It's okay to lose your pride
Over someone you love.
Don't lose someone you love
over your pride
🎵 Bon Jovi - Always
* * *
"Selamat malam. Mohon maaf, saya bingung harus menelepon siapa. Apakah ibu mengenal pemilik ponsel ini? Pemiliknya mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit Harapan Kita. Itu rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian," ucap seseorang di seberang telepon yang langsung membuat Dyandra mematung. Bintang mengalami kecelakaan. Dyandra segera membangunkan Rava dan mereka pun segera menuju ke RS Harapan Kita.
Karena sudah dini hari maka kondisi jalanan Jakarta cukup lengang, sehingga Dyandra dan Rava tidak butuh waktu lama untuk sampai di Rumah Sakit Harapan Kita. Dyandra dan Rava segera berlari menuju IGD rumah sakit tersebut. Setelah mendapat informasi dari bagian administrasi IGD, Dyandra segera menghampiri bilik dimana Bintang di rawat. Bintang masih tidak dasarkan diri. Dokter bilang ia hanya perlu istirahat sampai infusnya habis. Sekitar 2-3 jam lagi.
"Kenapa Mas Bi jadi gini ya Pa? Bunda kasihan liatnya. Tapi Bunda juga masih jengkel dengan kelakuan Mas Bi tempo hari," ucap Dyandra pada Rava yang duduk di sampingnya. Mereka kini sedang menunggu di ruang tunggu rumah sakit.
"Apa kita kasih tahu aja ya dimana Chyntia?" tanya Rava kepada Dyandra. Dyandra langsung menoleh dan menatap Rava dengan tajam.
"Nggak. Belum saatnya. Enak aja udah bisa langsung ketemu Mbak Chyntia."
"Mau menghukum Mas Bintang sampai kapan, sayang? Dua bulan penuh dengan penyesalan aja Mas Bi jadi kacau begini. Kalau Bunda nunggu lebih lama lagi, bisa-bisa Mas Bi kehilangan pekerjaannya," ucap Rava mencoba untuk merubah pendirian Dyandra.
"Itu resikonya Mas Bi. Siapa suruh menghadapi masalah dengan cara ekstrim kayak gini. Keputusan ada di tangan Mbak Chyntia, Pa. Bukan di tangan kita," jawab Dyandra masih dengan emosi. Dyandra memang merasa prihatin dengan Kondisi Bintang, tetapi baginya itu bukan menjadi alasan untuk dia memberitahukan keberadaan Naura. Itu adalah hak Naura sepenuhnya. Rava sendiri hanya bisa menyetujui kemauan Dyandra.
"Semoga semua akan baik-baik saja ya, Bun."
Dyandra dan Rava pun menghampiri Bintang setelah perawat memberitahukan bahwa Bintang sudah siuman. Setelah menyelesaikan segala administrasi, mereka pun pulang bersama dalam satu mobil menuju ke rumah Dyandra. Sepanjang perjalanan hanya hening yang menemani. Tidak ada satupun dari ketiga orang tersebut yang berniat untuk memulai pembicaraan. Masing-masing tahu bahwa pembicaraan apapun akan berakhir dengan pertengkaran.
* * *
"Dek," Dyandra menghentikan langkahnya ketika suara Bintang mengalun memanggilnya.
Sudah dua bulan ini hubungan keduanya bisa dibilang dingin. Dyandra masih dengan rasa marahnya pada Bintang dan Bintang masih dengan rasa bersalahnya sehingga mengatakan apapun pada Dyandra tak sanggup.
"Berhenti bersikap bodoh dan ngawur seperti tadi. Mas Bi bukan hanya bisa mencelakai diri sendiri, tapi juga orang lain," ucap Dyandra ketus.
"Maaf."
"Nggak ada yang perlu Dydy maafkan." Dyandra sudah akan meninggalkan Bintang ketika kemudian Bintang berucap.
"Maaf karena sudah menjadi bodoh dan menyia-nyiakan apa yang sudah kumiliki. Maaf karena sudah membuat Naura pergi. Maaf ...,"
"Minta maaf sama Mbak Chyntia, Mas. Bukan sama Dydy." Ucapan Bintang dipotong oleh Dyandra.
"I would love to, dek. Tapi bahkan aku nggak tahu dimana Naura sekarang," Bintang menghela napas frustasi, "benar, karma does exist. Setelah aku membuat Naura kembali sakit, kini aku harus menerima rasa sakit yang jauh lebih sakit saat kehilangan dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You, Latte! (COMPLETED)
RomanceDan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara *** Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia. Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018. Dan sekarang dalam pro...
