4,1. Slytherin Princess

2.4K 266 45
                                    

Cassie menatap bosan pemandangan dihadapannya. Bagaikan deja vu, dia kembali berada di dalam Hogwarts Express dan mendapati Hugo Weasley sedang memohon-mohon untuk satu kompartemen dengan dirinya dan teman-teman Slytherinnya. Yang langsung ditolak oleh semua yang ada di sana. Tapi Cassie terlalu malas untuk ikut bicara. Jadilah dia hanya duduk bersantai di kursi kompartemennya sambil menonton.

"Beri aku alasan kenapa aku mau membiarkanmu berada di kompartemen ini?" kata Belle yang kini berada di depan pintu kompartemen. Dia sudah berniat menutupnya namun Hugo menghalanginya.

"Kita kembar, Belle. Kita seharusnya selalu bersama seperti Lorcan dan Lysander." Hugo mencoba bernegosiasi dengan kembarannya sendiri.

Belle mendengus. "Wajahmu adalah hal terakhir yang ingin kulihat, Hugo. Aku sudah bosan melihatnya sejak kita berada di dalam rahim. Jadi, pergilah. Coba cari orang lain untuk diganggu."

Hugo ikut mendengus dan beralih pada sepupu laki-lakinya yang duduk di samping Cassie. "Al, bantu aku."

Albus yang dipanggil malah melirik pada Cassie yang lebih tertarik dengan kuku-kukunya saat ini. Dia kemudian menoleh pada Zafira yang tampak tidak peduli dengan kehadiran Hugo. Kemudian akhirnya menoleh pada Hugo-nya sendiri.

"Kenapa kau tidak bersama teman-teman Gryffindor-mu saja?" kata Albus.

Hugo langsung memelas. "Aku bosan bersama teman Gryffindorku terus. Aku ingin bermain dengan kalian juga. Ayolah, Al. Ijinkan aku berada di sini, sekali saja. Saudara macam apa kalian berdua yang tega mengusir saudaranya sendiri?"

"Yeah, saudara macam apa kalian tega mengusir saudara kalian sendiri?" Cassie tiba-tiba bersuara. Belle, Zafira dan Albus langsung menoleh pada Cassie dengan kening berkerut. Sementara Hugo langsung tersenyum sumringah mendengar pembelaan yang dilontarkan Cassie yang sudah lama ia kagumi itu. "Kita seharusnya memberi Weasley yang satu ini kesempatan."

"Apa itu juga berarti kau ingin memberi Hugo kesempatan untuk menjadi kekasihmu?" Zafira bertanya dengan senyum miringnya. Cassie langsung mendelik pada gadis itu.

"Tidak, maksudku adalah kita harus memberi kesempatan pada Weasley untuk membuktikan kalau dia cocok untuk berada diantara kita." Cassie menoleh kembali pada Hugo yang menatapnya seakan dia adalah malaikat penolongnya. Cassie tersenyum miring pada bocah itu. "Yang artinya, dia harus bisa membuktikan kalau dia cocok menjadi Slytherin."

"Tentu saja aku bisa membuktikannya," seru Hugo, tampak bersemangat. "Aku selalu merasa kalau aku sebenarnya lebih cocok di Slytherin dari pada Gryffindor." Belle menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan saudara kembarnya itu.

"Baiklah, begini saja. Kau tahu kalau para Slytherin selalu mendapatkan apapun yang kami mau kan? Sekarang ini kami sedang butuh jubah gaib. Dan kalau kau berhasil mendapatkannya tanpa ketahuan, itu berarti apa yang kau katakan memang benar. Dan kami akan dengan senang hati menerimamu."

"Bukankah Albus memilikinya?" tanya Hugo tak mengerti.

Albus menggeleng. "James merebutnya kembali setelah aku memberinya bubuk gatal." Dan kemudian Albus tertawa geli mengingat kejadian itu.

Cassie ikut tertawa dan menatap Albus dengan bangga. "I've taught you so well."

"Jadi aku hanya harus merebutnya kembali dari James? Dengan cara apapun? Tanpa ketahuan?" Hugo menyimpulkan. Yang langsung dijawab oleh anggukan santai Cassie. "Baiklah. Itu pasti mudah." Dan Cassie langsung menutup serta mengunci pintu kompartemen mereka setelah Hugo pergi.

"Aku tak mengerti. Kukira kau yang paling terganggu dengan kehadiran Hugo diantara kami," kata Belle yang sudah duduk kembali di samping Zafira.

"Santai, Belle. Tak mungkin kembaranmu akan semudah itu melakukannya. Dia bukan Slytherin." Cassie kembali duduk di sebelah Albus. "Dan lagipula, kita tidak boleh terlalu terlihat jelas mengusir seseorang terkadang. Mereka akan pergi sendiri nantinya," katanya sambil menatap Belle dan Zafira bergantian. Cassie menoleh kembali pada Albus. "Ngomong-ngomong aku lapar. Al, bisa carikan aku makanan?"

[3] Our FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang