Luna mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan nyeri hebat dibagian kepala. Napasnya terasa panas, Matanya Berair. Luna rasa Ia terkena Demam.
Luna mengedarkan pandangannya. Detik selanjutnya Luna merasa ada yang tidak beres. Melihat seluruh isi Kamar ini berwarna merah muda, Membuat Luna sadar. Ini bukan kamarnya!
Tak lama Pintu yang pasti berwarna merah muda itu berdecit. Terlihat Renata masuk dari sana sambil membawa Bubur dan Air putih diatas Nampan.
"Kamu udah bangun, Sayang?". Tanya Renata sambil meletakan Nampan nya diatas Nakas.
"Eng.. Udah Tan. Kok Luna bisa ada disini ya Tan? Perasaan Luna nggak nginep di Rumah Tante deh."
Renata tersenyum. "Semalam Elden nemuin kamu lagi ketiduran Di Taman, Pas mau dibangunin Elden ternyata suhu tubuh kamu tinggi banget. Karena Elden nggak tega bangunin kamu, Akhirnya Dia gendong kamu dari Taman sampai Rumah."
Luna Menautkan Alisnya bingung. "Kenapa nggak dibawa ke Rumah aku aja Tan semalam?"
"Kakak-kakak kamu belum pulang, Daripada kamu sendiri di rumah nggak ada yang ngejagain, Yaudah Lebih baik di Rumah Tante aja."
Luna mengangguk paham. Seolah ucapan Renata menjawab semua kebingungannya dan memberi sedikit Luka, Karena sampai saat ini pun Vano dan Valdo belum juga terlihat batang hidungnya.
Luna terkejut saat telapak tangan Renata menyentuh lembut kening Luna, Memastikan apakah suhu Tubuh Luna sudah kembali Normal atau belum.
"Udah nggak terlalu panas kaya semalam,Tapi kamu harus tetap minum obat Ya, Biar cepat Sembuh"
Luna menatap haru kearah Renata, Luna merindukan sosok Mamanya dan sekarang Renata seolah datang sebagai malaikat pelindung baginya saat Mamanya sedang tak ada.
"Ehm.. Makasih banyak Tante." Ucap Luna.
"Sama-sama, Yaudah dimakan dulu yuk Buburnya." Kata Renata Sambil menyuapi Luna.
"Luna, Hari ini kamu nggak usah masuk dulu, Tante udah buatin surat Izin ke Wali kelas kamu. Tante titipin Ke Elden tadi pagi."
"Yaampun Luna ngerepotin Tante banget jadinya. Makasih banyak Ya Tan."
"Udah ya Luna, Kamu udah beberapa kali ngucapin kata Terima kasih. Jadi Bosen Tante dengarnya."
Luna terkekeh pelan. "Tapi Luna benar-benar Terima kasih banget sama Tante, Padahal baru beberapa hari Tante kenal sama Luna, Tapi Tante udah jadi kaya Mama Sendiri. Luna Sayang Tante Renata." Ucap Luna sambil memeluk Renata.
Dipeluk tiba-tiba oleh Luna membuat Renata terkejut, Tapi tak dapat dipungkiri Renata juga menyanyangi Luna sama seperti anaknya sendiri.
Renata mengusap Rambut belakang Luna. "Siang Nanti Tante mau pergi ke Bandara, Tante mau jemput anak perempuan Tante. Kamu sama Elden di Rumah gapapa 'kan?"
"Gapapa Tan. Nama anaknya siapa Tante Kalo boleh tau?" Tanya Luna.
"Maura. Maura Abraham."
***
Renata sudah berangkat menuju Bandara sekitar satu jam yang lalu. Dan kini Luna dihampiri kebosanan. Suhu tubuhnya sudah kembali normal, tetapi kepala Luna masih terasa pusing.
Luna benar-benar bosan sekarang. Ponselnya tertinggal Di Rumah, menonton Televisi? Ah Luna merasa seperti yang punya rumah saja.
Pintu kembali terbuka, Menampakan Elden lengkap dengan seragam putih abu-abu yang masih melekat ditubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saudade
Fiksi RemajaKisah ini tentang Luna. Gadis cuek dan kurang peka ini diam-diam menyimpan Banyak Luka. Mata sehitam Batu obsidian itu kerap Memancarkan Duka. Namun Ia punya seribu topeng untuk dikenakan. Senyumnya adalah Rahasia Terbesar. Dan tangisnya adalah Kebe...
