02 (MINKI)

230 39 14
                                        

Tubuhku di penuhi darah segar, adrenalin ku terpacu, aku menggila, aku lupa kapan terakhir kali aku seperti ini.

Aku tersenyum senang, sambil menguliti cewek yang tergantung di hadapanku sedikit demi sedikit, dia berteriak kesakitan, tapi mendengar teriakannya semakin membuatku bersemangat. Tubuhnya yang kurus tak henti-hentinya menggeliat, dia persis seperti cacing, sangat lucu.

"Kulitmu sangat mulus, aku akan membuatnya lebih mulus lagi"

Aku menatap kulit yang sudah berhasil ku koyak dengan pisau. Bukannya menanggapi perkataan ku cewek itu malah semakin keras berteriak. Telingaku agak sakit karenanya.

"Sayang sekali kau tidak bisa memamerkan kulit cantikmu lagi"

Aku melempar sembarang kulit yang tadinya ku pegang.

"Kasihan kalau aku harus membunuhmu, kau harus tetap hidup untuk menebus semua dosamu"

Aku berfikir sejenak, apa yang harus aku lakukan pada cewek yang ada di hadapanku ini.

Aku ingat cewek ini, dia adalah senior tukang bully di kampus, bahkan ada junior yang nekat loncat dari lantai dua karena dirinya. Anggap saja di sini aku menggantikan para junior korban bulying itu untuk balas dendam.

Betapa baiknya aku.

Aku meletakan pisau yang ku pegang ke atas meja, dan mengambil pisau lain di sebelahnya yang lebih kecil, dan juga aku mengambil sendok.

Aku memanaskan sendok itu di atas lilin.

Inguk benar-benar memberikanku kado yang sangat bagus.

Aku punya ruang bawah tanah yang kedap suara, dia juga bahkan menyediakan berbagai macam pisau dan senjata lainnya.

Dan yang paling ku suka dari semuanya adalah, Inguk memberiku mainan yang menyenangkan sekaligus tiga, bukankah itu sangat bagus, dia sangat mengerti seleraku.

Aku sangat membenci hari ulang tahun, tapi kalau aku dapat kado seperti ini, aku ingin ulang tahun setiap hari.

Aku punya hobi aneh, entah sejak kapan aku senang sekali melihat darah, mendengar teriakannya kesakitan dan penyiksaan. Atau orang lebih sering menyebutnya psikopat.

Kedengarannya seperti aku ini orang jahat, ya bisa di bilang begitu, lagi pula aku tidak ingin jadi orang yang terlalu baik, biasanya orang baik selalu tersakiti pada akhirnya.

"Nah gadis manis saatnya membuatmu jauh lebih cantik dari sebelumnya, matamu terlalu sipit jadi aku akan melebarkannya" aku tersenyum menyeramkan, cewek yang tergantung itu berucap memohon ampun padaku, tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya.

Apa kau pernah melihat seorang singa melepaskan rusa yang akan di makannya?? Pastinya itu tidak mungkin.

Aku mengambil sendok yang tadinya ku panaskan di atas lilin lalu dengan cepat ku congkel mata cewek itu, membuatnya berteriak nyaring.

"Oppss maaf aku berniat melebarkan matamu sedikit, bukanya melepasnya, tapi karena sudah terlanjur, lebih baik ku lepas juga matamu yang satunya"

Aku tertawa lepas. Aku juga berfikir untuk mencabuti kukunya satu persatu, dan terakhir aku akan memotong jari-jarinya.

Baru membayangkannya saja aku sudah kegirangan, apalagi kalau ku lakukan langsung.

Baru saja aku ingin mencongkel mata kirinya, tapi aku melihat sesuatu yang aneh padanya. Dia tidak lagi berteriak, bahkan dia tidak menggeliat seperti cacing lagi. Aku mendekatinya perlahan, ku dengarkan detak jantungnya melambat, dan juga nafasnya pendek.

Dia sekarat, ini merusak kesenanganku, tidak ada sensasi apapun yang ku dapat jika menyiksa orang yang sekarat.

Ku rasa aku sudah agak keterlaluan, dia pasti kehilangan banyak darah, seharusnya aku menghindari bagian tubuh yang rentan, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak sengaja merusak mainanku yang berharga.

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang