22. You Did Well

4.5K 430 8
                                        

Happy Reading & Enjoy All

Tatiana memakan sarapannya dalam diam. Kepalanya masih sedikit pusing, mungkin efek minum-minum semalam. Dengan takut-takut matanya melirik Marcell yang nampak menyesap kopinya dengan tenang.

"Gue... semalem mabuk berat ya?" Tatiana langsung menggigit bibir bawahnya setelah bertanya. Itu pertanyaan konyol.

"Menurut lo sendiri?"

"Mabuk berat. Banget."

"Nah, itu tahu." Cibir Marcell sambil mencomot saladnya sedikit.

Tatiana merasa tak enak. Sudah dua kali dia seperti ini. Dia merepotkan Marcell lagi. "Sorry..." Lirihnya. "Ini terakhir kalinya deh, terus duit lo bakal gue ganti, dan juga gue bakal bayar biaya menginap. Sorry udah bikin lo kerepotan dan nggak nyaman,"

Marcell nampak asyik dengan makanannya saat Tatiana bercerita.

"Gue nggak ngomong yang aneh-aneh, kan semalem?" Tanya Tatiana untuk memastikan. Dan semoga saja jawabannya adalah tidak. Mau ditaruh di mana mukanya ini kalau dalam keadaan tak sadarnya dia menghina Marcell yang notabene-nya adalah penolongnya.

"Siapa Taliana?"

Ekspresi khawatir di wajah Tatiana langsung pudar mendengar nama Taliana, saudara kembarnya, disebutkan.

"Gue kayaknya udah ngomong yang aneh-aneh deh," cicit Tatiana.

Menurut penglihatan Marcell, Tatiana sekarang sedang gelisah. "Lo banyak menyebut nama Taliana, makanya gue penasaran."

Tatiana menelan ludahnya. Perempuan itu memilih bungkam.

"Lo nggak mau cerita? Gue perlu tahu detail tentang lo supaya bisa mengubah lo jadi sosok yang sempurna." Marcell masih mencoba bersikap santai. Dia tahu kalau topik ini sangat sensitif untuk Tatiana, apalagi semalam Tatiana sampai menangis mengingat-ingat kembarannya. Tapi dia perlu tahu detailnya dari mulut Tatiana langsung.

"Tatiana?"

"...."

"...."

"Dia kembaran gue."

Marcell tahu kalau Tatiana merasa tertekan sekarang. Tapi dia juga tak bisa menghentikannya.

Tatiana meremas jari-jarinya yang ada di pangkuannya dengan keras. Entah sejak kapan tangannya sudah basah karena keringat.

"Dia udah meninggal."

"Karena apa?" tanya Marcell lagi. Inilah yang masih menjadi tanda tanya besar. Tatiana hanya mengatakan kalau kembarannya meninggal.

"Mungkin... dia lelah?" Tatiana mencoba tersenyum walau matanya sudah berkaca-kaca.

"Gue serius, Tatiana."

Tatiana mengangkat bahunya. "Gue juga serius." Tatiana mencoba merilekskan tubuhnya yang menegang. Dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat sebelum bercerita. "Gue dan Taliana pernah diculik waktu umur kita tujuh belas tahun. Penculik itu menyiksa gue dan Taliana. Rasanya menyakitkan. Kalo yang dia butuhkan adalah uang, dia tinggal nelpon dan minta ke bokap, tapi faktanya dia nggak menelpon sama sekali."

Tatiana mencoba tegar. Sesekali dia menatap Marcell dengan senyum penuh ironi.

"Lalu suatu hari, kita merencanakan sesuatu. Kita mau bebas. Akhirnya kita saling membantu supaya bisa bebas. Dengan bantuan Taliana, ikatan gue lepas. Saat gue mau ngelepasin ikatan Taliana, Taliana ngelarang. Dia menyuruh gue pergi karena takut kepergok penculik. Dia bilang kita akan disiksa sampe mati kalo ketahuan kabur, lagipula kaki dia terluka cukup parah. Setelah meyakinkan gue, akhirnya gue pergi. Gue bertekad menemukan orang yang bisa membantu kita. Tapi kenyataannya nihil. Nggak ada orang di dekat situ. Gue lari terus, dengan kondisi terluka parah dan kelaparan. Gue harus menemukan orang yang bisa membantu kita dengan cepat sebelum penculik itu sadar gue berhasil kabur dan menyiksa Taliana sebagai balasannya. Tapi semuanya berat. Ketika gue menemukan orang yang bisa dimintai tolong, gue merasa lemah dan sesak. Gue pingsan. And then, lo tahu kelanjutannya?"

"...."

"Gue koma selama sepuluh hari. Ketika gue bangun, gue melihat Papa dan mendapat kabar kalau Taliana sudah meninggal. Gue sempet nggak percaya, tapi setelah Papa menjelaskan, gue tahu itu benar. Gue merasa sangat marah pada diri gue sendiri. Kenapa gue nggak kabur sama Taliana waktu itu? Dan kenapa gue pingsan di saat yang genting? Seharusnya gue tetep sadar dan bilang kalau ada korban lagi. Padahal gue udah janji bakal nyelametin dia. Secepatnya, itulah janji gue, tapi gue terlambat. Mungkin Taliana udah nggak kuat disiksa seperti itu dan menunggu bantuan yang tak kunjung dateng... makanya dia meninggal."

Setelah selesai bercerita, Tatiana langsung menangkupkan tangannya ke wajahnya lalu mengusapnya sampai ke kepala. Dia menghembuskan nafasnya pelan. Tidak ada air mata. Marcell tahu perempuan di depannya ini sedang menahannya.

"Sekarang gue tahu detail-nya. Itu bukan salah lo kok."

Tatiana menggeleng sebagai tanda tak setuju. "Itu salah gue... kalo gue nggak selemah itu, Taliana pasti masih hidup sampai sekarang."

Marcell merasa iba. Dia menyentuh puncak kepala Tatiana dan mengusapnya pelan. "Yang salah adalah penculik itu, bukan lo. Lo udah berusaha menolong, tapi takdir berkata lain. Lo saudara kembar yang baik."

Entah kenapa Tatiana merasakan dadanya membuncah. Tidak pernah ada yang menenangkannya seperti ini saat dia dilanda perasaan bersalah. Tatiana bangun dari duduknya, dia tidak kuat lagi.

"Gue mau siap-siap, gue harus balik."

Sebenarnya Tatiana ingin menangis. Air mata yang ditahannya sebentar lagi akan tumpah ruah dan dia tak mau menangis di depan Marcell. Dia akan terlihat sangat menyedihkan. Marcell menahan lengan Tatiana sebelum perempuan itu benar-benar pergi.

"Gue tahu lo mau nangis di kamar, kan? Jangan." Marcell menggeleng. Air mata Tatiana sudah menumpuk. "Nangis di sini aja, di depan gue. Itu lebih baik daripada lo nangis sendirian dan menyalahkan diri lo lagi."

Detik itu juga air mata yang mati-matian ditahan oleh Taliana mengalir dengan deras. Bahkan perempuan itu terisak-isak di depan Marcell. Dengan sigap Marcell memeluk Tatiana.

"You did well. Taliana bangga sama lo."

TBC

Haiiii... Sesuai janji yaa, malem ini update lagi. Mulai dapet pencerahan, kan tentang who is Tatiana Aruan. Dia nggak se-perfect yang orang lain bayangkan.

You did well... Ada yang merasa familiar dengan kalimat ini? Pernah dengerkan dunia per-kpop-an gempar karena kematian Jonghyun Shinee? Yuppp, dia meninggal karena bunuh diri. Penyebabnya? Depresi. Dan di surat wasiatnya dia cuma minta agar semua orang menghargai keputusannya karena dia sudah melakukan yang terbaik. Aku yakin banyak orang yang menyayangkan tindakannya, tapi ya mau gimana lagi, pada akhirnya para fans hanya bisa mengucapkan you did well seperti kemauannya almarhum.

Cerita Losing You ini sedikit terinspirasi oleh kasus itu. Baik Tatiana maupun Jonghyun, mereka membutuhkan kalimat ini sebagai bentuk pernghargaan atas apa yang sudah mereka lakukan. Tapi nyatanya? Ada tapi sedikit. Tahu sendirikan seorang idol itu nggak bisa semena-mena balas nyinyirin netizen karena sudah menghinanya... Fans yang menyemangati banyak, haters yang menghinapun banyak. Belom lagi kalo idol itu emang pendiam, pada akhirnya dia cuma bisa memendam dalam hati dan jadi momok tersendiri buat dia. Tatiana kurang lebih sama dengan Jonghyun. Dia membutuhkan kalimat ini, tapi nyatanya nggak pernah ada yang mengatakannya. Makanya pas Marcell mengatakan you did well, dia tersentuh.

Maafkeun jadi curcol wkwk

Oh ya, ada note aku yang salah tulis haha dan di sini aku mau klarifikasi. Taliana itu meninggal sepuluh tahun yang lalu di umur tujuh belas tahun. Inget yaaa, meninggalnya bukan tujuh belas tahun lalu.

Semoga suka, jangan lupa vote, dan komen.

See you minggu depan guys 😙😙

3 Maret 2018

Losing You | #1 Twins SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang