14. Luna Sadis tapi Manis

3.4K 165 1
                                        


Luna berjalan sendirian menuju kelasnya. Pikirannya masih melayang buana tak tentu arah. Namun kali ini bukan Melvin yang ada dalam pikirannya, Melainkan Si tampan berdarah dingin.

Banyak pertanyaan yang ingin Luna tanyakan pada Elden. Yang terutama, Apa hubungan Elden dengan Syera?. Karena Luna yakin bahwa gadis yang berfoto bersama Elden adalah Syera sepupunya.

Hingga tak terasa kini Luna sudah sampai di kelasnya. Belum banyak siswa yang datang, termasuk Aileen . karena Luna berangkat agak pagian agar tidak terjebak macet di jalan.

Mata Luna langsung tertuju pada sosok tegap yang sedang sibuk dengan ponselnya. Luna pun segera duduk di bangkunya yang letaknya tepat di depan Elden.

"Heh! Gue udah ingetin sama Lo buat segera ajuin surat pindah kelas dari sini, Tapi sampai saat ini Lo belum juga enyah dari kelas ini?!" Ujar Raya pada sosok gadis di hadapannya.

Tubuh Inne gemetar, Wajahnya pucat pasi, Ia takut menatap Raya yang sedang diselimuti Amarah.

"Lo nggak Malu? Anak beasiswa kaya lo masuk kelas unggulan. Seharusnya lo nggak kebanyakan Mimpi. Dapet beasiswa aja udah syukur banget, Pake masuk kelas unggulan segala lagi"

Luna melihat itu hanya diam saja, Ia enggan untuk ikut campur masalah yang menurutnya tidak penting.

"Kalo ditanya itu Jawab! Lo nggak bisu 'kan?" Tanya Raya sambil menatap Inne tajam.

Inne mengangguk pelan. "E..enggak" Jawabnya gugup.

"Gue pengin surat ajuan itu lo buat besok, Biar lo segera pergi dari kelas ini" Raya memutar bola matanya malas. "Va, Es jeruknya mana? Gua mau kasih kenang-kenangan sama teman kita ini"

Cukup!

Luna tidak bisa melihat adegan drama murahan ini terlalu lama. Bisa-bisa matanya yang suci ini ternodai.

Luna pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke arah Raya dan Inne. Luna melihat Eva memberikan Es jeruk tersebut pada Raya.

Kini Raya sudah siap untuk menuangkan Es jeruk tersebut ke kepala Inne. Luna berdecak kesal, Mengapa dari 36 siswa tidak ada satupun yang membantu Inne?.

"Tunggu!" Seru Luna, membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.

"Mau lo apa sih Ray? menurut lo, dengan membully seseorang kaya gini lo itu jadi tambah keren? Cantik? atau apa ?" Ujar Luna.

Gerakan Raya pun terhenti karena Luna menganggunya. "Lo nggak usah ikut campur Luna. Mending lo pergi aja deh" Usir Raya.

"Ohh, Kalo gitu gue juga boleh ikutan dong" Luna tertawa renyah.

"Maksud Lo?" Tanya Raya.

Luna tak menggubris pertanyaan Raya.

"Iwan, Gue boleh minta tolong nggak?" Pinta Luna.

Iwan mengerjapkan kedua matanya. "Bo..boleh Na, Minta tolong apa ?"

Iwan sedikit ngeri melihat Luna, pasalnya Luna tidak pernah main-main dengan ucapanya sendiri.

Iwan teringat pada saat itu Luna sedang menagih Uang kas kelas, Karena Luna adalah seorang bendahara kelas saat itu. Banyak dari siswa, termasuk Satya, Raya, Eva, dan Iwan malas untuk membayar Kas.

Luna tak pernah marah jika mereka tidak membayar Kas, Hanya saja Luna selalu mengatakan. "Jangan Kaget".
Namun tetap saja perkataan Luna tak pernah digubris.

Hingga tiba-tiba ada ulangan Matematika dadakan, Mereka tampak tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika Luna menghampiri Bu Evi -- guru Matematikanya dan membisikan sesuatu. Bu Evi hanya mengangguk-angguk saja. Luna pun menyerahkan uang sepuluh ribuan pada Bu Evi, guna membayar fotokopi kertas ulangan matematikanya, Dan Bu Evi menyerahkan kertas ulangan pada Luna.

SaudadeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang