Ketiga bersaudara itu memandang botol ramuan bening didepan mereka dengan tatapan yang berbeda. Yang paling tua memandangnya dengan tatapan penasaran sedangkan yang paling muda memandangnya dengan ekspresi berpikir. Dan satu-satunya perempuan diantara mereka hanya menatap bosan botol itu.
"Kurasa aku mengerti sekarang." kata yang paling mudaㅡOrion. Dua kakaknya langsung mengeluarkan lenguhan lega mendengar hal itu.
"Ugh, finally. I'm already getting tired now." gerutu Cassie. Gadis itu mengubah posisinya yang tadinya menopang kepalanya dengan tangan diatas meja menjadi menyender pada kursi.
"Kau tak melakukan apapun selain menatapi botol itu sejak tadi dan kau bilang kau sudah lelah." Scorpius berkata dengan nada mengejek.
Cassie menyipitkan matanya, "Menatap itu kata kerja. Itu artinya aku sudah bekerja sejak tadi. Benar kan, adik kecil?"
Orion yang ditanyai hanya memutar bola matanya.
"You asking your little brother about something that you should know better than him? How smart." balas Scorpius sakras.
"Kau dapat P di Herbologi. Kau pikir seberapa pintar dirimu, huh?"
"Kau dapat T di Sejarah Sihir dan kau masih berani menungkit nilai orang lain?"
"Kalian mau tahu cara kerja botol memori atau tidak?" Orion menengahi. Dia sudah cukup jengah melihat perdebatan dua orang yang lebih cocok menjadi adiknya ketimbang kakaknya itu.
Bukannya menjawab, baik Scorpius maupun Cassie malah membuang muka.
Orion menghela napas, "Pernah dengar soal Pensieve?" Scorpius dan Cassie sama-sama menggeleng pelan. "Itu sebuah alat untuk melihat ingatan seseorang dari memori yang mereka awetkan seperti yang ada dibotol ini." Orion mengangkat botol pemberian ibunya. "Bentuk alatnya seperti baskom logam. Dan kita hanya perlu menuangkan ini lalu kita bisa melihat semua memori yang tersimpan didalamnya. Seperti saat kita menonton sebuah film 3D."
"Darimana kau tahu soal itu?" tanya Scorpius. Dia memang tidak memiliki kegemaran membaca seperti Orion, tapi dia tidak ingat jika ada buku kelas satu-nya yang mengungkit soal Pensieve itu.
"Di buku Sejarah Sihir. Kepala Sekolah Hogwarts tepat sebelum Profesor McGonagall diyakini adalah seorang Pelahap Maut. Tapi ternyata dia hanya mata-mata dari pihak Orde. Dan itu terungkap melalui Pensieve."
Cassie menggerutu, "Great, buku dan sejarah. Dua hal yang paling kubenci."
"Kau tahu dimana Pensieve itu berada?" Scorpius bertanya lagi, mengabaikan gerutuan Cassie.
"Aku pernah melihatnya sekali di kantor Kepala Sekolah."
Scorpius menghela napas. "Bagus, sekarang kita tak akan pernah tahu memori yang ada didalam botol itu. Aku tak yakin Profesor McGonagall mau meminjamkan Pensieve hanya untuk alasan ingin melihat masa lalu orang tua kita dulu."
"Jadi kau hanya akan menyerah begitu saja?" tanya Cassie sambil menyipitkan matanya. Kakaknya adalah seorang Gryffindor yang seharusnya menyukai tantangan. Bukannya malah mudah menyerah begini. "Kita bisa menyelinap malam-malam ke kantor McGonagall saat semua orang sudah tidur kalau kalian mau."
"Kau gila? Tentu saja aku tidak mau."
"Sejak kapan kau peduli pada hal-hal seperti ini?"
Orion dan Scorpius berkata bergantian.
"Hanya jika gila yang kau maksudkan adalah super genius, aku akan menjawab iya." Cassie menjawab Orion terlebih dahulu dengan senyum sombongnya. Kemudian beralih pada Scorpius, "Sejak Zafira dan Belle bercerita tentang bagaimana orang tua mereka bisa bersama duluㅡdan mereka sempat menyinggung jika mom dan dad dulunya adalah musuh. Jadi aku penasaran bagaimana mereka bisa bersama jika memang benar mereka dulunya adalah musuh."

KAMU SEDANG MEMBACA
[3] Our Family
Fiksi PenggemarA Dramione fanfiction. Hanya cerita tentang anak-anak Draco dan Hermione (née Granger) Malfoy beserta teman-temannya. [Third story of Our Story and Our Love] Published at Mei 16th, 2017.