Dan Latte buatanmu mampu mengalihkan duniaku yang kelam ~Naura Chyntia Armilda Bhaskara
***
Sekuelnya Hold My Hand. Lebih berpusat kepada cerita tentang Chyntia.
Cerita udah tamat dan dipublish dari Desember 2017 - Juni 2018.
Dan sekarang dalam pro...
Cinta datang di waktu yang tepat Kepada orang yang tepat Dan ketepatan itu menjadi kuasa Allah
***
"Mau ke mana kita?" Tanyaku kepada Bintang. Saat ini kami sedang berada di perjalanan menuju ke tempat yang aku sendiri tidak tahu.
"Hmm... Kencan?" Jawab Bintang asal.
"Hah?"
"Knowing each other?" jawabnya yang justru balik bertanya, "terserah apa istilahnya, yang jelas kita sedang berusaha dan mencoba bukan? Aku akan mencoba menyembuhkan luka hatimu dan kamu berusaha mengalihkan luka di hatiku." lanjut Bintang dengan tatapan masih lurus menghadap ke jalanan. Aku sendiri mengernyit bingung dengan ucapan Bintang. Entah kenapa terdengar aneh bagiku.
"Kenapa kamu menyembuhkan hatiku sedang aku mengalihkan sakit hatimu?" tanyaku lebih lanjut. Aku mulai tertarik dengan pembicaraan seputar luka hati ini. Aku pun mengarahkan badanku ke kanan agar bisa leluasa menatap ekspresi Bintang.
"Karena aku yakin bisa menyembuhkan luka hatimu, tapi aku nggak yakin luka hatiku bisa sembuh semudah itu. Kisahmu sudah jelas berakhir, sedang kisahku ...," Ada jeda sesaat yang digunakan Bintang untuk menghela napasnya berat, "masih nggantung. Ada hal-hal yang harus aku selesaikan supaya bisa melepas perasaanku ini. Tapi paling tidak aku butuh sebuah pengalihan supaya nggak menjadi kacau." lanjutnya dengan masih fokus pada jalanan di depannya. Aku mengernyit mendengarnya.
"Kisah kamu masih belum berakhir? Lalu kenapa tidak mencoba memperjuangkannya?" Bintang menepikan mobilnya dan mengarahkan tubuhnya ke arahku. Kini kami praktis saling berhadapan.
"Karena memang hatinya tidak akan pernah untukku. Dan aku pun sudah merelakannya. Tapi dia yang seharusnya saat ini bahagia dengan pria pilihannya malah justru sedang terpuruk karena kepergian pria itu. Yang paling menyakitkan adalah aku tidak sanggup menghiburnya karena aku sendiri bahkan tidak tahu dimana keberadaannya dan aku pernah berjanji tidak akan mencari tahu dimana dia berada apapun yang terjadi. Perjanjian bodoh yang amat menyiksaku." jelasnya sambil menatap lekat ke arahku. Aku bisa merasakan kesakitan di mata itu dan sakit itu amat dalam. Hatiku serasa ikut tersengat melihat kesakitan di manik cokelat tersebut.
"Bisa kita bahas ini nanti? Aku tahu masih banyak yang ingin kamu dengar. Tapi menceritakan di pinggir jalan begini rasanya nggak nyaman."
Aku mengangguk setuju.
Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di tempat yang dituju Bintang. Aku mengenali tempat ini, mengernyit dalam sambil memperhatikan Bintang. Bintang yang sadar sedang diperhatikan pun tersenyum, "Iya, kita mau makan. Dan kita bisa sambil ngobrol banyak di dalam."
Kami pun memasuki area resto dan aku mengikuti langkah Bintang yang langsung menuju ke area outdoor yang sepertinya memang sudah dipesan oleh Bintang sebelumnya.
Aku memang mengetahui resto ini, tetapi aku belum pernah masuk kemari. Dan aku merasa takjub dengan pemandangan di depanku. Suasana outdoor yang cukup asri dengan penerangan lampu di sana sini yang membuat suasana nampak romantis, di tambah pemandangan gedung tinggi di sekitarnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.