Ekonomi 19

1.3K 91 1
                                        

Mau tahu apa yang paling misterius di dunia ini?

Banyak.

Salah satunya, menjauh tanpa alasan.

Siapa?

Dia. Dia yang kemarin masih bersikap manis padaku. Dia yang mampu menerbangkan jiwaku sampai langit ke tujuh. Tapi dia juga yang menyesatkanku di planet Pluto yang dingin dan gelap.

Angga Gionardo.

Entah apa kesalahanku sampai dia berbuat seperti itu. Iya, sejak Senin itu, Angga menjauh. Menghindar. Hilang sapa. Lost contact.

Is that so misterious?

Aku juga merasakannya. Di sekolah, kalau berpapasan, dia cuma tersenyum sopan, seperti orang asing. Hei, what's wrong, huh?

Jujur, rasanya sesak sekali. Seminggu ujian ini aku merasa kosong. Hilang semangat. Seperti diberi harapan indah, dan saat kutahu bahwa harapan itu bukan untukku lagi.

Sering aku memperhatikan Angga di kejauhan. Dia...nampak baik-baik saja. Bercanda dengan banyak cewek. Tertawa bersama teman-temannya. Tak mempedulikan aku yang sesak.

Lalu seperti tahu keadaanku, teman-teman berusaha menghibur.

"Plis, Vita, lo jangan sedih terus. Soalnya langit malah ikutan sedih. Dan lo tahu, cucian emak gue jadi nggak kering-kering," celetuk Munir di hari terakhir UAS.

Aku melotot. "Kenapa lo nyalahin gue? Emangnya gue matahari? Wajar dong hujan terus, ini kan emang lagi musimnya dodol!"

"Alah gue nggak mau tahu, pokoknya kalo lo gini terus, kita bakal tendang lo sampe ke Arab."

Perkataan Munir kemudian disusul gelak tawa dari teman-teman. Gila kali ya?

"Lu kenapa sih? Gara-gara si anak sok cool itu ya?" cecar Wawan. "Ck, udahlah lupain, kan masih banyak cowok yang lebih cakep, kayak gue." Wawan menaik-turunkan alisnya sambil meletakkan ibu jari dan telunjuknya di dagu membentuk tanda centang.

Aku meringis. Sebenarnya siapa sih yang sok keren? Hadeuh pusing deh.

Kemudian Giya menepuk pundakku. "Santai aja, Vit, nggak usah lebay. Mending lo bangun deh. Kalau kata mbak Ahimsa Azaleav di quote-nya 'bangkit setelah patah hati itu adalah sebagian dari iman'," tuturnya sambil tersenyum ramah.

Giya benar. Aku harus bangkit!

Hari itu, ada sedikit kehangatan yang kurasakan. Bisa bercanda kembali dengan teman-teman. Aku jadi tidak merasa sepi lagi. Ternyata benar, mereka nggak seburuk yang dibayangkan. Ada kalanya kita butuh mereka di saat-saat seperti ini.

Bersama mereka, aku bisa perlahan melupakan rasa sakitku atas apa yang menimpaku. Aku mulai sadar, ini kesalahanku karena berharap terlalu tinggi pada seseorang yang bahkan tak peduli padaku.

Angga juga sepertinya bahagia dengan keadaan ini. Lantas, apa lagi yang harus kupikirkan?

Ohya, beberapa hari setelah ujian, aku juga mulai berbaikan dengan Kina. Kami kembali seperti biasaanya. Mengobrol dan bercanda lagi seperti dulu. Kina juga mungkin sudah perlahan melupakan Angga.

Intinya, kami membuka lembaran baru.

Satu lagi...

Akhir tahun ini kami akan Study Tour!

Ke Yogyakarta!

Ketemu Borobudur lagi!

Yooohoooo!!

📊

Kelas kami kebagian bus E. Wajarlah, urutan kelas kedua paling akhir. Ya sudah pasti kebagian di belakang. Ohya kelas XI.IPS 5 digabung dengan XI.IPS 6.

Kami berangkat petang hari sekitar jam setengah enam. Itu sebenarnya melebihi dari jadwal yang ditentukan. Harusnya jam empat sore. Dikarenakan hujan deras, akhirnya kami menunggu sampai reda.

Ada perbedaan yang mencolok antar cewek dan cowok. Gila! Kalau dilihat-lihat bawaan cewek empat kali lebih banyak dibandingkan cowok-cowok. Ringan banget kayaknya. Nggak kayak kita.

Tapi emang udah kodratnya kali ya, cewek ditakdirkan ribetnya minta ampun.

Di dalam bus, aku duduk di jajaran ke tiga. Sebangku dengan Lisa. Di depanku ada Helma sebangku dengan Arlina.

Suasana di bus lumayan ricuh karena ulah Munir, Wawan, Dodo, Andi, Gino dan lain-lain yang memalak cemilan dari setiap orang. Nggak ada kerjaan emang!

Kadang-kadang mereka juga main gitar sama nyanyi-nyanyi. Guru pembina kami cuma geleng-geleng kepala. Sesekali mereka juga tertawa. Cukup menyenangkanlah.

Apalagi guyonan Munir dan Gino yang bikin suasana perjalanan tuh nggak garing. Nggak bosen. Tapi asyik!

Aku menatap keluar jendela. Gerimis membasahi jalanan. Jujur, walaupun berusaha terlihat baik-baik, ada rasa di dalam hati yang tak bisa kuucap, namun sesak jika harus dipendam.

Aku benci perasaan ini!

Kenapa aku harus merindukan orang itu lagi?

Bahkan aku bertanya-tanya, sedang apa dia sekarang? Apa dia juga sedang tertawa riang sama teman-teman sebusnya? Apa dia sudah makan atau belum?

Sedetik aku tersadar. Aku siapa sampai harus mempedulikannya?

Menyedihkan.

*****

-Inayivsil
-31-03-2018

Realitas Anak IPSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang