9

4.6K 232 4
                                        

"Kak farel... kak farell, semangat kak. Kanan, oper ke kak revan kak. GOLLLLL." Teriak heboh letta yang sedang menonton futsal itu.

Farel menggelengkan kepalanya mendengar teriakan itu.

"Heh, berisik tau gak lo." Ucap cewek yang ada di sebelahnya.

"Hehe maaf kak, letta terlalu semangat." Akhirnya letta duduk. Lalu cewek itu hanya menganggukan kepalanya.

"Kak farel, ayo masukin lagi bolanya." Setengah teriak letta. Cewek itu menghembuskan nafasnya kasar.

"Siapa nya farel sih lo? Heboh amat. Diem bisa ga sih?" Ketus cewek itu lalu pergi meninggalkan tempat duduknya.

"Yee, kalau gasuka berisik. Mendingan gausah nonton kan ya." Ucap letta dan dia kembali menyemangati farel.

Prittt...prittt

Pertandingan pun selesai dan tentunya di menangkan oleh tim farel dkk. Farel pun mendahului meninggalkan lapangan.

"Selamat kak farel, kakak hebat deh. Mau minum?" Letta menyerahkan botol minum ke farel.

Farel menatap botol itu sebentar. Lalu ia menggeleng.

"Gue bawa." Ia meminum botol yang ada di dalam tasnya. Letta tersenyum getir tetapi ia tidak menunjukkannya ke farel.

"Yaudah aku yang minum."

"Kakak keren main futsalnya, di ajarin siapa?" Tanya letta yang duduk di samping farel.

"Pelatih." Singkat farel yang sedang mengelap keringatnya.

Letta mengerucutkan bibirnya," kok gitu sih jawabnya."

"Yaiyalah pelatih, gimana sih lo." Kekeh farel. Letta tersenyum melihat tawa kecil yang farel berikan. Setidaknya farel mulai berubah tidak sejutek dulu kepadanya.

"Kak nonton yuk. Filmnya lagi bagus loh." Ajak letta.

"Gak, gue capek." Lalu farel meninggalkan letta dan pergi menyusul temannya.

Letta kembali murung. Segitu menyedihkannya hidup letta, dia bahkan tidak memiliki teman. Hanya farel cs lah temannya, itupun mungkin mereka terpaksa. Kadang letta berfikir, apa gunanya hidup kalau dia tidak tau harus berbuat apa lagi agar mereka yang menyakitinya. Dapat kembali lagi percaya kepadanya?

Letta kemudian mengambil tasnya dan berdiri meninggalkan lapangan futsal.

Ia berjalan kaki menuju taman kota. Mungkin disana ia akan menemukan kenyamanan. Dan duduk di bangku yang kosong.

Dia melihat sekitar banyak sekumpulan keluarga yang sedang bercanda ria di hadapannya. Ia kembali teringat masa kecilnya, mungkin 6 tahun yang lalu. Tepat ia berusia 9 tahun. Ia menatap ke depan, di situ tempat keluarga nya berkumpul di hari libur.

Flashback on

"Kak renald lempar bolanya kesini." Teriak letta kecil.

"Tangkap ya."

Renald pun melemparkannya tetapi sebelum mencapai ke letta. Ada anak lelaki yang merebutnya.

"Yee, aldo yang menang. Hahaha" tawa bocah kecil yang bernama aldo itu.

Letta yang hendak menangis karena di jaili oleh kakak keduanya itu pun langsung menghampiri renald.

"Kak renald, kak aldo nakal sama letta." Adu letta.

Aldo hanya tertawa, " aldo balikin sini, kamu gaboleh nakalin letta. Dia adik kamu."

"Iya kak renald, aldo bercanda. Nihh letta sini peluk kakak." Aldo merentangkan kedua tangannya. Akhirnya letta menghampirinya dan memeluknya.

"Maafin kakak ya" letta hanya mengangguk mengiyakan. Renald tersenyum melihat itu.

"Anak-anak ayo sini makan. Makananya udah mama siapin ini." Teriak wanita yang tak lagi adalah mamanya.

Mereka menghabiskan waktunya dengan tawa riang dan keceriaan letta yang selalu menghibur keluarga kecil itu.

Flashback off

Letta menitikan air matanya, bibirnya bergetar. Ia merindukan keluarganya. Andai waktu bisa di putar kembali, ia memilih menjadi anak kecil lagi tanpa mengerti ada masalah yang ada di hidupnya.

Sungguh ini berat bagi letta. Di saat ia baru tumbuh menjadi seorang remaja. Beribu-ibu beban masalah menhampirinya.

"Kak aldo, kapan kakak jailin letta lagi? Letta kangen kak. Apa kakak gak kangen letta?" Lirih letta yang menahan tangisnya.

Tiba-tiba ada sebuah tisu berada di depan wajahnya. Lalu letta menghapus air matanya, ia menoleh ke atas.

"Ambil." Titah lelaki itu.

"Ngapain kesini kak? Letta gabutuh tisu kok." Ucap letta yang berusaha menahan sesak di dadanya.

"Lo nangis dan butuh tisu ini." Farel mengambil duduk di samping letta.

Letta menggelengkan kepalanya, dia menunduk.

"Kenapa nangis?" Tanya farel.

"Letta gak nangis." Ucap letta dengan suara bergetar.

"Gue lihat sendiri. Lo bisa cerita ke gue." Farel menarik dagu letta ke atas.

Letta menatap buram wajah farel karena air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Ia terisak, menunduk.

Farel meraih tubuh letta ke dekapannya.

"Nangis sepuas lo." Tangan farel mengelus punggung letta secara perlahan, sehingga membuat letta semakin sesak.

5 menit letta menangis di dekapan farel. Lalu ia melepaskannya.

"Nih, butuhkan lo." Farel memberinya selembar tisu. Letta menerimanya dan menghapuskan jejak airmatanya. Lalu ia menghembuskan nafasnya perlahan.

"Ngapain kakak disini?" Tanya letta pelan.

"Ngapain lo disini? Nangis lagi." Tanya balik farel.

"Kok kakak tanya balik sih."

"Tadi pamit sama temen, katanya lo mau nonton, taunya lo malah kabur kesini." Ucap farel.

Letta menatap wajah farel, "Katanya capek. Yaudah letta kesini."

Farel berdiri dan menarik tangan letta. Tetapi letta menahannya.

"Mau kemana kak?" Tanya letta.

"Katanya nonton?" Ucap farel. Letta tersenyum, melepaskan tanganya dari farel.

"Letta mau disini aja kak." Farel akhirnya kembali duduk di samping letta.

"Kak." Panggil letta. Farel menoleh ke arah letta. Letta menatap ke atas awan yang sedikit mendung.

"Apakah nanti hidup letta berakhir dengan kebahagiaan ataukah penderitaan? Apakah hidup letta akan terus seperti ini kak?" Lalu letta menoleh ke arah farel. Menatap mata tajam farel.

"Letta capek kak."



Im come back. Jangan lupa comment ya. Butuh komen dari kalian 😘❤. Terima kasih

I Hate You but I Love You (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang