Judulnya bikin spot jantung wkwk.
--
Pagi dini hari Kondisi Luna sudah semakin membaik. Rasa Pusing dan Mual sudah menghilang sejak semalam. Kini Luna sudah siap untuk berangkat sekolah, Lengkap dengan seragam yang melekat pada tubuh kecilnya. Rambutnya hanya Ia kuncir satu kebelakang.
Luna menatap malas pada Nasi goreng yang dihidangkan Mbok Tin di meja makan.
"Mbok yo dimakan toh Non, Nasinya keburu adem." Ucap Mbok Tin; Wanita paruh baya yang umurnya lebih tua dari Viona, sekitar 60 tahunan dengan logat jawanya yang masih kental.
"Luna nggak napsu makan Mbok."
"Dimakan toh Non, Nanti sakit lagi." Kata Mbok Tin, Ia sudah tau semua ceritanya dari Luna. Luna menceritakan seluruh kejadian malam itu pada Mbok Tin.
Luna memutar kedua bola matanya malas. "Iya, Iya Mbok Luna makan."
"Nah gitu dong Non, Yaudah Mbok tinggal dulu ya." Ucap Si Mbok seraya pergi meninggalkan Luna.
Luna menyantap Nasi gorengnya dengan ogah-ogahan.
"Kemana aja lo dari kemarin malem sampai pagi nggak pulang?" Tanya Vano.
Luna menghentikan aktivitas makan nya. Ia menatap Vano dengan tatapan membunuh. "Peduli apa lo sama gue?"
"Ya jelas gue peduli Na, Lo adek gue!"
"Kenapa lo nggak cari tau keberadaan gue kalau emang lo peduli, Justru lo malah pergi semalam."
"Gue ada keperluan yang harus gue kerjain Na, tolong lo jangan kayak anak kecil terus Na."
Luna bangkit dari kursinya. "Lo bilang gue anak kecil?! Lo sadar nggak sih Kak, dari umur gue 10 tahun yang dimana gue seharusnya masih berpikiran layaknya anak kecil, Gue diharuskan sama Mama dan Papa bahkan Lo dan Kak Valdo untuk mengerti keadaan kalian yang super sibuk itu. Gue diharuskan buat nggak nangis kalau mati lampu di rumah saat sendirian, Gua harus bisa menahan rasa sakit saat gue terkena demam, Gue nggak diperbolehkan merengek sama Mama atau Papa tentang apapun itu. Lo sadar nggak sih, Gue udah jadi pribadi yang dewasa bahkan sebelum umur gue mengerti semuanya." Ucap Luna dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata hitam miliknya.
"Gue capek Kak, Kali ini Gue mohon, Tolong izinin gue meminta satu hal sama Lo, Satu hal yang sangat berarti untuk hidup gue. Suara yang dari dulu selalu terpendam dalam diri gue. Gue mohon tolong luangin waktu lo dan Kak Valdo sedikit aja buat gue." Pertahanan Luna jebol, Air mata yang dari tadi Ia tahan luruh begitu saja.
Vano menatap Luna dengan nanar,Ia tidak menyangka bahwa Luna yang biasanya tegar dengan masalah apapun kini terlihat sangat rapuh. Vano merasa gagal menjadi kakak untuk Luna, Membiarkan Luna meneteskan air matanya karena dirinya.
Vano mendekat kearah Luna. Ia merengkuh tubuh kecil itu, membiarkan Luna membasahi kaosnya dengan air matanya.
"Gue minta maaf Na, Gue salah. Tapi gue janji Na, Ini terakhir kalinya Lo nangis karena gue. Gue janji Na, Gue akan bikin lo selalu tersenyum kedepan nya. Dan yang terpenting, Gue dan Valdo akan selalu ada buat lo. Gue dan Valdo akan jadi Mama dan Papa buat lo saat mereka sedang nggak ada."
Ujar Vano.
Luna mendongak melihat Vano tanpa melepaskan pelukannya. "Janji, Lo nggak bakal pergi-pergian terus?"
"Gue janji." Ucap Vano dengan senyum termanis yang Ia miliki.
"Udah dong, Udah jam enam, Lo nggak mau telat 'kan?" Lanjutnya.
Luna menggeleng. "Anterin Gue." Ucapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saudade
Teen FictionKisah ini tentang Luna. Gadis cuek dan kurang peka ini diam-diam menyimpan Banyak Luka. Mata sehitam Batu obsidian itu kerap Memancarkan Duka. Namun Ia punya seribu topeng untuk dikenakan. Senyumnya adalah Rahasia Terbesar. Dan tangisnya adalah Kebe...
