan kepalanya. Aku pun terduduk kembali di kursi, dengan Bintang yang berlutut di hadapanku.
Tubuhnya bergetar, terlihat jelas bahwa ia sedang menangis. Aku tidak menyangka kepergianku menimbulkan efek sebesar ini padanya. Aku pun segera membungkukkan badan mencoba menegakkan tubuh Bintang namun Bintang menolak.
"Jangan gini, Bi."
"Aku tahu aku bodoh. Yang aku lakukan kemarin sungguh bodoh. Aku marah untuk hal yang tidak seharusnya dan aku menghukummu dengan terlalu kejam. Aku minta maaf, Nau. Aku mohon. Aku butuh kamu. Dua bulan ini serasa di neraka. Bahkan aku merasa seperti orang gila," ucap Bintang dengan penuh penyesalan. Aku bahkan bisa merasakan jelas penyesalan tersebut. Namun, aku terlalu takut. Dan aku sudah memutuskan untuk tidak kembali jatuh di lubang yang sama.
"Maaf, Bi. Aku terlalu takut. Jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya itu sangat menyakitkan. Aku masih bersyukur karena aku tidak sampai gila. Aku bersyukur aku tahu kapan harus berhenti berusaha. Dan untuk saat ini, kondisi seperti ini jauh lebih aman bagiku. Berbahagialah, Bi. Bukan denganku, tapi dengan orang lain. Kirana mungkin," Senyuman tak lepas dari wajahku ketika mengucapkan hal ini. Aku harus bisa menunjukkan kalau aku baik-baik saja.
"Tapi Nau ...," ucapan Bintang terhenti karena dering teleponku yang berbunyi. Aku segera mengecek ponselku, dan ternyata dari Bang Arsa. Sedikit mengerutkan kening, aneh jika Bang Asa meneleponku.
"Naah di sini ternyata. Ditungguin Mama, Ra," ucap Bang Arsa yang membuatku mengernyit. Mama yang mana? "Kan tadi aku udah bilang. Tungguin. Kenapa ditinggal," lanjut Bang Arsa dengan nada lembut tidak seperti biasanya. Membuatku makin mengernyit. Namun kemudian aku tersadar, Bang Arsa sedang berusaha membantuku keluar dari situasi ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
