23 - And here comes the truth

7K 635 32
                                        

With all the smiles you brought me,
I never thought that you could cause me so many tears

***

"Muka lo napa suntuk begitu?" tanya Aldric ketika aku menemuinya di kantornya. Lagi-lagi Aldric memintaku membantunya mengurusi project barunya.

"Kagak ada ya muka gue suntuk. Lo tuh, muka udah kayak orang linglung." Dan ini benar, Aldric terlihat lelah, banyak pikiran dan mungkin stres? Entahlah, wajahnya menunjukkan kalau ia sedang tidak baik-baik saja.

"Nggak usah bohong. Gue tau lo lebih dari siapapun di dunia ini." Aku berdecak mendengar ucapannya yang sialnya memang benar. Kalau harus menyebutkan siapa orang yang paling memahamiku, orang itu tentunya Aldric.

"Wanita yang Bintang cintai, dia kembali," ucapku menjeda sejenak melihat reaksi Aldric yang masih nampak linglung, "dan kami sempat berantem karena hal itu. Gue mulai ngerasa nggak yakin sama hubungan ini. We wouldn't make it."

Aldric masih diam. Netranya memandang kosong ke arahku. Pancaran wajahnya sendu. Aku sangsi jika dia mendengarkan ucapanku barusan. Entah kenapa aku merasa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalahku padanya.

"Forget it, Al! Lo yang kenapa? Is there Something happens?" Aldric terlihat menghela napas dan memejamkan matanya sejenak.

"Nothing. Just the same old thing. Sulit untuk menyembunyikan keberadaan Mas Haviz dari Papa dan Mama sementara gue harus fokus di kerjaan juga harus fokus menjaga komunikasi dengan Dinda yang akhir-akhir ini sulit untuk kuhubungi."

Aku ikut menghela napas mendengar penjelasan Aldric. Sahabatku ini sudah cukup banyak menderita selama ini, tidak bisakah Tuhan memberinya sedikit saja kebahagiaan.

"Gue juga udah kehabisan akal buat bujuk Kak Haviz."

"Lo tau sekeras apa Mas Haviz, Ra." Aku mengernyit mendengar panggilannya.

"Ra? Wow that's rare!" Aldric berdecak mendengar ucapanku.

"The same old time, Ra. Gue jadi inget masa-masa kuliah. Naura was your favourite name back then."

"It's still my favourite name now"

"Enough with that. Lo curhat apa tadi? Bintang?" Aku berdecak sebal ketika Aldric kembali membahas masalahku. Tadi saja dia tidak menyimak ucapanku.

"Males bahas itu. Lo bahkan nggak dengerin gue cerita!"

"Gue denger! Justru gue kira masih ada lanjutannya. Aneh aja lo berantem sama Bintang cuma karena cewek yang dia cinta tiba-tiba balik ke sini. Dimana letak masalahnya coba?" Secara otomatis aku meringis mendengar ucapannya. Benar juga! Ceritaku belum lengkap.

"Hari itu, dia janji mau jemput gue dan dia lupa. Gue bahkan harus nunggu dia sampe cafe nyaris tutup. Dia lupa janjinya karena harus membantu wanita yang dia cinta itu, Al," ucapku memulai penjelasan. Aldric menaikkan satu alisnya seolah meminta penjelasan lebih, "seketika itu pula gue ngerasa hubungan kami nggak akan bisa berhasil terlebih ada wanita itu di antara kami. Gue takut, Al. Gue nggak mau jatuh ke lubang yang sama. Sakitnya akan semakin membekas."

Aldric terlihat beranjak dari kursi kebesarannya. Ia berjalan ke arahku, berlutut di depanku sambil menatapku lekat.

"Justru lo mestinya bersyukur untuk itu, Ra. Bintang jujur ke lo. Itu artinya, dia mengganggap lo itu signifikan dalam hidupnya. Dia nggak mau berbohong sama lo. Dan seharusnya lo menghargai kejujurannya," Aldric terdiam sesaat, menepuk lembut puncak kepalaku, "Memangnya Bintang terlihat ragu? Atau ..., dia yang minta kalian mempertimbangkan lagi hubungan kalian?" Aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Aldric.

Love You, Latte! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang