Hari yang cerah seperti biasanya.
Cahaya matahari merembes masuk melalui sela gorden kamarku, cahayanya cukup untuk membangunkan ku tanpa alarm.
Aku beranjak keluar kamar dan menuju pantry, hariku akan lebih baik jika memulainya dengan segelas kopi, dan mungkin akan jauh lebih baik lagi dengan roti panggang juga sekalian.
Hp yang aku letakkan tepat di sebelah cangkir kopiku berbunyi. Aku sudah bisa menebaknya, siapa lagi kalau bukan Inguk, dia selalu saja merusak pagiku dengan telponnya yang kebanyakan hanya menanyakan, apa kau sudah bangun, apa aku sudah sarapan, apa aku sudah mandi, dan sebagainya, pengganggu yang menjengkelkan.
Pagi ini ku putuskan untuk mengabaikan telpon darinya, masih bagus nomernya tidak ku blokir, aku masih punya sedikit hati nurani untuk cecunguk itu walaupun dia sangat menggangu.
Aku baru menyelesaikan sarapanku tepat saat bel rumahku berbunyi. Siapa pula yang datang pagi-pagi begini. Biasa hanya pengantar koran, atau pengantar susu, atau mungkin Lina? Wanita tua yang tinggal di sebelah rumahku, yang setiap harinya hanya menggosipi ku dengan tetangga lainnya.
Berkat Lina hidupku agak lebih menyenangkan, bertengkar dengan wanita tua itu setiap harinya membuatku merasa tinggal sendirian di rumah tidak terlalu buruk, dia secara tidak langsung menjadi pengusir kesepian ku.
Apa yang sudah aku pikirkan, aku terdengar seperti sedang memuji seorang pria yang ku suka, astaga menjijikan.
Sebenarnya aku sudah memiliki orang yang ku sukai sejak sepuluh tahun yang lalu, dan pastinya itu bukan Lina si cerewet, aku masih cukup waras dengan menyukai seorang pria bukannya wanita.
Aku baru membukakan pintu dan Inguk langsung menghambur masuk, si gila ini belum cukup menggangguku di telpon, malah sekarang datang ke sini.
"Kenapa tidak mengangkat telpon ku?" Inguk melotot, dan aku juga balas melotot padanya, jangan heran, kami sering melakukan ini, dan siapa yang berkedip lebih dulu, dia yang kalah. Entah sejak kapan kami memulainya, kami yang tadinya ingin saling marah, malah tertawa setelahnya.
"Kedipkan matamu lebih dulu, mataku sudah perih" aku masih melotot, mataku benar-benar perih sekarang, kenapa Inguk sama sekali tidak ingin mengalah.
"Aku tidak akan mengalah padamu walaupun aku harus mati!!"
"Kalau begitu mati saja sana!" aku menghentaknya, tapi dia sama sekali tidak merespon kata-kata kasarku barusan.
"Baiklah aku yang kalah, aku akan mengangkat telponmu lain kali!" Akhirnya aku menyerah demi bisa berkedip, ternyata mengedipkan mata juga cukup penting untuk kelangsungan hidup.
Aku berjalan kembali ke pantry untuk membereskan sisa sarapanku, mencuci piring kotor dan paling tidak aku harus membuatkan Inguk kopi, tidak mungkin aku menyuguhi tamu dengan air putih, walaupun aku sebenarnya ingin sekali memberinya air dari keran wastafel.
"Ada perlu apa? Kenapa malah ke sini? Bukannya kau ada kelas pagi ini?"
"Mahasiswa teladan sepertiku tidak masalah kalau libur sekali-sekali, lagipula ini hari ulang tahunmu, aku punya kado istimewa"
Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang mahasiswa teladan.
Aku dan Inguk masuk kuliah di tahun yang sama dan sampai sekarang dia belum juga lulus, sedangkan aku sedang menyusun tesis untuk bisa lulus S2. Dia bahkan dapat ancaman kalau tidak lulus tahun ini dia akan di do. Apanya yang teladan, dia aib bagi universitas.
Astaga aku lupa dengan hari ulang tahunku, sebenarnya aku tidak terlalu perduli dengan hari ulang tahun. Kelahiran ku membawa kesialan untuk orang-orang di sekitarku, kalau bisa memilih aku lebih memilih untuk tidak lahir saja, lagipula selain mama, Inguk dan Baekho tidak ada lagi yang ingat hari ulang tahunku.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Mystery / ThrillerChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
