Apa aku sebagai wanita akan terima jika kekasihmu di katai om-om tua, huh aku tidak habis pikir, ada sisa orang bodoh yang di biarkan hidup di dunia ini.
Jonghyun memang sudah tua, aku mengakuinya, tapi tidak seharusnya dia mengatainya sekasar itu, dasar sialan.
Dari gaya berpakaiannya dia pasti pengangguran, atau dia hanya gembel yang tidak sengaja di temukan Jonghyun di jalan, Jonghyun memang sangat baik, bahkan pada sampah seperti itu.
Aku mengacungkan tanganku yang memegang pecahan kaca, awalnya dia sangat tidak sopan dan menantang ku, tapi sekarang dia malah berlarian keliling ruangan, diamana dia membuang keberaniannya yang tadi, bahkan menghadapi ku saja dia takut.
Kalau saja bukan karena Jonghyun, aku pasti sudah membunuhnya, akan ku sayat lehernya, organnya kan ku keluarkan dan akan ku jual pada Ronan, tubuhnya kan ku berikan pada anjing peliharaan Chaerin.
Huh aku jadi teringat Chaerin lagi, dia bukan hanya meninggalkan rumah jagal hewan dan anggota geng tololnya, tapi dia juga meninggalkan dua ekor anjing yang selalu kelaparan walau sudah di beri berkilo-kilo daging.
"Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya akan menusuknya sedikit untuk memberinya pelajaran" aku beralasan saat Jonghyun mulai memarahiku.
"Itu juga namanya percobaan pembunuhan, kau tidak boleh melakukan itu" Jonghyun mengomeli ku dan pria di sebelahku malah tersenyum melihatku yang tidak bisa berkutik.
Namanya Thomas, aku jadi teringat film kartun di minggu pagi tentang kereta api biru yang bisa bicara.
Aku menyikutnya, menyuruhnya untuk diam. Dasar brengsek.
"Aku bukan anak kecil, jangan mengomeliku" aku mendengus. Jonghyun tidak harus mengomeliku di depan si brengsek ini kan.
"Kalian bisa bertengkar tanpa aku" Thomas berdiri, baguslah kalau dia pergi.
"Mana uangku!"
"Kau memerasnya?!" Lagi-lagi emosiku terpancing.
"Itu uangku cewek brengsek!" Balas Thomas ikut emosi.
"Jangan berkelahi lagi!" Jonghyun berteriak kesal.
"Akan ku berikan malam ini, pergi sana"
"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah duka"
Thomas menghilang di balik pintu, tanpa menutupnya, dengan kesal Jonghyun berjalan menuju pintu menutup pintu itu sepelan mungkin, dia sedang menahan amarahnya.
"Kenapa kalian bertemu di rumah duka? Ada yang meninggal?" Tentu saja aku penasaran, siapa juga di dunia ini yang akan melakukan pertemuan di rumah duka.
"Dia bekerja di rumah duka milikku" Jonghyun menghempaskan tubuhnya duduk di sebelahku.
Di raihnya tanganku dan di obatinya tanganku yang terluka dengan telaten, bukan luka yang parah, biasanya aku cuma merendam tanganku dalam larutan antiseptik yang di campur air, lukanya biasanya sembuh sendiri tanpa perlu di obati.
"Kau punya rumah duka! Kenapa aku baru tahu?" Jonghyun meletakan kembali tanganku yang sudah selesai di obatinya.
Aku selalu mengikuti Jonghyun kemanapun dia pergi, tapi aku tidak tahu tentang rumah duka itu, aku gagal menjadi mata-mata andal.
"Bisnis turun temurun dari kakekku" ucap Jonghyun singkat, aku tidak ingin bertanya lebih lanjut, lagipula sepertinya bukan hal yang penting.
Aku memeluk Jonghyun dari samping, dan Jonghyun melingkarkan tangannya ke leherku. Rasanya nyaman bisa sepeti ini bersama Jonghyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Mystery / ThrillerChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
