Vano kini menuju rumah sakit bersama dengan Maura. Tadi siang ketika Vano baru sampai dari Kuliahnya dan ingin kembali menuju rumah Tiara, Vano dikejutkan dengan berita yang Maura kabarkan.
Luna disandera orang Kak, sekarang Dia ada di Rumah sakit sama Elden.
Mendengar itu Vano langsung memberitahu Valdo yang sedang kuliah untuk segera ke Rumah Sakit.
Beruntung sore ini jalanan sedikit lenggang membuat Vano dapat menacap gas lebih kencang.
Maura sedikit ngeri melihat Vano dalam keadaan seperti ini, "Pelan-pelan Ka, kita ke Rumah sakit bukan mau jadi pasien."
"Oh sori, gue bener-bener lagi kalut banget, Jadi maaf kalau gue sedikit lepas kontrol."
Maura tersenyum pada Vano, Tangannya mengelus pelan pundak Vano, Berharap dapat membuat Vano sedikit tenang, "Luna bukan perempuan yang lemah Ka, Jadi lo harus percaya sama Dia. Everything will be okay."
Vano menoleh kehadapan Maura dan terperangah karena melihat senyum Maura yang kelewat manis. Jujur, Vano baru sadar bahwa tetangga perempuannya ini sangatlah Cantik. Jika dibandingkan dengan Tiara-- Kekasihnya, Jelas Maura lebih cantik beberapa persen dari Tiara.
Astaga, Kenapa Vano jadi membandingkan Tiara dengan Maura?
Vano rasa Ia tidak boleh terlalu dekat dengan Maura, Takut terjadi sesuatu yang lebih, Lebih dalam artian hubungan maksudnya.
"Kak, lo jangan bengong gitu, Nanti nabrak aja."
Shit.
Vano menggelengkan kepalanya, Maura menggoyahkan konsentrasinya dalam menyetir, Ini bahaya. "Eh sori-sori." Ucap Vano.
Beberapa menit kemudian Vano dan Maura sudah sampai pada lobby Rumah sakit.
"Lo tau kamar Luna di Rawat?" Tanya Vano.
Maura mengangguk, "Tau, Di Lantai tiga nomer 210."
Tanpa basa-basi Vano dan Maura langsung menuju ruangan yang diucapkan oleh Maura. Sesampainya di depan pintu kamar rawat Luna, Vano langsung membuka kenop pintu tersebut.
Keduanya terperangah saat melihat Elden tertidur sambil menggenggam tangan Luna.
Maura berjalan mendekati Elden, tangannya menepuk pelan bahu Elden yang sedang tertidur pulas.
"El, Bangun.....oi bangun Elden."
Kedua mata Elden langsung terbuka, Melihat ada Vano dan Maura, Elden sontak saja langsung berdiri.
"Sori gue ketiduran."
"Gapapa." Vano melihat keadaan Adik perempuannya, hatinya bagai dicabik-cabik saat matanya bertemu dengan wajah cantik Luna yang kini penuh dengan luka lebam.
"Kenapa bisa kayak gini?" Tanya Vano.
"Luna disandera saat naik bus ke sekolah sama orang asing." Wajah Elden kembali mengeras, singa dalam tubuhnya pun bangkit lagi.
"Kenapa Luna? Apa yang mereka mau dari Adik gue?"
"Gue juga nggak tau apa yang mereka mau dari Luna. Polisi masih mengusut kasus ini, Tapi dari apa yang gue analisis, sepertinya mereka adalah orang suruhan."
Vano mengerutkan kedua Alisnya, "Maksud lo, ada otak dibalik mereka?"
"Maaf kalo gue sela pembicaraan lo pada. Tapi menurut gue, bener kata Elden, pasti ada seseorang yang menyuruh mereka untuk menyandera atau melukai Luna. Dan yang pasti dia bukan orang sembarangan atau orang yang bisa kita anggap remeh, dia punya banyak jaringan dan dia orang yang berebahaya. Dari apa yang terjadi, dia dengan gampang nya melukai Luna. Pasti kedepannya dia nggak bakal senggan-senggan untuk bertindak lebih dari ini." Jelas Maura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saudade
Novela JuvenilKisah ini tentang Luna. Gadis cuek dan kurang peka ini diam-diam menyimpan Banyak Luka. Mata sehitam Batu obsidian itu kerap Memancarkan Duka. Namun Ia punya seribu topeng untuk dikenakan. Senyumnya adalah Rahasia Terbesar. Dan tangisnya adalah Kebe...
