Setelah memergoki Luna dan Juna di taman belakang sekolah Elden langsung kembali ke kelasnya. Dengan emosi yang masih ia tahan Elden lagi-lagi mengkhawatirkan Luna yang sudah tau akan masa lalunya dengan Syera.
Sebenaranya tidak ada yang harus ditakutkan pasalnya Elden dan Syera tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh atau berujung dengan kesalahan fatal yang akan menyakiti hati Luna. Namun karena Luna sangat menyayangi Syera yang menjadi masalahnya. Luna pasti akan merasa tak enak hati atau lebih parahnya akan meninggalkan Elden. Elden tidak ingin hal itu terjadi.
Bel istirahat sudah berbunyi kini jam pelajaran kembali dimulai. Namun taka da tanda-tanda Luna di mejanya. Elden yang duduk tepat dibelakang kursi Luna menendang pelan kursi Celin hingga Celin menoleh kearahnya.
"Luna kemana?"
"Gatau, dari habis istirahat belom balik."
Elden mengerutkan keningnya bingung, apa pembicaraan Luna dan Juna belum selesai? Atau Luna enggan masuk kelas dan bertemu dengannya karena sudah tau semuannya.
Elden mengacungkan tngan kanannya kepada guru yang sedang berdiri di depan papan tulis, "Maaf Pak, saya izin ke toilet."
Guru tersebut mengangguk, setelah itu Elden langsung pergi menuju taman belakang sekolah. Sesampainya disana hasilnya nihil, tidak ada Luna maupun Juna. Elden kembali mencari Luna ke perpustakaan namun hasilnya masih sama, tak ada Luna. Elden menggeram frustasi, kemana perginya Luna?
Apa semarah itu gadisnya saat tau masa lalunya dengan Syera. Elden akui, ia memang menyayangi Syera bahkan mungkin ia meyayangi Syera lebih dari ia menyayangi Celin yang notabene nya sama-sama sahabatnya saat itu. Tapi Elden berani bersumpah, ia tidak mencintai Syera. Jadi Elden mohon pada semesta, tolong jangan buat ia kehilangan Luna hanya karena masa lalu tak berguna nya. Lagi pula Syera telah tiada, bisakah kita sebagai sahabat Syera tidak lagi mengungkit-ukit tentang hal ini.
Elden mencengkram lengan siswa yang tak sengaja lewat disampingnya yang saat ini tengah berdiri di tengah koridor kelas sepuluh.
"Liat Luna?" Tanya Elden dingin.
Siswa tersebut tergagap, ia menelan salivanya susah payah saat matanya bersibobrok dengan manik biru tajam milik Elden.
"E..enggak gue nggak liat Luna."
"Juna?"
"Li...liat, dia di ruang osis."
Mendengar itu Elden langsung menghempaskan kasar lengan siswa dihadapannya. Elden langsung menuju ruang osis, tangannya terkepal emosi. Juna benar-benar ingin bermain dengannya. Tiba di depan ruang Osis Elden menendang keras pintu ruangan hingga menimbulkan bunyi yang keras.
Manik biru tajam milik Elden langsung bertemu dengan manik mata cokelat terang milik Juna. Dilihatnya wajah tenang milik Juna yang berbeda dengan wajah menahan emosi milik Elden. Elden langsung menuju kearah Juna yang tengah berkutat dengan tumpukan proposal diatas meja.
"Mana Luna?" Tanya Elden dengan menarik kerah kemeja Juna.
"Gue nggak tau. Dan tolong lepasin tangan kotor lo dari baju gue."
Elden langsung memukul keras rahang Juna hingga Juna terjatuh ke lantai. Juna meringis saat tangannya memegang sudut bibirnya yang pecah, "Anjing, mau lo apa?" Juna kembali berdiri dihadapan Elden.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saudade
Fiksi RemajaKisah ini tentang Luna. Gadis cuek dan kurang peka ini diam-diam menyimpan Banyak Luka. Mata sehitam Batu obsidian itu kerap Memancarkan Duka. Namun Ia punya seribu topeng untuk dikenakan. Senyumnya adalah Rahasia Terbesar. Dan tangisnya adalah Kebe...
