Aku sedang berada di kamar mandi ketika seseorang dengan kasar mendobrak pintu rumahku.
Sudah lebih dari satu minggu sejak aku membunuh Matthew dan belasan anak buahnya, aku tidak merasa bersalah sedikitpun, dia pantas mati dengan cara mengenaskan sepeti itu.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Mama awalnya sangat kaget, tapi dia cukup pengertian, dia tidak marah padaku, dan malah marah lada dirinya sendiri.
Mama merasa bahwa sifatku yang mengerikan ini adalah akibat dari trauma yang aku alami saat menyaksikan ia membunuh ayah tiriku.
Aku agak sedikit kesulitan untuk menenangkan mama, tapi aku berjanji padanya untuk tidak melakukan pembunuhan lagi, walaupun mama ragu tapi ia mempercayaiku.
Aku juga memang tidak punya niat untuk membunuh lagi. Aku sudah berjanji pada Jonghyun. Matthew Gill adalah pengecualian, karena ia yang membuat masalah denganku terlebih dahulu.
Untuk menenangkan mama, aku mengirimnya unik liburan ke luar negeri, dan akan kembali di hari pernikahanku nantinya.
Jonghyun mengajakku tinggal bersamanya saat mama tidak ada, tapi aku menolak, aku ingin menikmati hidupku sendirian sebelum akhirnya menikah.
Dengan segera aku keluar dari kamar mandi dengan bathrobe menutupi tubuhku yang masih setengah kering.
"Kau gila!!!" Aku tidak bisa menahan emosiku saat melihat Baekho berdiri di depan pintu yang terlepas.
Aku sangat ingin mencaci makinya.
Kenapa dia sangat tidak sabaran, dan malah menghancurkan pintuku.
"Kau yang gila!! Jelaskan padaku!!"
Baekho melemparkan amplop coklat ke arahku, aku tidak berhasil menangkapnya dan amplop itu jatuh ke lantai, aku berjongkok perlahan untuk memungutnya.
"Apa ini?" Ucapku bingung, sambil membuka amplop itu dan melihat isinya.
Apa yang membuat Baekho datang ke sini dengan amarahnya, dia bukan orang yang mudah marah, apalagi denganku.
Bukan hal yang baik ternyata.
Dia dalam amplop itu terdapat fotoku yang duduk memegang kapak berlumuran darah di depan mayat Matthew, fotonya tidak terlalu jelas, tapi siapapun pasti akan berpikir kalau itu memang aku.
Bukan hanya itu, di dalam amplop juga ada hasil tes DNA, dari darah yang di temukan di pakaian Kulkyung, dan DNA pembandingnya adalah darahku.
Sepertinya aku melakukan kesalahan yang fatal, saat aku mendorong Kulkyung dari atas gedung tanganku memang terluka karena tergores paku pada pagar pembatas atap, tapi aku tidak menyangka mereka akan membandingkannya dengan DNA ku.
Dan sialnya lagi, bukan hanya itu, ada lima sampel yang di bandingkan dengan DNA ku, termasuk wanita yang kakinya ku potong. Dan hasilnya positif sama 99.99%, aku tidak bisa berkelit lagi.
Padahal aku sudah berhati-hati dan menghilangkan jejak, aku pasti banyak melakukan kesalahan karena aku sangat marah.
Dan lagi siapa yang memberikan foto ini pada Baekho, aku yakin pasti ada seseorang yang sengaja melakukan ini, aku sudah di jebak dari awal.
"Bisa tolong jelaskan!" Baekho berteriak tak terkendali, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menunduk lesu tidak berani menatap Baekho, dia sangat kecewa padaku pastinya.
"Tolong yakinkan aku bahwa ini bukan perbuatanmu!" Baekho mengguncangkan tubuhku.
Ini pertama kalinya aku melihat Baekho menitikkan air matanya, entah dia marah, atau sedih, yang pasti dia merasa sangat terhianati.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Mystery / ThrillerChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
