11

4.7K 249 1
                                        

"Letta." Panggil seseorang. Saat letta akan memasuki sekolahnya.

"Kak Gino. Kenapa kak?" Tanya letta sambil memegangi tasnya.

"Mmm... lo nanti ke kantin sma?"

Letta nampak berfikir.

"Kayaknya iya kak, emang ada apa kak?" Letta mengerutkan keningnya.

"Gapapa. Yaudah, gih masuk." Gino melambaikan tangannya. Letta membalasnya dan saat berbalik.

"Kak gino, orang itu kenapa ya?" Letta mengendikan bahu, lalu mempercepat langkahnya. Karena sebentar lagi bel masuk.

Ia masuk ke dalam kelasnya. Dan berjalan ke bangkunya, di belakang pojok dan tentunya sendiri. Entah, mengapa semua orang membenci dirinya. Ia berharap akan segera mendapat teman yang cocok untuknya, ya cuma mengharap yang bisa di lakukan oleh letta.

Dia mengeluarkan bukunya saat guru mulai masuk ke dalam kelas. Ia menatap ke depan kelas, siapa dia? Anak baru? Apa doanya barusan di kabulkan? Apakah dia akan mendapat teman baru? Letta tersenyum senang.

"Pagi anak-anak perkenalkan ini Anna, pindahan dari Bandung. Silahkan perkenalkan diri kamu."

Anna nampak gugup, ia sangat tidak nyaman di tatap begitu. Dia menundukan kepalanya.

"H-hai saya Anna Lestari dari bandung. Semoga k-kita bisa berteman dengan baik." Gagap anna.

"Oke anna, kamu bisa duduk di samping letta. Letta angkat tanganmu."

Letta dengan semangat mengangkat tangannya. Lalu Anna berjalan ke meja letta. Namun kaki anna tersandung sesuatu.

"Awww." Pekik anna. Ia di tertawai satu kelas.

"Makannya punya mata di pake dong." Ucap siska yang sengaja menaruh kakinya di samping meja saat anna berjalan.

"Sudah.. sudah, ayo kita mulai pelajarannya."

"Hai anna." Sapa letta.

"Hai letta."

"Kamu mau kan jadi temanku?" Tanya letta dengan penuh harap.

"Tentu." Anna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Letta membalasnya. Mereka kembali fokus ke pelajaran.

Tetapi tidak dengan letta. Ia membuka buku lembaran diary nya. Buku yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Hanya dirinya yang tau, disana terdapat banyak sekali cerita yang telah ia tulis dalam 9 tahun setelah kejadian itu. Hari dimana, hidupnya berubah menjadi keruh.

Jakarta, 6 februari 2018.

Perkenalkan dia Anna Lestari, teman pertama ku di tahun 2018. Aku senang bertemu dengannya, meskipun penampilannya di temani oleh kaca mata besar dan tebal di kedua matanya, tapi aku suka sepertinya dia orang baik. Kesan pertama aku bertemu dengannya, mungkin kita akan menjadi teman yang cocok. Semoga....


Setelah selesai menulis di diarynya ia menutup buku itu dan kembali mendengarkan apa yang Pak Ahmad jelaskan di depan. Kedatangan Anna sangat berdampak bagi Letta, itu membuat mood nya kembali. Setelah pertengkaran tadi pagi dengan orang tuanya.

Bel berbunyi tanda waktu isitirahat.

"Mau ikut ke kantin?" Ajak letta.

"Boleh." Lalu mereka keluar kelas dan berjalan menuju kantin. Saat mereka berjalan di tengah keramaian, banyak sekali yang menatapnya remeh.

"Gausah di lihat, mereka emang gitu. Makannya aku gasuka bergaul sama mereka, lebih tepatnya sepertinya aku bukan tipe teman yang seperti mereka inginkan."

"Emang kamu seperti apa?" Tanya anna penasaran.

"Mmm... Kenapa kamu pindah ke Jakarta, bukannya di Bandung lebih enak?" Letta berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya.

Anna tersenyum, mungkin ini terlalu cepat baginya untuk tau segala sesuatu tentang teman barunya ini.

"Papa pindah kerja, jadi aku ikut. Iya sih, Bandung lebih enak. Anak-anaknya sopan-sopan, gakayak disini. Mereka terlalu sombong." Jawab Anna sambil melihat situasi yang ada di sekolah barunya.

"Aku juga dong? Apa aku terlihat sombong?" Canda Letta sambil berpura-pura menaikkan kepalanya dan melirik tajam anna.

"Hahaha... bisa aja. Aku bisa baca wajah kamu. Kamu orang baik, makannya aku mau jadi teman kamu." Kekeh anna.

"Tunggu letta, ini kan kawasan sma ngapain kita kesini?" Tanya anna

"Kamu tau, disini itu banyak cogan. Makannya aku lebih suka kesini. Udah ayo gapapa, sekalian cuci mata. Ntar aku kenalin sama Kak farel dkk. Mereka ganteng-ganteng loh."

Letta menarik tangan Anna ke sebuah kantin yang telah ramai oleh banyak orang.

Letta menengok kekanan dan kiri mencari keberadaannya.

"Nah itu dia. Ayoo."

"Letta." Sapa Gino.

"Hai kak gino, hai semuanya." Sapa letta.

"Hai letta."

"Eh kenalin kak, ini Anna temen baru aku. Bolehkan gabung disini?" Tanya letta.

Anna memperkenalkan dirinya satu persatu kepada mereka.

"Ya bolehlah, lo aja kesini terus kita gak masalah." Ucap Dimas.

Mereka menghabiskan waktunya dengan bercanda. Dengan candaan receh yang di buat oleh Letta. Kadang letta sambil memperagakan apa yang di ucapkannya, sehingga membuat mereka yang mendengarkan tertawa geli.

Hanya Farel yang tidak tertawa, karena ia hanya menatap wajah letta. Gadis itu tidak pernah menampakkan kesedihannya kepada orang lain. Sekuat itu Letta menjalani hidupnya. Farel tidak habis fikir, gadis sekecil itu menampung beban yang berat di masa remajanya. Mungkin jika farel jadi letta, ia akan menangis dan menyerah dalam menjalani hidupnya.

"Cantik." Tanpa sadar itu keluar dari bibir farel.

Seketika tawa yang tadi bergema menjadi sunyi.

"Haa.. siapa yang cantik, lo ngigo??" Tanya Revan.

Farel menggarik tengkuknya.

"Itu Mbak Wati cantik kalau lagi masak." Asal Farel.

"Lah gila lu ya.. kelamaan jomblo lu. Hahaa" ejek Gino sambil menoyor kepala Farel. Farel mendengus kesal, ia mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya.

"Emang ya nih mulut, kagak bisa liat situasi."

Letta tertawa mendengarkan ejekan Gino kepada Farel.

Tawa itu, aku akan berusaha menciptakannya dengan usaha ku sendiri. Mencoba membuatnya melupakan masalah berat di hidupnya. Ini bukan janji, tapi aku akan menepatinya. Batin farel.

Haii, selamat membaca. Semoga kalian suka, maaf cuma segini kemampuan aku nulis. Makasih yang buat dukung aku untuk ngelanjutin cerita ini. Jangan lupa komen ya, karena 1 komen buat aku semangat nulisnya. Makasihh ❤❤

I Hate You but I Love You (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang