Author Pov
Begitu sampai rumah sakit, Naomi segera di tangani. Boby membawa Naomi ke rumah sakit elit yang ada disana. Semua bertindak dengan cepat. Naomi segera di bawa ke ruang gawat darurat. Tak lama dokter mengatakan kalo harus ada penanganan lebih lanjut. Setelah menandatangi surat pernyataan yang di wakili oleh Boby, dokter pun segera mengambil tindakan.
Semua menunggu dengan khawatir. Ve nampak mendekap dirinya sendiri dan tak berhenti menangis. Shania dan Melody pun mendekati nya, berusaha untuk menguatkan sahabatnya itu.
Selang 45 menit, tampak Shani dan rombongan datang. Mereka langsung menanyakan kondisi Naomi. Shania berusaha menjelaskan semua yang terjadi hingga mereka mengerti.
"Shan, kamu uda hubungin ortunya Naomi?" Shani langsung menganggukkan kepala menjawab pertanyaan dari Shania
"Uda kak, mungkin sekarang uda otewe"
Shania pun mengangguk paham, karena dia mengerti ortu mana yang akan menunda2 kepergiannya ketika mendengar sang anak kritis. Meskipun tengah malam sekalipun mereka pasti akan langsung meluncur.
Setelah satu setengah jam berlalu. Dokter pun keluar dari ruang oprasi. Dia mengatakan kalo semuanya berjalan dengan baik. Tapi....
"Tapi pasien kehilangan banyak darah, kalo sampai siang nanti belum sadar juga, maka kemungkinan pasien akan mengalami koma, dan hal fatal lainnya bisa berujung pada kematian, semua tergantung semangat dari pasien sendiri" penjelasan dokter seakan menjadi tamparan keras bagi para sahabatnya. Mereka diam membeku. Berbeda dengan Ve, bukan lagi tamparan yang dia rasa, melainkan tancapan seribu panah tepat di jantungnya. Dia menatap kosong sekitarnya, dengan air mata yang terus mengalir di pipi nya.
Setelah kepergiannya sang dokter, tak lama Naomi di pindahkan ke ruangan lain. Semua menatap nanar ke arah Naomi. Terduduk lunglai lah mereka semua. Melody nampak menguatkan Lidya, dia tau gimana peran Naomi dalam kehidupan kekasihnya ini. Sedangkan Gre, dia duduk di sebelah Shani sambil terus menggemgam tangan perempuan itu. Gre tau, saat ini Shani sangat rapuh, tapi tetap berusaha tegar di hadapan semua.
"Ci..." Shani menoleh ke arah Gre, sambil mengisyaratkan ada apa
"Sini Gre peluk" Shani mengernyitkan dahinya, tapi dia menuruti apa yang Gre bilang, dia masuk dalam pelukan hangat itu, dan tak lama air mata pun membasahi pipi nya. Shani terus sesenggukan dalam pelukan gadis penyuka ungu itu.
Disisi lain tampak Ve masih menunduk, membenamkan kepala dikedua lututnya, dia terus menangis sedari tadi. Shania menghampiri nya.
"Ve..." merasa di panggil, Ve pun mengangkat wajahnya yang tampak lusuh
"Naomi pasti kuat, jadi kamu juga harus kuat" Ve langsung menghambur ke pelukan Shania, dia menangis disana.
"Aku takut Shan, aku gak mau Naomi kenapa napa" rancau Ve sambil terus menangis di pelukan Shania. Mendengar itu Shania pun mempererat pelukannya. Dia tau, sahabatnya kini dalam keadaan yang sangat buruk.
Ve Pov
Sekarang sudah jam 7 pagi. Kami masih tak beranjak dari luar kamar Naomi. Sesekali kami melihat keadaan Naomi dari luar. Namun masih tetap sama, tak ada pergerakan. Tapi beberapa menit lalu Boby, Dika, Shania ijin untuk membeli sarapan, tak lama di ikuti oleh MeLidz dan Gre. Sekarang tinggal aku berdua dengan Shani. Tak ada obrolan diantara kami. Aku ragu untuk mengajaknya ngobrol, karena takut di bersikap tak ramah padaku setelah apa yang terjadi. Akhirnya ku pilih tetap diam.
"Ve..." ku menoleh ke arah Shani yang memanggil ku, dan tumben dia hanya menyebut nama ku tanpa ada kata "kak". Tak masalah sebenarnya bagiku, tapi dengan seperti itu makin membuatku takut. Takut jika dia akan mengusirku karena telah menyebabkan Naomi seperti sekarang ini.
"Jangan melotot, emang gue hantu?" ujarnya lagi yang langsung membuat ku membenahi cara tatapan ke dia.
"A..ada..aa..apaa Shan?"
"Hhmm... Gak usah takut sama gue, udah jinak" Shani memutar bola matanya, aku sedikit lega mendengar itu
"Hmmm Ve.. Gue mau ngomong sesuatu ke lu" tampak wajah serius Shani
"Iya Shan, ngomong aja, tapi kalo kamu cuma mau ngomong untuk nyuruh aku pergi dari kehidupan Naomi, maaf aku gak bisa, karena kali ini aku gak akan ninggalin Naomi lagi" Shani tampak melotot mendengar jawaban ku, dan ku rasa dia tak menyangka aku akan bicara seperti itu
"Eh... Bukan itu maksud gue..." kini giliran aku yang dibuat tak percaya, aku malu
"Hmm... Pantes dari tadi lu kayak takut ke gue, pasti gara2 lu pikir gue bakal nyalahin lu atas yang menimpa Naomi?" aku pun mengangguk, terdengar Shani menghembuskan napas kasar, membuat ku semakin tak menentu
"Denger ya Ve, gue gak nyalahin lu, gue itu cuma mau ngomong, lu jangan nangis lagi, Naomi itu kuat, dia pasti bakalan sadar ntar lagi, jangan mikir macem2, kalo lu lemah, gimana bisa lu memberi kekuatan ke Naomi dalam keadaan seperti ini..." Shani nampak mengambil napas dalam "Lagi pula, Naomi gak suka kalo liat lu nangis, apalagi nangis gara2 melihat dia yang seperti itu" lanjut Shani sambil mengalihkan pandangannya ke kamar tempat Naomi berada. Lalu kembali menatap ku dengan pandangan sayu, dia memelukku.
Aku kaget, karena baru kali ini, mendapat perlakuan hangat dari Shani. Biasanya dia hanya cuek, datar, dan sedikit senyum, apalagi pas terakhir ketemu di pemakaman, dia sangat marah padaku saat memperlakukan Naomi dengan tidak baik. Tak terasa air mata ku kembali menetes saat mengingat semua perlakuan ku ke Naomi.
"Tuh kan, baru aja gue bilang yang kuat jangan nangis, eh malah mewek" ucap Shani sambil melepas pelukannya, aku hanya menunduk tak berani menatap Shani
"Kalo lu kagak kuat, Naomi bakal gue ambil alih sepenuhnya" langsung ku dongakkan kepala menghadap Shani, rasanya tak terima dia mengatakan akan mengambil alih Naomi
"Hahaha lu lucu, gak usah melotot, iya Naomi milik lu, tapi lu harus yang kuat" aku bener2 malu dibuatnya, tanpa kusadari kalo mata ku melotot tadi pas dengar ucapan Shani
Akhirnya kami berdua ngobrol, Shani bercerita beberapa hal tentang Naomi. Aku bener2 gak tau apa2 soal Naomi jika dibandingkan Shani. Sesekali cerita Shani membuat ku tersenyum simpul. Naomi pribadi yang sangat istimewa. Tak heran jika banyak orang yang tergila2 kepadanya. Bodohnya aku, yang mengedepankan ego dan gengsi dalam menghadapinya.
Saat aku dan Shani masih mengobrol, terlihat rombongan yang tadi ijin beli sarapan datang. Tapi di belakang mereka tampak ada beberapa orang lagi.
"Om, tante" sapa Shani ketika melihat dua orang yang sudah berumur, ku coba menerka2 mereka ortu Naomi. Setelah itu mereka langsung masuk ke kamar Naomi di temani oleh seorang dokter. Ku lihat wanita separuh baya itu menangis sambil menggemgam tangan Naomi, dan sesekali mengusap pipinya. Tak berselang lama mereka berdua pun keluar dari kamar.
"Shani, Lidya dan Ve, ikut saya, ada yang mau saya bicarakan" aku terkejut ketika lelaki paruh baya itu memanggil nama ku, dari mana dia tau. Dengan harap2 cemas ku ikuti langkah mereka. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah ruangan dekat taman rumah sakit. Lelaki paruh baya itu pun masuk yang kemudian diikuti kami semua. Betapa kaget nya aku saat berada di dalam ruangan itu.
"Mama... Papa... Mama Dena... Eve..."
Aku benar2 tak percaya dengan apa yang kulihat. Keluarga kumpul jadi satu. Ini apa? Apa maksudnya dengan kehadiran yang bikin aku tercekat tak bisa bicara. Tanpa pikir panjang lagi, ku menghambur ke mereka, ku peluk mereka erat.
"Tuhan, jika ini mimpi atau halusinasi biarkan aku menikmati nya sedikit lebih lama"
TBC
Akhirnya update 😂 memenuhi janji dan rasa kangen semua 😆😆
Betewe Dibikin sad ato happy ending ya 🤔🤔🤔
Happy reading

KAMU SEDANG MEMBACA
Apa Itu Cinta
General FictionCinta? Ntahlah.. Apa aku harus percaya akan cinta.. Bukan kah cinta itu hanya sebuah kalimat yang ada dalam ftv sinetron atau novel roman saja?