28. Tuan Putri?

3K 161 27
                                        






Luna mengambil beberapa buku pelajaran dan kotak pensil. Setelah itu ia berjalan mengendap untuk keluar rumah. Padahal mentari belum sepenuhnya tenggelam, namun seakan-akan Luna tengah mencoba keluar pada malam hari. Entahlah mungkin karena ia takut Sisil mempergokinya.

Dan benar saja, saat Luna ingin meraih kenop pintu, Sisil memanggilnya dari belakang, "Kak Luna bawa buku mau kemana?"

Sial! Luna mengumpat dalam hati. Ia berbalik badan dan tersenyum kecil saat melihat Sisil dihadapannya,

"Besok Senin kan udah ujian akhir semester, ada beberapa materi yang harus aku rangkum, biar lebih gampang belajar. Kebetulan Elden juga mau ngerangkum, jadi sekalian deh." Luna menyengir lebar.

Sisil berdecak kesal, "Ck, Kak Luna akhir-akhir ini sering berdua terus sih sama Kak Elden? Kalian nggak pacaran 'kan?"

Seketika jantung Luna seakan mencelos. Luna menelan salivanya susah payah. Lagi, ia harus berbohong pada Sisil. Luna belum siap memberitahu yang sebenarnya pada Sisil.

"Hah? Pacaran? Ngaco kamu kalo ngomong. Aku bener-bener Cuma ngebahas pelajaran doang kok sama dia."

"Serius?" Tanya Sisil dengan tatapan menyelidik.

"Serius lah. Udah ah keburu malem nanti." Luna segera pergi keluar rumah menuju rumah Elden.

Maafin aku Sil, Batin Luna.

***

"Jadi tentang pasar Oligopoli dan pasar-pasar yang lain juga masuk?"

Mata Luna masih terfokus pada buku Ekonomi dihadapannya. Tanganya menghentak-hentakan pulpen pada karpet halus berwarna hitam ̶ kini Luna tengah duduk dilantai kamar Elden dengan beberapa buku pelajaran yang berserakan.

"Emang lo nggak denger waktu Bu Aniek ngomong?" Tanya Elden memalingkan wajahnya dari buku pada sosok gadis dihadapannya.

"Nggak tau, lupa."

"Heran apa sih yang dipikirin kalo lagi belajar?"

Luna mendongak, matanya bertemu dengan manik mata milik Elden, "Eumm....mikirin cogan yang bentar lagi mau lulus." Kata Luna sambil menatap Elden jahil.

"Anak kelas XII?"

"Yaiyalah, masa kelas sepuluh."

"Siapa?" Tanya Elden.

"Rahasia lahh." Luna tersenyum puas berhasil memancing Elden.

"Oh."

Luna menatap Elden sinis. Apa maksud Elden? Oh? Apa Elden tidak penasaran siapa Kakak kelas yang tangah Luna pikirkan. Dasar Es balok!

"Lo nggak penasaran?" Tanya Luna pada Elden yang kini kembali fokus pada bukunya.

"Nggak."

Luna mendengus kesal, "Lo nggak penasaran siapa Kakak kelas cowok yang lagi gue pikirin? Lo nggak cemburu gitu?"

Elden menatap gadisnya intens. Gadisnya benar-benar unik, Luna tidak seperti Syera yang lebih banyak diam dan menutup diri. Luna berbeda, dia mudah mengekspresikan dirinya sendiri. Banyak tingkah Luna yang kadang membuat Elden geleng-geleng kepala.

Iya, sudah sebulan hubungannya dengan Luna. Namun tetap saja membuat Elden tak bisa sebebas yang ia mau. Luna menginginkan Elden tetap merahasiakan hubungan mereka pada siapapun. As you know, Luna masih tetap memikirkan Sisil.

Alhasil gaya percintaan mereka sedikit berbeda dari pasangan muda –mudi lainnya. Biasanya pasangan remaja lainnya akan menghabiskan waktu berdua dengan menonton film bioskop, makan malam romantis, berlibur bersama atau sering melakukan kegiatan bersama.

SaudadeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang