32. Berjuang

2.3K 178 3
                                        

Happy Reading & Enjoy All

"Tante, kapan aku bisa seperti Tatiana? Aku juga mau bahagia."

"Secepatnya, Taliana. Kenapa kamu terburu-buru sekali?"

"Tapi kapan, Tante? Sudah sepuluh tahun dan aku masih seperti ini!"

"Katakan pada Tante apa yang sebenarnya terjadi, Taliana. Pasti terjadi sesuatu. Sepuluh tahun memang waktu yang lama, tapi faktanya kamu bisa bertahan di waktu selama itu. Lalu kenapa kamu terburu-buru sekarang?"

"Aku..." Taliana bimbang, apakah akan menceritakan pertemuannya dengan saudara kembarnya itu atau tidak. "Aku tidak sengaja bertemu dengan Tatiana." Ungkapnya dengan miris.

Di seberang sana mata Elena terlihat membulat. "Bagaimana bisa? Apa Tatiana melihat kamu dengan jelas?"

Taliana duduk di ranjangnya sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Kami bertatapan, cukup lama." Walau berkali-kali menegaskan kalau dia membenci Tatiana, tapi faktanya hatinya selalu terenyuh kala membahas kakak kembarnya tersebut. Selalu ada ruang kosong yang tak mengenakkan kala nama itu disebut. "Aku bosan, jadi aku pergi club semalam. Dan siapa tahu Tatiana juga ada di club itu. Kami bertatapan untuk waktu yang lama. Dia mengejarku, tapi aku berhasil melarikan diri. Kurasa dia sedikit mabuk, jadi ingatannya tentang aku pasti buyar."

"Kenapa kamu begitu ceroboh, Taliana? Berapa kali harus Tante tegaskan kalau kamu dan dia ada negara yang sama. Seluas apapun negara ini, kalian tetap punya kesempatan untuk bertemu secara tidak sengaja. Dan benar, kan apa kata, Tante."

Taliana membenarkan perkataan Elena dalam hatinya. "Aku minta maaf, Tante. Aku janji akan lebih berhati-hati lagi." Taliana mendengar dengusan tajam dari seberang sana. "Aku benar-benar bosan dengan kehidupan seperti ini. Aku merasa terkekang, Tante."

"Karena itukah pagi ini kamu menelpon dan langsung memburu-buru Tante?"

Taliana mengangguk mantap walau dia tahu Tante Elena-nya tidak mungkin melihat. "Tatiana terlihat sangat bahagia. Aku juga ingin seperti itu."

"Tante tahu kesedihan kamu, Taliana. Tante akan carikan waktu yang tepat dan untuk sementara itu kamu perlu menunggu beberapa saat lagi. Kamu bisa, kan?"

Tidak, Taliana tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lebih tepatnya tidak mau. Tapi mendesak Tante Elena juga tidak akan menghasilkan apapun selain kemarahan perempuan paruh baya itu.

"Aku benar-benar ingin seperti Tatiana, Tante, benar-benar ingin. Tante tidak akan mengingkarinya, kan?"

"Tentu saja, sayang, secepatnya."

***

Matanya terasa sangat berat, tapi Tatiana tetap harus membuka mata. Ini pasti sudah siang sekali. Di detik pertama dia membuka mata, semuanya masih tampak buyar. Dia mengerjap beberapa kali dan barulah semuanya jelas. Termasuk sosok Marcell yang duduk di pinggir ranjang dengan tatapan yang terus tertuju padanya.

"Ini apartemen lo, ya?" tanya Tatiana sambil mengerjap. Marcell mengangguk dan mengangsurkan pil beserta air minum ke arahnya. Tatiana mengambil dan meminumnya tanpa protes. "Sorry, gue nyusahin lo lagi."

"Gue nggak pernah merasa disusahin, gue enjoy-enjoy aja. Tapi sebenarnya, Tatiana, lo menyusahkan diri lo sendiri." Tatiana merengut, merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal oleh ibunya. "Jangan jadikan minuman sebagai pelarian. Apalagi di club seramai itu. Kalo lo memang mau mabuk-mabukkan, dateng ke apartemen gue. Ada banyak stock alkohol di sini."

Dan Tatiana merasa seperti pemabuk yang sudah kelewatan. Dia menghela nafas. Karena inilah dia tidak ingin mengangkat telepon Marcell saat di club tadi malam. Semenjak mereka tertangkap kamera bersama, Marcell menjadi pria yang protektif terhadap dirinya. Dan ini terasa sedikit ganjal.

"Sekarang cerita sama gue kenapa lo mabuk-mabukkan?"

Tatiana membaringkan punggungnya ke sandaran ranjang. Matanya terpejam sekilas. "Biasalah, gue adu mulut sama bokap."

"Tentang perintah ke Kanada?"

"Tentang semuanya. Gue lepas kendali dan berbicaranya semaunya."

"Dan lo merasa menyesal atas semua perkataan lo? Lalu pelariannya lo mabuk-mabukkan?" Tatiana tidak menjawab, matanya terlihat fokus pada satu objek. Marcell menghela nafas. "Lo bener-bener anak yang baik. Pantes lo nurut semua kata-katanya meski itu nyakitin lo sekalipun."

Tatiana terkekeh mendengar nada sarkatis dari bibir Marcell. "Gimana pun gue cuma punya Papa di dunia ini. Gue nggak sampe hati balas menyakiti dia."

Marcell mendengus dengan keras supaya Tatiana bisa mendengarnya. Dia begitu tidak suka dengan sikap Tatiana yang seperti ini. Di depan Papanya dia bersikap seolah-olah dia perempuan kuat yang ingin memberontak, tapi di belakang Papanya perempuan itu tak jauh berbeda dengan anak Papa yang penurut. Benar-benar menjengkelkan. Jika seperti ini bagaimana dia bisa menolong Tatiana dengan maksimal.

"Kenapa lagi lo ngelamun? Ada masalah lain?" Marcell ingin mengorek informasi lain.

"Gue bermimpi tentang Taliana."

Taliana? Saudara kembar Tatiana?

"Gue berfikir kalau hidup gue pasti nggak akan seberat ini kalau Taliana masih ada. Maybe, gue akan tetap stay bersama Taliana di Kanada. Nggak ada lo, Papa, atau pun Mama tiri gue beserta Alberta dan Cornelia. Hanya kami berdua."

"Kenapa lo bisa berfikir seperti itu di saat lo sendiri nggak bisa memperjuangkan hak lo, Tatiana?" Tatiana menatap Marcell bingung. "Nggak akan ada bedanya lo berdua atau pun sendiri. Gue yakin seratus persen pasti bakal tetep seperti ini. Jangan menjadikan ketiadaan Taliana sebagai penyebab hidup lo seperti ini. Hidup lo itu ada di tangan lo, bukannya di tangan saudara kembar lo."

"Gue nggak pernah menyalahkan Taliana, gue menyalahkan diri gue sendiri."

"Kalo lo menyalahkan diri lo sendiri karena kematian Taliana, itu bukan salah lo. Tapi kalo lo menyalahkan diri lo sendiri karena kehidupan lo sekarang, ini memang salah lo. Berjuang, Tatiana." Marcell sadar ini terlalu kejam, tapi Tatiana tidak akan paham hanya dengan kalimat-kalimat halus. Dia perlu mempertegas semuanya. "Lo bisa berjuang, tapi kenyataannya lo malah nurutin apa kata Papa lo yang absurd. Lo membuat diri lo sendiri terlihat menyedihkan karena kematian Taliana, tapi sebenarnya semua ini pure kesalahan lo. Makanya gue bilang, sekalipun lo berdua, bertiga, atau bersepuluh sekali pun, kalo lo masih seperti ini –hidup lo nggak akan ada bedanya."

Marcell memegang kedua bahu Tatiana, dia goncangkan selama beberapa saat untuk penegasan. "Dengerin kata gue," Marcell memasang ekspresi serius. "Berjuang dan memberontak berbeda. Ketika Papa lo memerintahkan sesuatu yang nggak masuk akal, berjuanglah agar perintah itu nggak sampe terjadi. Ketika lo mulai menyalahkan diri lo sendiri, berjuanglah agar pemikiran itu nggak menggerogoti kewarasan lo. Semua ini ada di tangan lo, Tatiana, tinggal bagaimana lo mengeksekusinya."

"Pernah nggak sih lo merasa nggak bersalah, tapi pada kenyataannya nggak ada seorang pun yang bisa disalahkan selain diri lo sendiri? Itu yang gue rasain sekarang."

Dan jawaban Tatiana sukses meyakinkan Marcell betapa depresinya perempuan itu. Lalu bagaimana cara menghilangkannya?

TBC

Sebenernya setiap malem saya nulis, tapi ironisnya cerita ini selalu saya lewatkan dengan dalih nggak ada ide. Padahal, di kepala saya sudah ada bayangan akan seperti apa endingnya. Lucu sih, tapi nyata. Kalo udah gini sihh cuma bisa bilang maaf wkwk :v

Semoga readernya masih ada :)

Doakan semoga saya bisa konsisten :|

Dan semoga suka :)

2 Februari 2019

Losing You | #1 Twins SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang